
JAKARTA, mulamula.id – Puncak ibadah haji belum dimulai. Tetapi Arab Saudi dan Indonesia sudah bersiap menghadapi fase paling melelahkan sekaligus paling berisiko dalam seluruh rangkaian haji, pergerakan massal jemaah di Mina.
Tahun ini, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi membentuk Tim Khusus Mina atau Timsus Mina untuk mengawal mobilitas jemaah Indonesia, terutama lansia dan jemaah sakit, saat jutaan orang mulai bergerak menuju lokasi lontar jumrah.
Timsus Mina adalah tim pelindungan lapangan yang disiapkan khusus untuk membantu orientasi jalur, pengawasan, hingga penanganan cepat terhadap jemaah yang kelelahan atau tersesat di kawasan Mina.
Langkah ini menjadi penting karena fase Mina selalu menjadi titik paling padat dalam operasional haji. Bukan hanya karena jumlah manusia yang bergerak bersamaan, tetapi juga karena faktor cuaca panas, kelelahan fisik, dan panjangnya jalur perjalanan.
Baca juga: 25 Tahun ke Depan, Haji Tak Lagi Didominasi Musim Panas
Koordinator Bidang Satuan Operasi Arafah Muzdalifah dan Mina (Satop Armuzna) dan Pelindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Harun Arrasyid Usman, mengatakan personel Timsus Mina dipilih dari petugas yang sudah berpengalaman dalam operasional haji sebelumnya.
Mereka diberangkatkan lebih awal menuju Mina pada malam 8 Zulhijah tanpa mengikuti fase Arafah agar kondisi fisik tetap prima saat jemaah mulai berdatangan.
“Dengan skema ini, tenaga mereka masih fresh untuk memberikan bantuan maksimal saat jemaah tiba,” ujar Harun.
Jalur Paling Melelahkan
Bagi banyak jemaah Indonesia, Mina bukan sekadar kawasan tenda sementara. Tempat ini sering menjadi ujian fisik paling berat selama berhaji.
Jemaah harus berjalan cukup jauh menuju area Jamarat untuk melontar jumrah. Dalam kondisi tertentu, perjalanan bolak-balik melalui Terowongan Muaisim bisa mencapai sekitar 4,5 kilometer.
Baca juga: Jemaah Lansia Tak Lagi Menginap di Muzdalifah, Skema Haji Indonesia Mulai Berubah
Jarak itu terasa jauh bagi jemaah lansia atau mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Karena itu, tahun ini perhatian besar diarahkan pada manajemen arus manusia dan orientasi jalur. PPIH bahkan meminta jemaah tidak berpindah lantai setelah selesai melontar jumrah.

Imbauan itu bukan tanpa alasan. Kepadatan di jalur bawah berpotensi memicu penumpukan massa dan memperbesar risiko kelelahan hingga disorientasi.
“Setelah selesai melontar jumrah, jangan turun ke lantai bawah,” kata Harun.
Jemaah diminta mengikuti jalur putar yang langsung mengarah kembali menuju Terowongan Muaisim dan area tenda.
Fokus Lansia Haji
Perubahan pola layanan haji Indonesia tahun ini semakin terlihat jelas. Fokus operasional kini tidak lagi hanya soal kelancaran ibadah, tetapi juga mitigasi risiko kesehatan.
Beberapa hari terakhir, pemerintah Indonesia juga mulai menerapkan berbagai skema khusus seperti murur dan tanazul untuk mengurangi beban fisik jemaah.
Baca juga: Tak Hanya Doa, Ibadah Haji Menuntut Fisik yang Tangguh
Skema murur memungkinkan sebagian jemaah, terutama lansia dan risiko tinggi, melintas di Muzdalifah tanpa harus turun dan menginap terlalu lama. Sementara tanazul memungkinkan jemaah kembali lebih cepat ke hotel setelah lontar jumrah Aqabah.
Artinya, operasional haji Indonesia kini semakin bergerak ke arah pelayanan berbasis mitigasi risiko, bukan lagi sekadar pengaturan logistik massal.
Langkah itu dinilai penting karena profil jemaah Indonesia terus berubah. Banyak jemaah datang dalam usia tidak lagi muda setelah menunggu antrean haji belasan hingga puluhan tahun.
Mina Jadi Penentu
Sebagian besar jemaah Indonesia tahun ini ditempatkan di Zona 3 dan Zona 5 dekat Terowongan Muaisim. Mereka tersebar dalam 61 markas atau maktab dengan karakter lokasi yang berbeda-beda.
Kondisi geografis dan kepadatan kawasan Mina membuat fase ini selalu menjadi perhatian utama otoritas haji.
Karena itu, keberadaan Timsus Mina bukan hanya soal membantu arah jalan. Mereka juga menjadi bagian dari sistem pengamanan manusia terbesar di dunia yang harus berjalan nyaris tanpa kesalahan.
Baca juga: Ke Mana Perginya Batu Jumrah? Ini Proses Pengelolaan Ribuan Kerikil di Jamarat
Jika pergerakan jemaah dapat berlangsung tertib, aman, dan efisien, maka risiko kelelahan ekstrem, kepadatan, hingga insiden saat lontar jumrah bisa ditekan.
Dan di tengah cuaca panas serta jutaan manusia yang bergerak hampir bersamaan, itu menjadi pekerjaan yang jauh lebih rumit daripada sekadar mengatur antrean. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.