
JAKARTA, mulamula.id – Tidak semua tekanan kerja datang dari target atau deadline. Dalam banyak kasus, sumber stres justru datang dari atasan sendiri.
Fenomena ini bukan hal sepele. Studi dari Pew Research Center menunjukkan bahwa atasan yang buruk menjadi salah satu alasan utama karyawan memilih resign. Artinya, hubungan kerja yang tidak sehat bisa berdampak langsung pada keputusan besar dalam karier.
Salah satu tanda paling mudah dikenali? Kalimat yang diucapkan setiap hari.
Ucapan sederhana bisa mencerminkan pola kepemimpinan. Bahkan, bisa menjadi sinyal apakah lingkungan kerja masih sehat atau justru mulai toksik.
Tanpa Arah, Tanpa Dukungan
“Cari solusinya sendiri.”
Kalimat ini sering terdengar tegas. Tapi dalam konteks tertentu, itu bisa menjadi bentuk lepas tanggung jawab.
Karyawan memang dituntut mandiri. Namun, peran pemimpin tetap penting sebagai pemberi arah. Ketika atasan memilih tidak terlibat sama sekali, karyawan justru kehilangan rasa aman.
Alih-alih membangun kepercayaan diri, kalimat ini bisa membuat karyawan merasa sendirian.
Ide Baru Dipatahkan
“Kami belum pernah melakukan cara itu.”
Sekilas terdengar realistis. Tapi jika terus diulang, kalimat ini bisa mematikan kreativitas.
Baca juga: Masih Bertahan di Kantor tapi Hati Sudah Pergi? Waspada Fenomena Job Hugging
Pemimpin seharusnya membuka ruang eksplorasi. Menutup ide hanya karena belum pernah dicoba justru mempersempit peluang inovasi.
Menurut Stanford Social Innovation Review, pemimpin yang sukses biasanya terbuka pada perubahan dan mendorong eksperimen. Tanpa itu, organisasi bisa tertinggal.
Menyalahkan Emosi
“Kamu terlalu sensitif.”
Kalimat ini sering muncul saat atasan tidak mau mengakui kesalahan.
Alih-alih mengevaluasi diri, tanggung jawab dialihkan ke karyawan. Dampaknya jelas. Karyawan merasa tidak didengar dan kehilangan kepercayaan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu stres hingga kelelahan emosional.
Empati yang Hilang
“Ini sepertinya masalahmu.”
Kalimat ini menandakan jarak. Bukan hanya secara profesional, tapi juga secara manusiawi.
Memang, tidak semua masalah harus ditanggung bersama. Namun, pemimpin tetap perlu menunjukkan empati, terutama saat karyawan menghadapi situasi sulit.
Baca juga: Memanusiakan Manusia, Cara Wulan Tilaar Menjalankan Kepemimpinan
Ketika empati hilang, hubungan kerja berubah menjadi sekadar formalitas.
Lebih dari Sekadar Kata
Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar biasa. Tapi jika terus berulang, dampaknya bisa besar.
Budaya kerja terbentuk dari kebiasaan kecil. Termasuk cara berbicara. Pemimpin yang baik bukan hanya memberi instruksi, tetapi juga membangun rasa aman dan kepercayaan.
Baca juga: 5 Tanda Kamu Punya Potensi Jadi Pemimpin Hebat, Sudah Kelihatan dari Sekarang?
Lingkungan kerja yang sehat tidak selalu bebas tekanan. Tapi setidaknya, ada dukungan dan ruang untuk berkembang.
Pertanyaannya, apakah tempat kerjamu sudah mencerminkan itu? ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.