
ADA yang berubah dari internet beberapa tahun terakhir.
Bukan tampilannya. Bukan kecepatannya. Bukan juga jumlah penggunanya.
Yang berubah adalah suasana percakapannya.
Cobalah membuka kolom komentar sebuah berita, video, atau unggahan yang sedang ramai. Sebelum menemukan pendapat orang lain, kita sering lebih dulu bertemu promosi judi online, tautan investasi palsu, pinjaman ilegal, akun bot, atau kalimat yang berulang tanpa makna.
Kolom komentarnya masih ada.
Tetapi percakapannya perlahan menghilang.
Baca juga: Mengapa Kita Masih Mudah Percaya
Pekan ini, Kementerian Komunikasi dan Digital kembali mengingatkan platform digital agar lebih tegas memberantas spam promosi judi online. Pemerintah menilai platform memiliki teknologi dan kewenangan untuk mendeteksi bot, menghapus konten, hingga memblokir akun penyebarnya. Pembiaran terhadap spam seperti ini dinilai dapat menjadi bagian dari rantai kejahatan digital.
Masalahnya, yang sedang kita hadapi mungkin bukan hanya soal judi online.
Yang sedang hilang adalah kualitas ruang publik digital.
Ruang yang Berubah
Dulu, internet dipuji sebagai tempat semua orang bisa berbicara. Siapa pun dapat menyampaikan pendapat, berdiskusi, atau belajar dari pengalaman orang lain. Kolom komentar menjadi ruang tambahan untuk memperkaya informasi yang baru saja dibaca.
Hari ini, ruang itu semakin sulit ditemukan.
Percakapan yang tulus harus bersaing dengan ribuan akun otomatis yang bekerja tanpa lelah. Mereka tidak datang untuk berdiskusi. Mereka datang untuk memancing klik, menjual tautan, menyebarkan penipuan, atau mengejar algoritma.
Baca juga: Aplikasi Kencan dan Bahaya Percaya Terlalu Cepat
Akibatnya, kita mulai membaca lebih sedikit dan menggulir lebih cepat.
Kita mulai mengabaikan kolom komentar karena menganggap isinya tidak lagi berguna.
Ironisnya, kita perlahan terbiasa.
Padahal, sebuah ruang publik tidak hanya rusak ketika orang berhenti berbicara. Tetapi, juga bisa rusak ketika terlalu banyak suara yang tidak benar-benar ingin berkomunikasi.

Bising Tanpa Makna
Inilah tantangan baru di era digital.
Teknologi membuat siapa pun dapat memproduksi konten dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mampu membuat teks, gambar, bahkan video yang semakin sulit dibedakan dari buatan manusia. Bot dapat membanjiri satu unggahan dengan ribuan komentar dalam waktu singkat.
Di tengah arus itu, perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan.
Semakin bising sebuah ruang, semakin besar peluang seseorang berhenti berpikir dan sekadar menggulir layar.
Karena itu, persoalan spam bukan sekadar gangguan visual.
Spam mengikis kepercayaan.
Baca juga: Kita Sering Lupa Setelah Selamat
Ketika kolom komentar dipenuhi akun palsu, masyarakat menjadi ragu terhadap semua orang. Ketika informasi bercampur dengan promosi dan manipulasi, batas antara percakapan yang jujur dan rekayasa digital menjadi semakin kabur.
Pada akhirnya, yang hilang bukan hanya ruang diskusi.
Yang ikut terkikis adalah kepercayaan bahwa internet masih bisa menjadi tempat bertemu gagasan.
Tanggung Jawab Bersama
Tentu, platform digital memiliki tanggung jawab besar. Mereka memiliki teknologi untuk mendeteksi bot, menurunkan konten berbahaya, dan mempersempit ruang gerak jaringan kejahatan digital. Langkah yang lebih tegas memang diperlukan.
Namun, pekerjaan menjaga ruang digital tidak bisa hanya dibebankan kepada platform atau pemerintah.
Pengguna juga menentukan wajah internet.
Baca juga: Anak-anak yang Terlalu Cepat Mengenal Taruhan
Setiap kali kita memilih tidak membagikan tautan yang meragukan, tidak ikut menyebarkan hoaks, melaporkan akun spam, atau memilih berdialog dengan santun, sebenarnya kita sedang merawat ruang publik yang kita tinggali bersama.
Internet pada akhirnya bukan hanya kumpulan server dan algoritma.
Internet adalah cermin perilaku manusia.
Belajar Mendengar Lagi
Jika ruang digital hari ini terasa semakin bising, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya mengapa begitu banyak bot bermunculan.
Tetapi, apakah kita masih cukup peduli untuk menjaga percakapan yang benar-benar bermakna?
Sebab peradaban tidak dibangun oleh suara yang paling keras.
Peradaban dibangun oleh percakapan yang mampu membuat manusia saling mendengar.
Salam literasi.
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA