
JAKARTA, mulamula.id – Perang melawan narkotika mulai masuk babak baru. Bukan lagi hanya mengandalkan patroli darat atau laporan warga. Kini, teknologi kecerdasan artifisial (AI), citra satelit, dan drone mulai dipakai untuk melacak keberadaan ladang ganja ilegal di wilayah terpencil Indonesia.
Kolaborasi ini dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Badan Narkotika Nasional sebagai bagian dari modernisasi sistem pemetaan dan deteksi narkotika berbasis teknologi.
Indonesia memang menghadapi tantangan geografis yang tidak sederhana. Banyak wilayah pegunungan, hutan, hingga area terpencil sulit dijangkau operasi konvensional. Di titik inilah teknologi mulai mengambil peran penting.
Mengutip laporan resmi BRIN, pendekatan baru tersebut menggabungkan penginderaan jauh, sistem informasi geografis, UAV atau pesawat nirawak, hingga AI untuk membaca pola lahan yang dicurigai sebagai area budidaya ganja ilegal.
Teknologi ini bekerja berlapis.
Baca juga: KUHAP Baru Batasi Penyadapan, BNN: Perang Narkotika Bisa Melemah
Tahap awal dimulai dari analisis citra satelit resolusi tinggi untuk membaca karakteristik vegetasi dan pola lahan tertentu. Setelah itu, drone diterbangkan untuk melakukan validasi langsung dari udara dan mengambil gambar detail area yang dianggap mencurigakan.
Data visual itu kemudian diproses menggunakan perangkat lunak fotogrametri dan kecerdasan artifisial untuk menghasilkan orthomosaic stitching, yaitu peta udara resolusi tinggi yang sudah terkoreksi secara geometris dan geografis.
Dengan sistem ini, aparat tidak lagi bergerak “buta” di lapangan.
Mereka bisa mengetahui titik prioritas, pola sebaran lahan, hingga estimasi area yang perlu ditindak lebih cepat dan presisi.
Ganja Masih Jadi Ancaman
Masalahnya memang belum kecil.
Berdasarkan Indonesia Drug Report 2025 yang diterbitkan BNN, terdapat 46.748 kasus tindak pidana narkotika di Indonesia. Dari jumlah itu, ganja menjadi kasus terbanyak kedua setelah sabu dengan 3.814 kasus.
Angka tersebut menunjukkan bahwa ganja masih menjadi salah satu komoditas narkotika yang cukup masif beredar di Indonesia.

Di sisi lain, ladang ganja ilegal kerap berada di wilayah yang sulit dipetakan secara manual. Karena itu, penggunaan AI dan pemetaan berbasis satelit dinilai bisa mempercepat proses identifikasi sekaligus mengurangi risiko operasi lapangan.
Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Yomi Guno, menyebut pendekatan berbasis teknologi ini diharapkan menjadi langkah strategis menuju sistem pemantauan narkotika yang lebih modern.
AI Mulai Masuk Operasi Lapangan
AI dalam proyek ini bukan sekadar alat pelengkap.
Sistem tersebut digunakan untuk membantu membaca pola visual dari citra satelit dan foto udara. AI dapat mengenali karakteristik tertentu yang menyerupai area budidaya ganja berdasarkan warna vegetasi, pola tanam, hingga kondisi geografis.
Artinya, proses pencarian bisa dilakukan lebih cepat dibanding pemeriksaan manual satu per satu.
Baca juga: NeoSemar, Inovasi Mahasiswa UGM yang Bantu Otak Lawan Kecanduan Narkoba
Teknologi seperti ini sebenarnya sudah banyak dipakai di berbagai sektor global. Mulai dari pemetaan kebakaran hutan, pemantauan tambang ilegal, hingga pengawasan perubahan tutupan lahan.
Kini, pendekatan serupa mulai diterapkan untuk mendukung operasi pemberantasan narkotika di Indonesia.
Bukan Sekadar Drone
Kolaborasi ini juga melibatkan banyak bidang riset di BRIN. Mulai dari geoinformatika, sains data, kecerdasan artifisial, keamanan siber, hingga teknologi penerbangan.
Kombinasi lintas disiplin itu memperlihatkan bahwa penanganan kejahatan modern kini semakin bergantung pada integrasi data dan teknologi.
AI kini mulai digunakan Indonesia untuk membantu mendeteksi dan memetakan ladang ganja ilegal melalui analisis citra satelit dan pemetaan udara berbasis drone.
Baca juga: Ciptakan Masa Depan tanpa Narkoba
Hasil akhirnya bukan hanya foto udara biasa. Sistem ini menghasilkan dokumen geospasial presisi tinggi yang dapat dipakai BNN untuk menentukan area prioritas operasi pemusnahan sesuai ketentuan hukum.
Di tengah semakin kompleksnya pola kejahatan narkotika, teknologi tampaknya bukan lagi pilihan tambahan. Ia mulai berubah menjadi senjata utama. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.