
JAKARTA, mulamula.id – Teknologi sensor kini bergerak ke level yang jauh lebih sensitif. Bukan lagi sekadar mendeteksi zat biasa, tetapi mampu membaca jejak bahan kimia dalam jumlah sangat kecil dengan akurasi tinggi.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran soal keamanan pangan, pencemaran lingkungan, hingga maraknya produk palsu, riset sensor berbasis nanomaterial mulai dipandang sebagai salah satu teknologi masa depan yang paling menjanjikan.
Sensor elektrokimia adalah perangkat yang mengubah informasi kimia menjadi sinyal yang bisa dibaca dan dianalisis secara kuantitatif. Teknologi ini banyak digunakan untuk mendeteksi zat tertentu, mulai dari residu pestisida, bahan pencemar, hingga biomolekul.
Baca juga: AI Mulai Baca Cuaca Antariksa, BRIN Siapkan Sistem Peringatan Dini Otomatis
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Nanoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Budi Riza Putra, mengatakan pengembangan sensor berbasis nanomaterial menjadi langkah penting untuk meningkatkan sensitivitas dan stabilitas perangkat deteksi modern.
Mengutip paparan dalam webinar ORNAMAT #85, Selasa (19/5), sensor elektrokimia memiliki sejumlah keunggulan. Proses pengukurannya cepat, sensitif hingga tingkat nanogram per mililiter, serta relatif efisien dari sisi biaya operasional.
Perang Baru di Dunia Deteksi
Perkembangan teknologi sensor kini tidak hanya bicara soal alat laboratorium. Persaingan global mulai bergerak ke arah siapa yang mampu menciptakan sistem deteksi paling cepat, murah, dan akurat.
Di sektor pangan misalnya, sensor berperan penting untuk mendeteksi pemalsuan produk, kandungan bahan berbahaya, hingga kualitas bahan baku.
Sementara di sektor lingkungan, teknologi ini dapat digunakan untuk membaca keberadaan polutan dalam kadar sangat kecil sebelum dampaknya meluas.
Baca juga: Mobil Otonom Kini Bisa Deteksi Kerusakan Sendiri
Menurut Budi, tantangan terbesar sensor modern adalah kemampuan mendeteksi analit dalam jumlah sangat kecil tanpa kehilangan akurasi.
Karena itu, rekayasa permukaan elektroda menjadi bagian paling penting dalam pengembangan sensor elektrokimia.
Material Nano Jadi Kunci
Nanomaterial dipilih karena memiliki luas permukaan besar, konduktivitas tinggi, dan kemampuan mempercepat transfer elektron.
Beberapa material yang dikembangkan antara lain grafena, reduced graphene oxide (RGO), karbon nanotube, nanopartikel emas dan platinum, metal-organic framework (MOF), hingga logam oksida.
Baca juga: Telemedicine Jadi Senjata Baru Lawan Ketimpangan Kesehatan
Kombinasi berbagai material itu menghasilkan sensor dengan performa lebih tinggi dibanding sensor konvensional.
Salah satu contoh yang dipaparkan adalah sensor berbasis komposit nanopartikel emas-platinum dan multi-walled carbon nanotube untuk mendeteksi residu pestisida secara sensitif.

Ada juga pengembangan sensor untuk mendeteksi bahan pencemar kosmetik menggunakan kombinasi PtNCs/TiO₂/MWCNT.
Tak berhenti di situ, teknologi serupa juga dipakai untuk mendeteksi bisfenol A melalui komposit grafena/TiO₂/AuNPs serta mendeteksi miristisin menggunakan komposit grafena dan Fe₃O₄.
Temuan-temuan ini menunjukkan sensor berbasis nanomaterial mulai bergerak lintas sektor. Dari pangan, kosmetik, kesehatan, hingga lingkungan.
Lawan Pemalsuan Pangan
Salah satu bagian paling menarik dari riset ini adalah penggunaan teknik voltametri yang dipadukan dengan analisis kemometrik untuk mendeteksi pemalsuan bahan pangan.
Pendekatan itu digunakan untuk mengidentifikasi adulterasi susu sapi akibat campuran melamin dan urea.
Selain itu, metode serupa juga diterapkan untuk mendeteksi pemalsuan pada komoditas cengkih.
Baca juga: AI, Drone, dan Satelit Kini Dipakai Buru Ladang Ganja di Indonesia
Teknologi ini dinilai berpotensi memperkuat sistem jaminan mutu pangan nasional karena menawarkan proses deteksi yang lebih cepat dan akurat dibanding metode konvensional.
Bagi Indonesia, riset seperti ini menjadi penting karena isu keamanan pangan dan kualitas produk mulai menjadi perhatian publik global.
Produk ekspor ke depan tidak hanya dituntut murah dan kompetitif, tetapi juga harus memiliki sistem verifikasi kualitas yang kuat.
Tantangan Hilirisasi
Meski menjanjikan, pengembangan sensor berbasis nanomaterial masih menghadapi sejumlah tantangan.
Mulai dari skalabilitas produksi, stabilitas material dalam jangka panjang, hingga integrasi sensor ke perangkat portabel yang mudah digunakan di lapangan.
Karena itu, kolaborasi lintas disiplin menjadi faktor penting agar teknologi tidak berhenti di laboratorium.
Baca juga: BRIN Mulai Andalkan AI untuk Membaca Ancaman dari Matahari
Riset ini sendiri melibatkan kolaborasi berbagai institusi seperti IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, hingga Kasetsart University.
Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi sensor tidak lagi menjadi pekerjaan satu institusi saja, melainkan bagian dari persaingan inovasi global yang semakin cepat. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.