
GEMPA sudah berlalu hampir dua pekan. Perhatian publik mulai bergeser. Namun, bagi lebih dari 176 ribu warga Nusa Tenggara Timur, pulang masih menjadi sesuatu yang belum pasti.
Gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Guncangannya merusak rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, jalan, dan berbagai bangunan publik.
Data terbaru hingga Kamis, 27 Agustus 2026, pukul 10.00 WIB, mencatat 111 orang meninggal dunia. Sebanyak 1.672 orang terluka atau sakit, sementara 176.621 warga masih berada di pengungsian.
Angka pengungsi memang terus berkurang. Namun, jumlah yang tersisa masih lebih besar daripada seluruh penduduk sebuah kota berukuran sedang.
Pulang Belum Sederhana
Bagi penyintas gempa, pulang bukan sekadar meninggalkan tenda dan kembali membuka pintu rumah.
Banyak rumah tidak lagi aman ditempati. Data BNPB sebelumnya mencatat lebih dari 81 ribu rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 2.756 fasilitas pendidikan dan 118 fasilitas kesehatan juga terdampak.
Artinya, sekalipun sebuah keluarga dapat kembali ke rumah, kehidupan mereka belum tentu langsung berjalan normal. Anak-anak mungkin belum memiliki ruang belajar yang aman. Orang yang membutuhkan pengobatan belum tentu dapat mengakses layanan kesehatan seperti sebelum gempa.
Gempa susulan juga masih menjadi sumber kecemasan. BMKG mencatat lebih dari 5.000 gempa susulan hingga 21 Agustus. Sebanyak 124 di antaranya dirasakan warga.
Baca juga: Sekolah Mereka Roboh, Belajarnya Jangan Ikut Berhenti
BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung hingga sekitar 30 hari setelah gempa utama. Magnitudonya cenderung mengecil, tetapi setiap getaran dapat menghidupkan kembali ketakutan penyintas.
Karena itu, kepulangan warga tidak dapat dipaksakan.
“Tercatat sebenarnya lebih 6.094 yang pulang. Jadi ada yang pulang, ada yang datang,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurut Berton, warga kembali ke rumah atas kesediaan masing-masing setelah memastikan kondisi bangunannya cukup kuat. BNPB tetap memberikan perlengkapan dan makanan bagi warga yang memutuskan pulang.
Perhatian Ikut Pergi
Bencana biasanya memperoleh perhatian besar ketika baru terjadi. Foto kerusakan memenuhi linimasa, ucapan duka mengalir, dan bantuan mulai dikumpulkan.
Baca juga: Bantu Korban Bencana, Niat Baik Saja Cukup?
Namun, perhatian publik memiliki umur yang pendek. Isu baru datang, percakapan berpindah, sementara kehidupan penyintas belum selesai dibangun kembali.
Di NTT, masa tanggap darurat perlahan bergerak menuju rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah mulai mendata rumah rusak sebagai dasar pemberian bantuan. Jalan, irigasi, sekolah, fasilitas kesehatan, dan sumber penghidupan warga juga harus dipulihkan.
Tahap inilah yang sering lebih panjang dan kurang terlihat. Tidak ada lagi detik-detik evakuasi yang dramatis. Yang tersisa adalah antrean bantuan, pendataan kerusakan, kegiatan belajar darurat, serta keluarga yang belum mengetahui kapan rumahnya dapat ditempati kembali.
Bagi generasi yang hidup di tengah derasnya informasi, bencana NTT mengingatkan bahwa solidaritas tidak cukup berhenti pada satu unggahan. Literasi kebencanaan juga bukan sekadar mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bumi berguncang.
Ia termasuk kemampuan menjaga perhatian setelah gempa tidak lagi menjadi berita utama.
Sebab, gempa mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, bagi 176 ribu lebih warga NTT yang belum bisa pulang, dampaknya masih berjalan setiap hari. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.