Pakan Ikan Bisa Lepas dari Impor? BRIN Uji Solusi dari Kecipir

Budidaya ikan air tawar masih sangat bergantung pada pakan berbahan impor. Riset BRIN mulai membuka alternatif dari sumber lokal seperti kecipir. Foto:  Mahmudul Hasan/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id Ketergantungan Indonesia pada bahan baku impor untuk pakan ikan masih jadi persoalan lama yang belum sepenuhnya terpecahkan. Bungkil kedelai, sebagai komponen utama, masih mendominasi. Padahal, harganya sangat dipengaruhi pasar global. Saat rantai pasok terganggu, biaya produksi budidaya ikan ikut melonjak.

Di tengah tekanan ini, inovasi jadi jalan keluar. Salah satunya datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang mulai mengembangkan pakan berbasis bahan lokal.

Fokusnya jatuh pada satu tanaman yang selama ini kerap luput dari perhatian, kecipir.

Potensi yang Terabaikan

Kecipir dikenal luas di kawasan tropis, termasuk Indonesia. Tanaman legum ini punya kandungan protein tinggi dan profil asam amino yang cukup lengkap. Hampir seluruh bagian tanaman bisa dimanfaatkan, membuatnya bernilai ekonomi.

Peneliti BRIN, Deisi Heptarina, melihat peluang itu. Ia bersama tim mengolah biji kecipir menjadi bahan baku pakan untuk ikan gurami (Osphronemus goramy).

Baca juga: BRIN Ungkap Hubungan Iklim dan Tuberkulosis

Menurutnya, kecipir bukan sekadar alternatif. Sebaliknya, punya potensi nyata untuk menggantikan sebagian bahan impor, terutama jika diolah dengan tepat.

Dari Laboratorium ke Kolam

Untuk memastikan efektivitasnya, tim melakukan uji coba selama 60 hari pada benih gurami dalam sistem pemeliharaan terkontrol. Mereka tidak hanya menguji satu jenis bahan, tetapi membandingkan tiga pendekatan berbeda, mulai dari tepung kecipir tanpa pengolahan hingga versi yang diproses lebih lanjut.

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang jelas. Tepung kecipir rendah lemak yang diperkaya enzim non-starch polysaccharide (NSP) tampil paling unggul.

Nutrisi Lebih Terserap

Dalam formulasi ini, ikan mampu mencerna protein hingga 70,01% dan energi sebesar 72,64%. Angka ini menunjukkan bahwa nutrien dalam pakan benar-benar dimanfaatkan, bukan sekadar masuk lalu terbuang.

Dampaknya terlihat pada pertumbuhan. Ikan gurami mencatat laju pertumbuhan spesifik hampir 2% per hari, dengan rasio konversi pakan 1,67, indikator bahwa pakan digunakan secara efisien.

Baca juga: AI Mulai Dipakai Pantau Abrasi Pantura, Akurasinya Tembus 92%

Lebih jauh, retensi protein dan lemak juga tinggi. Artinya, nutrisi tidak hanya dicerna, tetapi juga disimpan dan dimanfaatkan untuk pertumbuhan tubuh ikan.

Rangkaian riset BRIN menunjukkan proses pengolahan kecipir hingga dampaknya pada sistem pencernaan ikan, termasuk peningkatan kecernaan nutrisi. Foto: BRIN.
Enzim Jadi Pembeda

Performa ini tidak lepas dari peran enzim NSP. Enzim ini bekerja memecah serat dan senyawa kompleks yang biasanya sulit dicerna.

Dengan bantuan enzim, nutrisi menjadi lebih sederhana dan mudah diserap. Efeknya bukan hanya pada angka kecernaan, tetapi juga pada kesehatan ikan. Aktivitas enzim pencernaan meningkat, dan kondisi usus menunjukkan perbaikan.

Yang menarik, tingkat kelangsungan hidup ikan mencapai 100% di seluruh perlakuan. Ini memberi sinyal kuat bahwa pakan berbasis kecipir tidak hanya efektif, tetapi juga aman.

Menjinakkan Antinutrien

Tantangan utama kecipir sebenarnya ada pada kandungan zat antinutrien seperti tanin dan asam fitat. Senyawa ini bisa menghambat penyerapan nutrisi.

Baca juga: Ciremai Simpan Jejak Gempa 20 Ribu Tahun, Kuningan Pernah Bergeser

Namun, tim BRIN mengatasinya melalui serangkaian proses pengolahan. Mulai dari perendaman, pemanasan, hingga pengepresan minyak, lalu ditutup dengan penambahan enzim. Kombinasi ini terbukti mampu menekan kandungan zat pengganggu tersebut.

Lebih dari Sekadar Pakan

Inovasi ini bukan hanya soal mengganti bahan baku. Ini tentang mengubah struktur industri.

Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, biaya produksi bisa ditekan. Ketergantungan pada impor berkurang. Sektor akuakultur menjadi lebih tahan terhadap gejolak global.

Temuan ini juga dipublikasikan melalui laman resmi BRIN, yang menegaskan bahwa kecipir berpotensi menjadi bagian penting dari strategi pakan nasional ke depan.

Jika dikembangkan lebih luas, pendekatan ini bisa membuka jalan menuju industri perikanan yang lebih mandiri. Lebih efisien. Dan lebih berdaya saing. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *