
ADA angka yang layak membuat kita berhenti menyalahkan anak muda setiap kali bicara soal pengangguran.
MENTERI Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut sekitar 82 persen penganggur di Indonesia berasal dari Gen Z dan milenial.
Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta International Convention Center, Sabtu, 22 Agustus 2026. Pemerintah melihat ekonomi kreatif sebagai salah satu ruang yang dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja muda.
Angkanya memang perlu dibaca hati-hati.
Riefky menyebut jumlah penganggur sekitar 7,5 juta orang. Sementara data resmi terbaru Badan Pusat Statistik mencatat 7,24 juta orang menganggur pada Februari 2026, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,68 persen.
Tetapi pesan besarnya tetap sulit diabaikan. Anak muda menghadapi tekanan besar ketika memasuki dunia kerja.
Pertanyaannya kemudian menjadi menarik.
Apakah mereka kurang skill, atau memang kurang pekerjaan?
Jawaban paling gampang biasanya ada pada yang pertama.
Kita sering mendengar perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja yang sesuai. Kampus dianggap tidak cukup dekat dengan kebutuhan industri. Teknologi berkembang lebih cepat daripada kurikulum. Anak muda kemudian diminta meningkatkan keterampilan, belajar digital, memahami AI, memperkuat bahasa asing, sampai lebih adaptif menghadapi perubahan.
Semua itu penting.
Tetapi menjadikan skill gap sebagai satu-satunya penjelasan juga berbahaya. Sebab akhirnya persoalan struktural berubah menjadi persoalan personal. Kalau belum dapat kerja, berarti kamu kurang belajar.
Padahal pasar kerja bekerja dari dua arah.
Ada orang yang mencari pekerjaan. Harus ada pula pekerjaan yang cukup untuk dicari.
Generasi yang Sama, Cerita yang Berbeda
Ekonomi kreatif memperlihatkan sisi lain persoalan ini.
Menurut Kementerian Ekonomi Kreatif, sektor tersebut sekarang menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja. Sebanyak 63 persen di antaranya merupakan Gen Z dan milenial. Ekonomi kreatif juga menyumbang sekitar 7,38 persen terhadap produk domestik bruto nasional.
Menarik, bukan?
Generasi yang disebut mendominasi kelompok pengangguran ternyata juga mendominasi salah satu sektor ekonomi yang sedang berkembang.
Mungkin persoalannya bukan anak muda tidak mau bekerja.
Bisa jadi jenis pekerjaan yang mereka masuki sedang berubah lebih cepat daripada kemampuan ekonomi menyediakan jalannya.
Pekerjaan hari ini juga tidak selalu berbentuk meja kantor, kartu pegawai, dan kontrak panjang. Ada kreator, desainer, pengembang aplikasi, pekerja gim, fotografer, editor video, pekerja lepas, hingga berbagai pekerjaan berbasis platform dan ekonomi digital.
Banyak peluang lahir di sana. Tetapi peluang tidak selalu sama dengan kepastian.
Pekerjaan fleksibel bisa memberikan kebebasan, tetapi tidak otomatis memberikan penghasilan stabil, jaminan sosial, atau jalur karier yang jelas.
Karena itu, mendorong ekonomi kreatif tentu masuk akal. Tetapi tidak cukup hanya mengatakan kepada anak muda: masuklah ke sektor kreatif.
Ekosistemnya juga harus dibangun. Akses modal perlu dibuka. Pasar harus tumbuh. Perlindungan pekerja perlu mengikuti perubahan bentuk pekerjaan. Pendidikan dan pelatihan harus makin relevan.
Dan yang tidak kalah penting, ekonomi harus mampu menciptakan lebih banyak pekerjaan yang layak, bukan sekadar lebih banyak aktivitas yang bisa disebut pekerjaan.
Anak muda tetap harus belajar dan meningkatkan kemampuan.
Tetapi tanggung jawab tidak berhenti di sana.
Kalau jutaan anak muda datang membawa ijazah, keterampilan, energi, dan keinginan bekerja, kita juga patut bertanya kepada sistem yang menerima mereka:
Sudah tersedia cukup tempat untuk mereka tumbuh?
Jadi ketika lain kali kita mendengar Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan, mungkin jangan buru-buru bertanya apa yang kurang dari mereka.
Sesekali, pertanyaannya dibalik.
Apa yang masih kurang dari pasar kerja kita? ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.