Diet Gagal Terus? Coba Ubah Jam Makan, Bukan Menunya

Waktu makan ternyata bisa lebih menentukan daripada sekadar menu. Delapan jam makan, enam belas jam jeda, sederhana, tapi berdampak. Foto: Ilustrasi/ Mélodie Lochon/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id Banyak orang sudah mencoba berbagai cara untuk menurunkan berat badan. Mulai dari diet ketat hingga hitung kalori. Tapi hasilnya sering sama, turun sebentar, lalu naik lagi.

Riset terbaru memberi arah berbeda. Bukan soal apa yang dimakan, tapi kapan makan dilakukan.

Dalam praktiknya, ini berarti satu hal, membatasi waktu makan bisa membantu menurunkan sekaligus menjaga berat badan lebih stabil.

Bukan Menu, tapi Waktu

Time-restricted eating adalah pola makan dengan jendela konsumsi sekitar 8 jam per hari dan puasa 16 jam.

Metode ini memberi tubuh waktu lebih panjang untuk berhenti mencerna dan mengatur ulang metabolisme.

Temuan yang dipresentasikan dalam European Congress on Obesity di Malaga, Spanyol, menunjukkan hasil yang cukup konsisten. Orang dengan kelebihan berat badan yang menjalankan pola ini selama tiga bulan mampu menurunkan berat badan dan mempertahankannya hingga satu tahun.

Selisihnya Terasa Jauh

Penelitian ini melibatkan 99 partisipan selama 12 bulan. Mereka dibagi ke beberapa kelompok dengan pola makan berbeda.

Hasilnya jelas.

Kelompok yang makan lebih dari 12 jam sehari hanya turun sekitar 1,4 kilogram. Setelah satu tahun, berat badan mereka bahkan naik lagi sekitar 0,4 kilogram.

Baca juga: Cuma 2 Telur Tiap Pagi, Efeknya Nggak Main-main Buat Tubuhmu

Sebaliknya, kelompok dengan jendela makan 8 jam turun sekitar 3 hingga 4 kilogram. Setelah 12 bulan, mereka masih mempertahankan penurunan sekitar 2 kilogram.

Lingkar pinggang dan pinggul juga ikut menyusut beberapa sentimeter.

Jamnya Fleksibel

Banyak orang mengira waktu makan harus pagi. Ternyata tidak selalu.

Baik makan lebih awal atau lebih siang, hasilnya tetap signifikan. Syaratnya satu: durasi puasa 16 jam dijalankan konsisten.

Peneliti utama dari University of Granada, Dr Alba Camacho-Cardenosa, menekankan bahwa kunci metode ini ada pada durasi puasa, bukan jam makan spesifik.

Lebih Mudah Dijalankan

Salah satu masalah terbesar dalam diet adalah kerumitannya.

Harus menghitung kalori. Mengatur menu. Menimbang makanan.

Metode ini justru lebih sederhana.

Baca juga: Cara Kamu Makan Bisa Bocorkan Kepribadian, Tim Cepat atau Santai?

Koordinator studi, Dr Jonatan Ruiz, menyebut pembatasan waktu makan lebih praktis dan tidak melelahkan secara mental. Sekitar 85% hingga 88% peserta mampu menjalankannya secara konsisten.

Masih Perlu Pembuktian

Meski menjanjikan, temuan ini belum final. Studi ini masih menunggu proses peer review.

Peneliti dari University of Cambridge, Dr Maria Chondronikola, mengingatkan bahwa faktor lain masih perlu dikaji. Mulai dari jumlah kalori hingga dampak jangka panjang terhadap metabolisme.

Baca juga: 10 Hobi yang Diam-diam Melatih Disiplin, dari Olahraga sampai Journaling

Sebagai pembanding, studi sebelumnya yang dipublikasikan di Nature Medicine juga menunjukkan bahwa pembatasan waktu makan dapat menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki kesehatan kardiometabolik, seperti dilaporkan media internasional The Independent.

Layak Dicoba?

Jawaban singkatnya, bisa.

Metode ini sederhana. Lebih mudah dijalankan. Dan terbukti membantu banyak orang menjaga berat badan lebih stabil.

Tapi, tetap ada catatan.

Kualitas makanan tetap penting. Dan konsistensi adalah kunci.

Karena pada akhirnya, perubahan kecil yang bisa dijalankan terus-menerus sering lebih berdampak daripada diet ekstrem yang cepat gagal. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *