IHSG Kembali ke Era 6.000, Pasar Saham Indonesia Kehilangan Rp 5.278 Triliun

Layar pergerakan IHSG dan kurs rupiah di tengah tekanan pasar global, Senin (18/5/2026). IHSG sempat anjlok lebih dari 4 persen sementara rupiah mendekati level terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Ilustrasi: Mulamula.id

JAKARTA, mulamula.idPasar saham Indonesia kembali limbung. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 4,18% ke level 6.442 pada perdagangan intraday Senin (18/5) pukul 10.29 WIB. Kejatuhan ini membawa bursa Indonesia kembali ke “era 6.000”, level yang terakhir kali terasa normal pada 2021.

Tekanan kali ini bukan sekadar koreksi harian biasa. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia kini tersisa sekitar Rp11.312 triliun. Padahal, pada Januari 2026 lalu, saat IHSG menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134, nilai pasar saham Indonesia sempat mencapai Rp16.590 triliun.

Artinya, dalam beberapa bulan saja, sekitar Rp5.278 triliun nilai pasar menguap.

IHSG adalah indeks yang mencerminkan pergerakan mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia. Ketika IHSG jatuh tajam, itu biasanya menandakan investor sedang mengurangi risiko dan menarik dana dari pasar.

Perdagangan pagi ini juga menunjukkan tekanan luas. Dari ratusan saham yang diperdagangkan, hanya 69 saham yang berhasil naik. Sisanya tenggelam di zona merah.

Dolar Menguat, Rupiah Tertekan

Tekanan terhadap pasar saham terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah. Nilai tukar rupiah pagi ini mendekati Rp17.700 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah.

Situasi itu dipicu menguatnya dolar AS di tengah sentimen global yang kembali masuk fase risk off. Investor dunia mulai menghindari aset berisiko dan memilih menyimpan dana di instrumen yang dianggap lebih aman.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai penguatan dolar AS saat ini terjadi bersamaan dengan aksi jual besar-besaran di berbagai aset global.

“Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off seluruh aset,” ungkapnya kepada wartawan.

Bukan hanya saham negara berkembang yang tertekan. Obligasi, mata uang kripto, hingga berbagai mata uang Asia juga ikut mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir.

Pasar Menunggu BI dan The Fed

Investor kini berada dalam posisi menunggu.

Dari Amerika Serikat, pasar sedang menanti laporan keuangan NVIDIA serta risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) untuk membaca arah kebijakan suku bunga terbaru bank sentral AS.

Pasar juga sedang mencerna pergantian pimpinan bank sentral AS setelah Senat mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed baru menggantikan Jerome Powell.

Kondisi ini penting karena suku bunga AS masih menjadi salah satu penentu utama arus modal global. Ketika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, dana asing biasanya lebih memilih kembali ke aset dolar AS dibanding pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Sementara di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20 Mei 2026.

Pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%. Selain itu, investor juga menunggu data pertumbuhan kredit, transaksi berjalan kuartal I-2026, dan jumlah uang beredar (M2).

Pernyataan Prabowo Jadi Sorotan

Di tengah tekanan rupiah, pernyataan Presiden Prabowo Subianto ikut menjadi perhatian pasar.

Saat meresmikan operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo meminta masyarakat tidak terlalu khawatir terhadap pelemahan rupiah.

“Mau dolar berapa ribu kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” ujarnya.

Prabowo menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan masyarakat tidak perlu panik menghadapi gejolak nilai tukar.

Namun di pasar keuangan, pergerakan kurs tetap menjadi faktor penting. Pelemahan rupiah bisa meningkatkan biaya impor, menekan perusahaan yang memiliki utang dolar AS, dan memicu keluarnya dana asing dari pasar saham domestik.

IHSG Masih Murah atau Belum?

Di tengah tekanan pasar, sejumlah manajer investasi mulai melihat peluang jangka panjang.

Syailendra Capital memperkirakan pertumbuhan laba emiten Indonesia pada 2026 berada di kisaran 8%–10%. Mereka juga menilai pasar saham Indonesia mulai mendekati area valuasi fundamental.

Dalam riset terbarunya, Syailendra memperkirakan fair value IHSG secara headline berada di level 8.200 pada 2026 dan 8.800 pada 2027.

Namun jika hanya menghitung berdasarkan fundamental yang disesuaikan, level wajarnya diperkirakan berada di sekitar 6.500.

Artinya, posisi IHSG saat ini mulai mendekati area yang dianggap “murah” oleh sebagian analis.

Meski begitu, pasar tampaknya belum benar-benar tenang. Investor masih dibayangi ketidakpastian global, tekanan rupiah, serta kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia.

Dan selama sentimen risk off masih dominan, tekanan terhadap pasar Indonesia kemungkinan belum sepenuhnya selesai. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *