
ADA banyak hal yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus lalu. Ada perlindungan sosial, digitalisasi bantuan, rumah rakyat, sampai berbagai capaian pemerintah.
Namun beberapa hari kemudian, sebagian orang mungkin sudah lupa angka-angka itu.
Yang masih diingat justru bawang.
Lebih tepatnya, Rp700 ribu per kilogram.
Angka itu muncul ketika Prabowo memperkenalkan Susanah, warga Kabupaten Bogor, sebagai buruh harian pengupas bawang. Dalam pidatonya, Presiden menyebut upahnya Rp700 ribu per kilogram. Potongan itu segera terbang ke media sosial. Lahir meme, parodi, hitung-hitungan pendapatan, sampai lelucon bahwa mengupas bawang ternyata lebih menjanjikan daripada banyak profesi lain.
Belakangan diketahui ada dua masalah berbeda.
Dalam naskah pidato, angka yang tertulis adalah Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu. Jadi, pada bagian angka, terjadi kekeliruan saat pengucapan.
Tetapi ada lapisan lain. Keluarga Susanah mengatakan pekerjaan sehari-harinya bukan mengupas bawang. Ia menjahit kain majun dengan sistem borongan dan dibayar Rp700 per kilogram. Setelah itu, ia bekerja mencuci wadah makanan di dapur Makan Bergizi Gratis.
Baca juga: Jangan Bunuh Pertanyaan dengan Sebuah Label
Fakta akhirnya jauh lebih sederhana daripada kegaduhan yang dilahirkannya.
Pertanyaannya justru menjadi menarik.
Mengapa dari sebuah pidato panjang, kita lebih mengingat bawangnya?
Jawabannya mungkin tidak hanya berada di Istana. Sebagiannya ada di dalam kepala kita sendiri.
Otak Menyukai yang Tidak biasa
Bayangkan seseorang membacakan seratus angka yang terdengar masuk akal.
Lalu muncul satu angka yang terasa mustahil.
Mana yang kemungkinan besar kita ceritakan kepada teman?
Yang aneh.
Penelitian tentang memori memang menunjukkan bahwa kejutan dapat membuat suatu informasi lebih menonjol dan lebih mudah diingat. Studi yang terbit di Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition menemukan hubungan antara tingkat kejutan dan kemampuan mengingat informasi numerik. Penelitian lain menunjukkan bahwa peristiwa yang melanggar ekspektasi mendapat perlakuan khusus dari sistem memori kita.
Rp700 ribu untuk satu kilogram bawang bekerja hampir sempurna sebagai kejutan.
Kita sudah memiliki gambaran kira-kira berapa harga bawang, berapa upah pekerjaan manual, dan berapa penghasilan rata-rata orang.
Ketika sebuah angka bertabrakan keras dengan pengetahuan itu, otak seperti memberi stabilo. Ini aneh. Ingat ini.
Masalahnya, sesuatu yang mudah diingat belum tentu sesuatu yang paling penting.
Lalu Datanglah Mesin Bernama Media Sosial
Dulu salah ucap dalam pidato mungkin hidup satu hari di koran.
Sekarang itu bisa memiliki kehidupan kedua.
Potongan video dipisahkan dari pidato utuh. Orang memberi caption. Orang lain membuat meme. Meme dibuat video. Video diberi musik. Lalu lahir versi lain yang lebih lucu.
Pada tahap itu, informasi tidak lagi bersaing berdasarkan seberapa penting isinya.
Sebaliknya bersaing berdasarkan satu pertanyaan sederhana. Apakah orang ingin membagikannya?
Dan “buruh kupas bawang Rp700 ribu per kilogram” jelas lebih mudah dibagikan daripada penjelasan panjang tentang perbaikan basis data perlindungan sosial.
Baca juga: Ketika Percakapan Menghilang
Bukan berarti masyarakat bodoh.
Justru begitulah ekonomi perhatian bekerja.
Kita menerima terlalu banyak informasi setiap hari. Untuk bertahan di tengah banjir itu, perhatian memilih yang menonjol. Konflik, keanehan, kejutan, kemarahan, humor.
Dalam penelitian lintas 17 negara, peneliti menemukan bahwa secara rata-rata manusia bereaksi lebih kuat terhadap berita negatif daripada berita positif. Fenomena ini dikenal sebagai negativity bias.
Tambahkan unsur kelucuan dan ketidakmasukakalan, lalu sebuah potongan informasi mendapat bahan bakar yang nyaris sempurna untuk bergerak dari satu layar ke layar berikutnya.

Koreksi Tidak Selalu Bisa Mengejar Meme
Di sinilah persoalan menjadi lebih rumit.
Fakta sebenarnya bisa diluruskan.
Rp700 ribu menjadi Rp700.
Profesi pengupas bawang dikoreksi menjadi penjahit kain majun.
Tetapi koreksi biasanya datang dalam bentuk kalimat.
Meme datang dalam bentuk cerita.
Dan cerita sering lebih lengket.
Itulah sebabnya literasi digital tidak cukup berhenti pada kemampuan membedakan berita benar dan berita bohong. Kita juga perlu memahami bahwa informasi yang paling viral bukan otomatis informasi yang paling mewakili sebuah peristiwa.
Satu cuplikan bisa benar-benar terjadi, tetapi tetap memberikan gambaran yang tidak lengkap.
Satu salah ucap memang layak dikoreksi, tetapi tidak otomatis merangkum seluruh isi pidato.
Baca juga: Kita Marah, Lalu Terbiasa
Sebaliknya, alasan “hanya salah ucap” juga tidak boleh membuat kita berhenti memeriksa fakta lain yang mengiringinya.
Literasi bekerja ke dua arah.
Tidak buru-buru percaya.
Tidak pula buru-buru memaafkan tanpa mengecek.
Dan Ada Susanah di Sengah semuanya
Ada satu hal yang mudah terlupakan ketika sebuah peristiwa sudah berubah menjadi meme, manusia yang berada di dalamnya.
Namanya Susanah.
Menurut penuturan keluarganya, Susanah bekerja menjahit kain majun dengan upah Rp700 per kilogram. Pekerjaan itu tidak selalu tersedia. Ia juga mencuci wadah makanan di dapur MBG untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Di titik ini, cerita “kupas bawang” terasa berbeda.
Kita memang boleh tertawa pada kekeliruan angka. Humor adalah bagian dari cara masyarakat bereaksi terhadap kekuasaan dan kejanggalan.
Tetapi jangan sampai lelucon membuat orang yang sebenarnya sedang dibicarakan justru menghilang.
Sebab di balik angka yang viral terdapat kehidupan yang tidak viral. Orang bekerja dari pagi, menerima pekerjaan borongan ketika tersedia, lalu berpindah ke pekerjaan lain agar penghasilan bertambah.
Barangkali itu juga pelajaran penting dari peristiwa ini.
Bukan hanya bagaimana seorang presiden bisa salah mengucapkan angka.
Tetapi, bagaimana perhatian kita bekerja.
Dari begitu banyak hal yang disampaikan, kita membawa pulang bawang.
Dari begitu banyak angka, kita memilih satu yang paling ganjil.
Dan sementara internet tertawa pada Rp700 ribu, kehidupan Susanah sesungguhnya berlangsung pada angka yang jauh lebih sunyi, Rp700. ***
Salam literasi
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA