
JAKARTA, mulamula.id – Riset tidak lagi cukup berhenti di jurnal, seminar, atau laboratorium. Di tengah krisis pangan, transisi energi, masalah kesehatan, dan ketimpangan wilayah, riset dituntut hadir lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN kini mencoba mendorong arah itu. Melalui Dana Abadi Penelitian yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP, BRIN telah mendanai sekitar 1.600 judul penelitian sepanjang 2022–2025.
Nilainya tidak kecil. Sekitar Rp2 triliun telah dipakai untuk membiayai riset di berbagai bidang. Mulai dari pangan, kesehatan, energi, hingga sosial humaniora.
Riset Lebih Membumi
Pendanaan ini juga menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Termasuk kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal atau 3T. Artinya, riset tidak hanya diarahkan ke pusat-pusat akademik besar, tetapi juga ke wilayah yang punya persoalan pembangunan lebih kompleks.
Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, mengatakan sebagian besar riset yang didanai berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-9.
Baca juga: Riset BRIN Buka Jalan Baru Terapi Kanker Berbasis Nuklir
SDGs tujuan ke-9 berfokus pada industri, inovasi, dan infrastruktur. Dalam konteks Indonesia, isu ini penting karena pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan proyek fisik. Ia juga membutuhkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang bisa dipakai secara nyata.
Arthur menyampaikan hal itu dalam kegiatan BRIN-UNDP Working Session: Identifying Priority Areas for Collaboration to Accelerate SDGs Implementation di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu (3/6).
Industri Diajak Masuk
Menurut BRIN, rekam jejak pendanaan tersebut bisa menjadi dasar untuk memperluas kerja sama riset. Terutama pada bidang yang makin penting bagi masa depan Indonesia, seperti ekonomi biru dan energi.
Ekonomi biru merujuk pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Isu ini relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Sementara energi menjadi perhatian besar karena Indonesia sedang menghadapi kebutuhan transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.
BRIN juga mulai mengembangkan model bisnis dan skema pendanaan riset yang lebih kolaboratif. Tujuannya agar riset tidak berjalan sendiri. Kementerian, lembaga, kampus, industri, dan mitra internasional didorong masuk ke dalam ekosistem yang sama.
Baca juga: Jarum Infus Sering Salah Tusuk? Kini Ada AI Pencari Pembuluh Darah
Masalahnya, keterlibatan sektor swasta dalam riset di Indonesia masih rendah. Padahal, industri punya peran penting untuk membawa hasil riset masuk ke tahap penerapan.
Karena itu, BRIN mendorong industri memanfaatkan infrastruktur riset, sumber daya manusia iptek, serta skema pendanaan bersama. Dengan cara ini, hasil penelitian diharapkan tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi bisa menjawab kebutuhan pasar, masyarakat, dan negara.
Kolaborasi Jadi Kunci
Arthur menegaskan arah riset BRIN kini tidak lagi sekadar science for science. Riset harus bergerak ke arah yang lebih aplikatif. Ia harus mampu menjawab persoalan masyarakat, kebutuhan industri, dan agenda nasional.
Pendekatan ini penting bagi anak muda. Sebab, masa depan pekerjaan, pangan, energi, kesehatan, dan lingkungan akan banyak ditentukan oleh kemampuan negara membangun ekosistem riset yang kuat.
BRIN juga telah mendukung pembentukan 35 Pusat Kolaborasi Riset atau PKR bersama 16 perguruan tinggi di Indonesia. Pusat ini dikembangkan sebagai center of excellence dengan tema khusus, salah satunya ekologi mangrove.
Baca juga: Sensor Nano Ini Bisa Bongkar Pangan Palsu dan Polusi Lebih Cepat
Keberadaan PKR membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Bukan hanya antarpeneliti di dalam negeri, tetapi juga dengan akademisi global. BRIN berharap pusat-pusat ini bisa menarik visiting professor, peneliti postdoctoral, dan visiting researcher dari berbagai negara.
Dari sini, tantangannya menjadi jelas. Pendanaan besar saja tidak cukup. Riset harus punya arah, jejaring, dan jalur hilirisasi yang kuat.
Indonesia membutuhkan riset yang tidak hanya canggih di atas kertas. Ia harus bisa terasa dalam kebijakan, industri, dan kehidupan sehari-hari. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.