Target SDGs Meleset, Apa Dampaknya buat Hidup Kita?

Kota terus tumbuh. Namun, pangan, pekerjaan layak, lingkungan, dan kesetaraan belum tentu ikut bergerak dengan kecepatan yang sama. Foto: Ilustrasi/ Tom Fisk/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id Empat tahun menuju 2030, dunia masih jauh dari target pembangunan berkelanjutan.

The Sustainable Development Goals Report 2026, yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Juli 2026, memberi peringatan keras.

Dari 139 target SDGs yang bisa dinilai, hanya 15 persen berada di jalur pencapaian. Sebanyak 21 persen menunjukkan kemajuan moderat.

Sisanya bergerak terlalu lambat, stagnan, atau justru mundur.

Sebanyak 32 persen target hanya mengalami kemajuan marginal. Sekitar 17 persen stagnan. Sementara itu, 15 persen telah turun dibandingkan posisi pada 2015.

Angka itu mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, dampaknya ada di sekitar kita.

Harga pangan, sulitnya mencari pekerjaan layak, akses air bersih, biaya listrik, kualitas udara, hingga banjir di kota berkaitan dengan target-target tersebut.

SDGs bukan sekadar agenda PBB. SDGs adalah gambaran tentang bagaimana manusia hidup, bekerja, makan, belajar, dan bertahan menghadapi perubahan iklim.

Dunia Memang Maju, tapi Tidak Cukup Cepat

Laporan PBB tetap mencatat sejumlah perkembangan positif.

Akses listrik global kini menjangkau sekitar 92 persen penduduk dunia. Akses internet meningkat dari 40 persen menjadi 74 persen dalam satu dekade.

Lebih dari separuh populasi dunia juga telah menerima setidaknya satu bentuk perlindungan sosial.

Kematian ibu dan anak menurun. Energi terbarukan bertambah. Jumlah kematian akibat bencana juga berkurang.

Baca juga: UN ESCAP: Tanpa Transisi Hijau, SDGs Asia-Pasifik Bisa Ambyar

Masalahnya, kecepatan perubahan itu belum cukup.

Sekitar satu dari sepuluh penduduk dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Sebanyak 2,3 miliar orang menghadapi kerawanan pangan sedang atau berat.

Sekitar 2,1 miliar orang juga belum memperoleh layanan air minum yang dikelola secara aman.

Artinya, dunia memang bergerak. Namun, tidak semua orang bergerak dengan kecepatan yang sama.

Kenapa Indonesia Perlu Peduli?

Indonesia punya banyak target pembangunan.

Ekonomi ingin tumbuh. Investasi ingin diperbesar. Hilirisasi terus didorong. Ketahanan pangan diperkuat. Energi baru dikembangkan. Lapangan kerja juga ingin diperluas.

Semua itu penting. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti kehidupan masyarakat ikut membaik.

Sebuah kota bisa dipenuhi gedung baru, tetapi warganya masih kesulitan mendapatkan hunian terjangkau.

Pabrik bisa membuka lapangan kerja, tetapi pekerjanya belum tentu memperoleh upah layak, kontrak yang aman, atau perlindungan sosial.

Baca juga: SDGs 2030: Hanya 16% Target Tercapai, Tantangan Besar Menanti

Pembangkit listrik bisa bertambah, tetapi udara di sekitarnya bisa makin buruk.

Produksi pangan juga dapat meningkat, tetapi harga di pasar belum tentu lebih murah.

Inilah mengapa SDGs melihat pembangunan secara lebih utuh.

Bukan hanya berapa banyak proyek dibangun, tetapi siapa yang menikmati manfaatnya dan apa dampaknya terhadap lingkungan.

Pangan Makin Rentan terhadap Guncangan

Laporan PBB mencatat sekitar 673 juta orang masih mengalami kelaparan kronis pada 2024.

Jumlah penduduk yang menghadapi kerawanan pangan juga masih lebih tinggi dibandingkan pada 2015.

Konflik, perubahan iklim, harga energi, gangguan perdagangan, dan biaya pupuk menjadi penyebab penting.

Indonesia tidak kebal dari tekanan itu.

Sebagian kebutuhan pangan dan bahan baku pertanian masih terhubung dengan pasar global. Ketika harga energi atau pupuk naik, biaya produksi bisa ikut meningkat.

Dampaknya dapat sampai ke harga makanan di rumah tangga.

Karena itu, ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan target produksi.

Petani kecil perlu akses teknologi, irigasi, pembiayaan, pasar, dan perlindungan dari cuaca ekstrem.

Distribusi juga harus lebih efisien agar hasil panen tidak hilang di perjalanan.

Punya Pekerjaan Belum Tentu Aman

SDGs juga menempatkan pekerjaan layak sebagai target utama.

Secara global, sekitar 284 juta pekerja masih hidup dalam kemiskinan ekstrem pada 2025. Mereka bekerja, tetapi penghasilannya belum cukup untuk keluar dari kerentanan.

Situasi itu dekat dengan kehidupan banyak anak muda.

Mendapat pekerjaan memang penting. Namun, kualitas pekerjaan tidak kalah penting.

Apakah upahnya cukup? Apakah ada jaminan kesehatan? Apakah kontraknya jelas? Apakah pekerja bisa meningkatkan keterampilan? Apakah pekerjaan itu aman?

Pekerjaan informal dapat membantu seseorang bertahan. Namun, pekerjaan yang rapuh membuat keluarga mudah jatuh ketika sakit, kehilangan penghasilan, atau menghadapi kenaikan harga.

Karena itu, penciptaan lapangan kerja tidak cukup dinilai dari jumlah orang yang diterima bekerja.

Yang harus dihitung juga adalah kualitas kehidupan setelah mereka bekerja.

Energi Bersih Tidak Cukup Hanya Ditambah

Dunia mencatat pertumbuhan energi terbarukan. Namun, transisi energi tetap belum berjalan cukup cepat dan merata.

Bagi Indonesia, energi bersih bukan hanya soal menambah panel surya, pembangkit air, atau sumber energi baru.

Jaringan listrik juga harus andal. Harga harus terjangkau. Manfaat ekonomi perlu dirasakan daerah dan masyarakat sekitar.

Transisi energi yang hanya mengganti teknologi, tetapi tetap meninggalkan polusi, konflik lahan, atau ketimpangan manfaat, belum tentu benar-benar berkelanjutan.

Data Menentukan Siapa yang Terlihat

Laporan SDGs 2026 juga memberi perhatian besar pada data.

Dalam satu dekade, basis data SDGs tumbuh dari sekitar 330.000 menjadi 3,2 juta catatan.

Namun, kesenjangan data masih besar pada isu kesetaraan gender, kota berkelanjutan, aksi iklim, perdamaian, dan keadilan.

Ini penting bagi Indonesia.

Tanpa data yang rinci, pemerintah sulit mengetahui wilayah mana yang paling rentan atau kelompok mana yang tertinggal.

Era kecerdasan buatan membuat persoalan itu makin serius.

Baca juga: Rp2 Triliun untuk 1.600 Riset, BRIN Dorong Dampak Nyata

AI dapat membantu membaca data. Namun, ketika data resmi tidak lengkap, teknologi juga bisa menghasilkan angka yang terlihat meyakinkan tanpa dasar yang kuat.

Data resmi karena itu bukan sekadar urusan statistik. Data menentukan siapa yang terlihat dan siapa yang luput dari kebijakan.

Empat Tahun Bukan Waktu yang Panjang

Dunia masih punya waktu hingga 2030. Namun, empat tahun bukan waktu yang panjang.

Indonesia perlu memastikan setiap kebijakan besar tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperbaiki kehidupan.

Pertanyaannya sederhana. Apakah kebijakan itu menurunkan kemiskinan? Apakah pangan makin aman? Apakah pekerjaan makin layak? Apakah udara dan air membaik? Apakah kelompok rentan ikut dilindungi?

Jika jawabannya belum jelas, pembangunan belum benar-benar selesai.

SDGs mungkin terdengar seperti agenda global. Namun, hasil akhirnya sangat dekat.

SDGs menentukan apakah kita bisa hidup di kota yang aman, membeli makanan dengan harga terjangkau, memperoleh pekerjaan yang layak, dan mewariskan lingkungan yang masih sehat. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *