
PANDEMI telah berlalu. Namun, lebih dari setengah juta murid kembali harus belajar dari rumah. Kali ini bukan karena virus, melainkan karena udara di luar rumah tak lagi aman untuk dihirup.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan telah mengganggu kegiatan belajar di sejumlah wilayah Kalimantan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat, hingga 11 Agustus 2026, pembelajaran jarak jauh telah diterapkan oleh 3.524 satuan pendidikan dengan jangkauan 571.338 murid.
Sekolah-sekolah itu tersebar di Kalimantan Barat, Pontianak, Kubu Raya, Kayong Utara, Palangka Raya, Kotawaringin Timur, dan Banjarbaru.
Angkanya memperlihatkan kabut asap bukan lagi sekadar persoalan lingkungan. Sebaliknya sudah masuk ke ruang kelas dan mengubah cara ratusan ribu anak memperoleh pendidikan.
Kembali ke Layar
Di Banjarbaru, seluruh satuan pendidikan memberlakukan pembelajaran jarak jauh pada 24–28 Agustus 2026. Jam belajar tetap dimulai pukul 07.30 WITA, sementara guru dan tenaga kependidikan masih bertugas di sekolah.
Pontianak juga kembali mengalihkan pembelajaran PAUD, TK, SD, SMP, dan pendidikan kesetaraan ke sistem daring mulai Senin, 24 Agustus. Kebijakan itu diambil setelah kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan keselamatan dan kesehatan anak menjadi pertimbangan utama.
“Kita sudah mulai meliburkan kembali anak sekolah dari TK sampai SMP. Kalau SMA dan SMK menjadi kewenangan provinsi,” katanya, Minggu, 23 Agustus 2026.
Baca juga: Masuk Sekolah Kok Pakai Jalan Belakang?
Meski disebut “meliburkan”, kegiatan belajar sebenarnya tidak berhenti. Murid tetap mengikuti pelajaran dari rumah. Sekolah dapat kembali menggelar pembelajaran tatap muka apabila kualitas udara berada dalam kategori sedang.
Kondisi berbeda diterapkan di Kalimantan Tengah. Sekolah terdampak diminta mengurangi kegiatan luar ruangan dan memangkas satu jam pelajaran dari 45 menit menjadi 30 menit. Beberapa sekolah bahkan diminta menyediakan tabung oksigen di ruang UKS untuk mengantisipasi gangguan pernapasan.
Hak Belajar Dijaga
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keselamatan warga sekolah harus ditempatkan sebagai prioritas, tetapi hak belajar murid juga tidak boleh berhenti.
“Kemendikdasmen siap bergerak cepat bersama seluruh kementerian dan lembaga terkait guna memastikan seluruh murid terdampak karhutla tidak kehilangan hak belajar,” ujar Abdul Mu’ti di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Kemendikdasmen akan memperbarui surat edaran mengenai protokol pembelajaran darurat asap. Pemerintah juga menyiapkan posko pendidikan darurat di lima provinsi prioritas, ruang kelas aman asap, masker medis, paket kesehatan, hingga fleksibilitas penggunaan dana BOS dan BOP.
Baca juga: Mereka Punya Mimpi, tetapi Belum Punya Sekolah
Langkah itu penting. Sebab, keputusan membuka atau menutup sekolah tidak cukup hanya berdasarkan seberapa tebal asap terlihat dari jendela. Kebijakan harus mengikuti Indeks Standar Pencemar Udara dan mempertimbangkan risiko kesehatan setiap kelompok usia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sekitar 3 juta orang di 37 kabupaten dan kota telah terpapar langsung kabut asap. Partikel PM2,5 yang terkandung di dalamnya dapat masuk jauh ke paru-paru dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut.
“PM2,5 itu sangat mengganggu paru-paru dan pernapasan kita,” kata Budi.
Tidak Semua Setara
Belajar dari rumah memang dapat melindungi murid dari udara berbahaya. Namun, PJJ membawa persoalan lama yang pernah muncul saat pandemi, yakni tidak semua keluarga memiliki perangkat memadai, koneksi internet stabil, atau ruangan nyaman untuk belajar.
Karena itu, pembelajaran darurat tidak boleh berhenti pada instruksi, “Sekolah ditutup, silakan masuk Zoom.” Sekolah dan pemerintah daerah harus mengetahui siapa yang tidak memiliki gawai, siapa yang kesulitan membeli kuota, dan siapa yang tetap terpapar asap karena rumahnya tidak cukup tertutup.
Kabut asap membuat sekolah kembali ke layar. Namun, tugas pemerintah bukan hanya memindahkan kelas dari sekolah ke rumah. Keselamatan harus dijaga tanpa membuat murid yang paling terbatas aksesnya kembali tertinggal. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.