Listrik 511 MVA untuk Data Center Batam, Indonesia Mulai Masuk Peta Digital Asia

Pemandangan Batam dari udara. Kawasan ini kini menjadi salah satu titik strategis pengembangan data center dan infrastruktur digital di Asia Tenggara. Foto: Joan Germaine/ Pexels.

BATAM, mulamula.id – Kebutuhan data yang terus melonjak mulai terasa dampaknya di satu hal paling dasar, listrik.

Di Batam, PT PLN (Persero) melalui PLN Batam resmi menyuplai listrik hingga 511 MVA untuk proyek data center global milik PT Digitalland Service One (DayOne). Angka ini jadi salah satu yang terbesar untuk pusat data di Indonesia saat ini.

Ini bukan sekadar proyek teknologi. Ini soal siapa yang siap menopang ekonomi digital.

Listrik Jadi Kunci

Data center bekerja tanpa henti. Server harus hidup 24 jam. Sedikit gangguan saja bisa berdampak besar.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebut listrik kini jadi fondasi utama pertumbuhan industri. Tanpa pasokan yang stabil, layanan digital bisa langsung terganggu.

Baca juga: AI Nggak Cuma Pintar, tapi Rakus Energi

PLN Batam mengklaim sistem mereka siap. Pasokan cukup. Keandalan dijaga. Ini jadi syarat utama untuk menarik pemain global.

Batam Makin Dilirik

Masuknya DayOne memperkuat posisi Batam sebagai kandidat hub digital di kawasan.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menilai kombinasi lahan industri, energi, dan kemudahan perizinan membuat Batam makin kompetitif.

Baca juga: Di Balik Kecerdasan AI, Ada Listrik dan Air yang Terus Terkuras

Di sisi investor, CEO DayOne, Jamie Khoo, melihat Batam sebagai bagian dari strategi regional. Perusahaan sedang membangun jaringan data center lintas negara di Asia Tenggara, menghubungkan Singapura, Johor, dan Riau dalam satu sistem.

Artinya, Batam tidak berdiri sendiri. Batam masuk dalam rantai infrastruktur digital kawasan.

Penandatanganan kerja sama penyediaan listrik antara PLN Batam dan DayOne untuk proyek data center berkapasitas 511 MVA di Batam. Proyek ini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Foto: PLN.
Persaingan Baru

Permintaan data di Asia Pasifik terus naik. AI, cloud, sampai layanan streaming mendorong kebutuhan server dalam skala besar.

Di titik ini, persaingan tidak lagi soal upah murah atau pajak rendah. Yang dicari adalah listrik yang stabil dan cukup.

Baca juga: AI Sudah Dipakai di Layanan Publik, Hukum Kita Siap?

Indonesia mulai masuk ke arena ini. Tapi, ada catatan. Data center butuh energi besar. Tanpa perencanaan jangka panjang, termasuk energi bersih, tekanan ke sistem listrik bisa meningkat.

Efek ke Ekonomi

Proyek seperti ini biasanya tidak berdiri sendiri. Ada efek berantai.

Investasi masuk. Aktivitas industri bergerak. Lapangan kerja terbuka.

PLN menyebutnya sebagai multiplier effect. Satu proyek bisa memicu pertumbuhan di sektor lain.

Tapi pertanyaan besarnya masih sama, apakah Indonesia hanya jadi “tempat server”, atau ikut naik kelas dalam ekonomi digital? ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *