LRT Jakarta Bisa Tembus PIK 2 dan Bandara

LRT Jakarta disebut berpeluang diperpanjang hingga PIK 2 dan terhubung ke Bandara Soekarno-Hatta sebagai bagian penguatan loop transportasi ibu kota. Foto: lrt_jabodebek.

JAKARTA, mulamula.id Wacana LRT Jakarta menembus Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 hingga Bandara Soekarno-Hatta mulai dibuka serius oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jika benar terwujud, Jakarta bukan lagi sekadar punya jalur transportasi massal yang saling terhubung, tetapi mulai membangun “loop transportasi” metropolitan yang mengitari kota dan terkoneksi langsung ke bandara.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut ide itu saat meresmikan kawasan klenteng Tian Fu Gong di PIK, Jakarta Utara. Dalam suasana santai, ia mengaku sempat membicarakan peluang pengembangan jalur LRT dengan pihak pengembang kawasan.

Namun di balik pernyataan yang terdengar ringan itu, tersimpan pesan besar tentang arah transportasi Jakarta beberapa tahun ke depan.

Transportasi massal bukan lagi hanya soal memindahkan orang. Kini, ia mulai menjadi strategi menyatukan pusat bisnis, kawasan hunian baru, pelabuhan, stadion internasional, hingga bandara dalam satu jaringan mobilitas.

Baca juga: Ini Dia Transportasi Publik di Jakarta

Pramono mengatakan, trase pengembangan LRT Jakarta sebenarnya sudah mendapat izin hingga kawasan Ancol. Dari titik itu, jalur masih mungkin diperpanjang menuju Jakarta Utara.

Rutenya pun terdengar ambisius.

Mulai dari Velodrome, lalu ke Manggarai, diteruskan menuju Tanjung Priok, Jakarta International Stadium (JIS), Ancol, PIK 2, hingga akhirnya terkoneksi dengan Bandara Soekarno-Hatta.

Jika jaringan ini benar-benar tersambung, Jakarta akan memiliki pola konektivitas yang jauh berbeda dibanding sekarang.

Jakarta Sedang Mengejar Loop

Loop transportasi adalah sistem jalur yang saling terkoneksi membentuk putaran utuh sehingga perpindahan antarkawasan menjadi lebih cepat dan efisien.

Dalam kota besar modern, konsep ini penting karena masyarakat tidak lagi bergerak hanya menuju pusat kota. Mobilitas kini menyebar ke kawasan bisnis baru, kota penyangga, pelabuhan, hingga bandara.

Pramono menyebut konektivitas transportasi Jakarta saat ini baru mencapai sekitar 93 persen. Artinya, masih ada titik-titik yang belum benar-benar tersambung secara mulus.

Celahan kecil itu justru sering menjadi sumber kemacetan panjang, waktu tempuh tinggi, dan perpindahan moda yang melelahkan.

Karena itu, penyambungan jalur ke utara Jakarta mulai dianggap strategis.

Baca juga: Mengapa Warga Jakarta Perlu Beralih ke Transportasi Publik?

Apalagi kawasan seperti PIK 2 kini berkembang bukan sekadar area residensial, tetapi juga pusat ekonomi baru dengan aktivitas komersial, hiburan, dan wisata yang terus meningkat.

Di sisi lain, Bandara Soekarno-Hatta juga semakin menjadi simpul utama mobilitas Jabodetabek.

Koneksi langsung LRT menuju bandara berpotensi mengubah pola perjalanan warga secara besar-besaran.

Proyek yang Sedang Berjalan

Saat ini, proyek utama yang sedang dikerjakan adalah sambungan LRT Jakarta dari Velodrome menuju Manggarai.

Jalur sepanjang 12,2 kilometer itu memiliki 11 stasiun dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp11,5 triliun.

Manggarai dipilih bukan tanpa alasan.

Kawasan itu diproyeksikan menjadi simpul transportasi terbesar di Jakarta karena mempertemukan KRL, kereta bandara, hingga berbagai moda lain.

Jika sambungan ini selesai, integrasi transportasi Jakarta akan naik level.

Aktivitas penumpang di salah satu stasiun LRT Jakarta. Integrasi antarmoda dinilai menjadi kunci mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi di Jakarta. Foto: lrt_jabodebek.

Pramono optimistis proyek Velodrome-Manggarai bisa diresmikan pada Agustus mendatang.

Setelah itu, perhatian kemungkinan mulai bergeser ke pembangunan jalur utara.

PIK 2 dan Arah Baru Jakarta

Masuknya PIK 2 dalam peta pengembangan LRT menunjukkan satu hal penting. Pusat pertumbuhan Jakarta mulai bergerak ke wilayah pesisir utara.

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan utara Jakarta berkembang cepat. Aktivitas ekonomi, properti, hiburan, hingga destinasi wisata tumbuh agresif di sana.

Masalahnya, konektivitas transportasi massal ke wilayah tersebut masih terbatas.

Akibatnya, ketergantungan pada kendaraan pribadi tetap tinggi.

Baca juga: Apa itu Jembatan Donat yang akan dibangun di Jakarta?

Jika LRT benar-benar masuk ke PIK 2 lalu terhubung ke Bandara Soekarno-Hatta, pola mobilitas warga Jakarta bisa berubah drastis.

Perjalanan dari timur Jakarta menuju bandara misalnya, tak lagi harus bergantung penuh pada tol atau kendaraan pribadi.

Masyarakat juga berpotensi memiliki lebih banyak opsi perjalanan antarkawasan tanpa harus transit terlalu rumit.

Tantangan Besarnya Masih Panjang

Meski terdengar menjanjikan, proyek ini jelas bukan pekerjaan pendek.

Pembangunan jalur LRT membutuhkan investasi besar, pembebasan lahan, sinkronisasi antarlembaga, hingga kepastian integrasi dengan moda lain seperti MRT, TransJakarta, dan KRL.

Belum lagi tantangan teknis di kawasan utara Jakarta yang memiliki karakter tanah dan kepadatan berbeda.

Baca juga: Jangan Bingung Lagi! Lacak Posisi Bus TransJakarta dengan Google Maps

Namun satu hal mulai terlihat jelas.

Jakarta tampaknya sedang bergerak menuju fase baru. Dari kota yang bergantung pada jalan raya menjadi kota yang mulai dibangun berbasis jaringan transportasi massal terintegrasi.

Dan jika jalur ke PIK 2 hingga Bandara Soekarno-Hatta benar-benar terwujud, maka arah perubahan itu akan semakin terasa nyata. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *