
MAKANAN sehat bukan satu-satunya penentu kondisi tubuh. Cara kita makan juga ikut berpengaruh.
Menu bergizi bisa kehilangan manfaat optimal ketika disantap terburu-buru. Begitu pula sayuran yang hanya sesekali hadir, sementara minuman manis dan makanan ultra-proses menjadi kebiasaan harian.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pola makan sehat membantu mencegah malnutrisi sekaligus menurunkan risiko penyakit tidak menular. Termasuk diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker.
Masalahnya, pola makan kurang sehat sering terbentuk dari kebiasaan kecil. Dilakukan berulang, lalu dianggap normal.
Berikut lima kebiasaan makan yang perlu mulai diperhatikan.
1. Makan Seperti Sedang Dikejar Waktu
Makan terlalu cepat membuat tubuh kekurangan waktu untuk membaca sinyal kenyang. Akibatnya, porsi yang masuk bisa lebih banyak daripada yang sebenarnya dibutuhkan.
Kecepatan juga membuat aktivitas makan terasa otomatis. Tangan terus bergerak, tetapi pikiran sibuk dengan pekerjaan, video, atau notifikasi.
Baca juga: Cara Makan Cepat Bisa Bicara Banyak tentang Dirimu
Cobalah memperlambat tempo. Kunyah makanan dengan baik dan beri jeda sebelum menambah porsi.
Pendekatan mindful eating membantu seseorang lebih menyadari rasa lapar, kenyang, dan alasan di balik pilihan makanannya. Namun, metode ini bukan program diet instan, melainkan latihan membangun kesadaran saat makan.
2. Melewatkan Sarapan Tanpa Strategi
Sarapan bukan aturan mutlak yang harus dipaksakan kepada setiap orang. Kebutuhan makan pagi dapat berbeda, bergantung pada kondisi tubuh, aktivitas, dan pola makan masing-masing.
Masalah muncul ketika sarapan dilewatkan karena terburu-buru, lalu rasa lapar dibayar dengan camilan tinggi gula atau makan siang berlebihan.
Baca juga: Sifat Orang Bisa Terlihat dari Cara Meninggalkan Kursi
Jika terbiasa sarapan, pilih kombinasi yang lebih mengenyangkan. Misalnya, karbohidrat kompleks, protein, buah, dan sumber serat. Roti gandum dengan telur atau oatmeal dengan buah lebih bernilai daripada minuman manis dan kue saja.
Yang perlu dijaga bukan sekadar jam makannya, tetapi kualitas dan keteraturan pola makan sepanjang hari.
3. Terlalu Bergantung pada Makanan Ultra-Proses
Mi instan, nugget, keripik, minuman kemasan, dan makanan cepat saji memang praktis. Namun, banyak produk ultra-proses mengandung gula, garam, atau lemak dalam jumlah tinggi.
Makanan kemasan tidak otomatis buruk. Tingkat pengolahan dan kandungan setiap produk bisa berbeda. Karena itu, biasakan membaca label gizi dan daftar bahan.
Jangan biarkan makanan ultra-proses menjadi isi utama piring setiap hari. Imbangi dengan bahan pangan yang lebih minim pengolahan, seperti telur, ikan, tempe, kacang-kacangan, sayur, dan buah.
4. Buah dan Sayur Hanya Menjadi Pelengkap
Sebagian orang baru mencari sayuran setelah tubuh mulai terasa tidak nyaman. Padahal, buah dan sayur merupakan sumber serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa penting bagi tubuh.
WHO menganjurkan orang berusia di atas 10 tahun mengonsumsi sedikitnya 400 gram buah dan sayur per hari. Jumlah itu dapat dibagi ke dalam beberapa waktu makan, bukan dihabiskan sekaligus.
Baca juga: Cara Kamu Makan Bisa Bocorkan Kepribadian, Tim Cepat atau Santai?
Cara termudah adalah memberi ruang bagi sayur di piring utama dan memilih buah sebagai camilan. Tidak harus mahal atau mengikuti tren. Buah lokal dan sayur yang tersedia di sekitar tetap dapat menjadi pilihan baik.
5. Minuman Manis Dianggap Bukan Makanan
Segelas kopi susu, teh kemasan, soda, atau minuman dengan topping dapat membawa banyak gula tanpa menghasilkan rasa kenyang seperti makanan padat.
Inilah yang membuat kalori dari minuman mudah terabaikan. Satu gelas terasa ringan, tetapi frekuensinya bisa menumpuk.
WHO menyarankan asupan gula bebas dibatasi hingga kurang dari 10 persen kebutuhan energi harian. Pembatasan lebih jauh hingga di bawah 5 persen dapat memberi manfaat tambahan.
Baca juga: Diet Gagal Terus? Coba Ubah Jam Makan, Bukan Menunya
Air putih tetap menjadi pilihan utama. Minuman manis tidak harus hilang sepenuhnya, tetapi sebaiknya tidak menjadi teman wajib setiap kali makan.
Tubuh tidak menuntut pola makan sempurna dalam satu hari. Yang lebih menentukan adalah kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.
Perubahan juga tidak perlu dimulai dengan diet ekstrem. Makan sedikit lebih lambat, menambah sayur, dan mengurangi satu minuman manis sudah menjadi langkah yang berarti. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.