IHSG Jatuh dan Rupiah Melemah, Pemerintah Minta Investor Jangan Panik

IHSG jatuh ke bawah 6.500 sementara rupiah mendekati Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5). Pemerintah menilai tekanan pasar masih bersifat sementara. Foto: Ilustrasi/Mulamula.id.

JAKARTA, mulamula.id Pasar keuangan Indonesia kembali masuk fase penuh tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga ke bawah level 6.500 pada Senin (18/5). Pada saat yang sama, rupiah juga bergerak mendekati Rp17.700 per dolar AS.

Situasi ini langsung memicu kekhawatiran publik. Narasi tentang potensi krisis pun mulai bermunculan di media sosial dan ruang percakapan investor ritel.

Namun pemerintah mencoba meredam kepanikan itu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan pasar saat ini belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Ia justru melihat koreksi pasar sebagai momentum akumulasi saham di harga murah.

“Jangan takut serok ke bawah sekarang,” kata Purbaya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5).

Tekanan Pasar Membesar

IHSG beberapa waktu terakhir bergerak dalam tekanan cukup dalam. Kapitalisasi pasar saham Indonesia juga terus tergerus.

Di sisi lain, rupiah ikut melemah tajam terhadap dolar AS. Kombinasi ini membuat pasar mulai sensitif terhadap isu arus modal keluar dan stabilitas ekonomi nasional.

Kondisi global ikut memberi tekanan. Suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih membuat investor asing cenderung menarik dana dari negara berkembang. Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia juga memperbesar sikap wait and see pelaku pasar.

Tetapi pemerintah menilai situasi Indonesia belum masuk zona bahaya.

Purbaya mengatakan ekonomi nasional masih tumbuh cukup kuat. Konsumsi domestik tetap berjalan. Aktivitas industri dan perdagangan juga belum menunjukkan kontraksi besar.

Karena itu, ia menilai kondisi saat ini berbeda jauh dibanding krisis 1998.

Beda dengan Krisis 1998

Nama krisis 1998 kembali sering muncul setiap rupiah melemah tajam. Namun pemerintah menilai perbandingan itu terlalu berlebihan.

Menurut Purbaya, krisis 1998 dipicu kombinasi resesi ekonomi, kebijakan yang salah, serta instabilitas sosial dan politik yang sangat berat.

Sementara kondisi sekarang dinilai belum mengarah ke sana. “Kita sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh kencang,” ujarnya.

Baca juga: IHSG Kembali ke Era 6.000, Pasar Saham Indonesia Kehilangan Rp 5.278 Triliun

Perbedaan terbesar ada pada fondasi ekonomi. Saat ini cadangan devisa Indonesia jauh lebih besar dibanding era 1998. Sistem perbankan juga lebih kuat dan diawasi lebih ketat.

Selain itu, pemerintah dan bank sentral kini memiliki instrumen intervensi pasar yang jauh lebih matang dibanding dua dekade lalu.

Pemerintah Siapkan Intervensi

Pemerintah mengaku tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan rupiah.

Purbaya mengatakan intervensi akan diperkuat terutama melalui pasar obligasi negara. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga surat utang sekaligus mencegah investor asing keluar terlalu cepat dari pasar Indonesia.

Jika harga obligasi jatuh terlalu dalam, investor asing berisiko mengalami capital loss. Situasi itu bisa memicu gelombang penjualan lebih besar dan memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.

“Mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi agar pasar obligasi terkendali,” kata Purbaya.

Strategi ini penting karena pasar obligasi menjadi salah satu titik paling sensitif terhadap perubahan sentimen global.

Jika investor asing tetap bertahan di obligasi pemerintah Indonesia, tekanan terhadap rupiah biasanya bisa lebih terkendali.

Investor Ritel Mulai Diuji

Kondisi pasar saat ini juga menjadi ujian psikologis bagi investor ritel Indonesia yang jumlahnya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Saat pasar turun tajam, kepanikan biasanya lebih cepat menyebar dibanding analisis fundamental. Banyak investor baru mudah terpancing sentimen media sosial atau rumor ekonomi.

Padahal koreksi pasar merupakan bagian normal dari siklus investasi.

Dalam sejarah pasar modal, periode tekanan sering justru menjadi titik masuk bagi investor jangka panjang. Saham-saham berkinerja baik biasanya ikut terseret turun karena sentimen pasar secara umum.

Karena itu, pernyataan pemerintah yang meminta publik tidak panik juga bertujuan menjaga kepercayaan pasar domestik.

Pasar Kini Menunggu Respons Nyata

Meski demikian, pasar tetap akan melihat tindakan nyata pemerintah, bukan hanya pernyataan optimistis.

Investor akan memantau seberapa agresif intervensi dilakukan, bagaimana arah kebijakan suku bunga, serta kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan global.

Pasar juga menunggu apakah pelemahan rupiah hanya bersifat sementara atau berubah menjadi tekanan berkepanjangan.

Untuk saat ini, pemerintah mencoba mengirim satu pesan utama, ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menghadapi gejolak pasar global.

Namun di tengah pasar yang sensitif, kepercayaan bisa berubah sangat cepat. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *