
JAKARTA, mulamula.id – Reputasi maskapai nasional kembali jadi sorotan. Maskapai penerbangan Garuda Indonesia kini tidak lagi menyandang rating bintang lima dari lembaga pemeringkat penerbangan global Skytrax. Statusnya turun menjadi bintang empat.
Penurunan ini memicu perhatian publik. Namun pemerintah meminta masyarakat tidak perlu panik.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menilai perubahan rating tersebut merupakan bagian dari evaluasi yang biasa terjadi di industri penerbangan global.
“Penilaian bisa naik dan turun. Mudah-mudahan Garuda bisa memperbaiki penilaian ke depannya,” kata Dudy dalam media briefing, Jumat (6/3).
Menurutnya, momentum ini justru bisa menjadi pemicu perbaikan layanan. Garuda diharapkan mampu mempertahankan standar pelayanan sekaligus melakukan pembaruan agar kembali meraih status bintang lima.
Standar Global Maskapai
Penilaian maskapai oleh Skytrax bukan sekadar soal kenyamanan kursi atau makanan di pesawat. Sistem rating ini menilai pengalaman penumpang secara menyeluruh.
Mulai dari kualitas fasilitas di bandara, layanan di kabin, hingga interaksi penumpang dengan staf darat dan awak kabin.
Dalam sistem ini, maskapai bintang empat tetap berada dalam kategori layanan premium. Namun, status bintang lima diberikan hanya kepada maskapai yang dinilai konsisten menghadirkan pengalaman penerbangan kelas dunia.
Baca juga: Setelah Dipangkas, Citilink Pulihkan Bagasi 15 Kg untuk Penerbangan Domestik
Selama bertahun-tahun, Garuda Indonesia menjadi salah satu maskapai yang berhasil mempertahankan status tersebut.
Fasilitas Dinilai Mulai Usang
Dalam laporan resminya, Skytrax menjelaskan bahwa penurunan rating Garuda terutama dipicu oleh kondisi produk layanan yang dianggap mulai tertinggal.
Beberapa fasilitas di pesawat maupun di area layanan bandara dinilai membutuhkan pembaruan.
“Banyak fasilitas di dalam pesawat dan fasilitas darat di Jakarta dan Denpasar yang kini sudah sangat usang dan memerlukan modernisasi,” tulis Skytrax dalam keterangannya.
Skytrax menyebut kualitas pelayanan staf Garuda sebenarnya masih dinilai baik. Namun, standar produk yang menurun dalam beberapa tahun terakhir membuat maskapai ini tidak lagi memenuhi syarat untuk mempertahankan rating bintang lima.
Industri yang Bertumpu pada Layanan
Industri penerbangan global tidak hanya bergantung pada teknologi pesawat. Pengalaman penumpang menjadi faktor utama yang menentukan reputasi maskapai.
Mulai dari kenyamanan kursi, kualitas makanan, kebersihan kabin, hingga sistem hiburan dalam pesawat atau in-flight entertainment (IFE).
Baca juga: NASA Investasi 11,5 Juta Dolar AS Demi Penerbangan tanpa Emisi
Bagi maskapai full service seperti Garuda Indonesia, aspek-aspek tersebut menjadi identitas layanan yang membedakannya dari maskapai berbiaya rendah.
Karena itu, modernisasi armada dan fasilitas darat menjadi langkah penting jika ingin kembali bersaing di level premium.
Momentum untuk Bangkit
Bagi Garuda Indonesia, perubahan rating ini bisa dibaca sebagai peringatan sekaligus peluang.
Industri penerbangan global sedang berubah cepat. Banyak maskapai melakukan investasi besar pada kabin baru, teknologi hiburan digital, hingga pengalaman bandara yang lebih modern.
Jika pembaruan layanan dilakukan secara serius, bukan tidak mungkin Garuda kembali merebut status bintang lima di masa depan.
Baca juga: Jejak Emisi Kelas Atas: Ironi Private Jet dan Beban Lingkungan
Bagi penumpang Indonesia, reputasi maskapai nasional ini tetap menjadi simbol kebanggaan di langit internasional.
Dan bagi Garuda sendiri, penurunan rating mungkin justru menjadi dorongan untuk kembali terbang lebih tinggi. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.