
JAKARTA, mulamula.id – Akses layanan kesehatan di Indonesia masih terasa timpang. Di kota besar, masyarakat relatif mudah bertemu dokter spesialis dan rumah sakit modern. Tetapi di banyak daerah, layanan kesehatan masih terkendala jarak, tenaga medis, hingga infrastruktur.
Di tengah tantangan itu, digitalisasi mulai dipandang bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan kebutuhan sistem kesehatan nasional.
Telemedicine adalah layanan kesehatan jarak jauh berbasis teknologi digital yang memungkinkan pasien berkonsultasi, diperiksa, hingga dipantau tanpa harus datang langsung ke rumah sakit.
Baca juga: Titanium Baru Buatan BRIN Disebut Bisa Bikin Implan Gigi Lebih Awet dan Aman
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai transformasi layanan kesehatan digital bisa menjadi salah satu solusi paling realistis untuk mempersempit kesenjangan layanan kesehatan di Indonesia.
Isu tersebut menjadi fokus Seminar Nasional bertajuk Transformasi Digital Layanan Kesehatan di Indonesia: Model Implementasi Telemedicine dalam Penguatan Sistem Kesehatan Daerah yang digelar Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri BRIN pada Selasa (19/5) di Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo BRIN, Jakarta Selatan.
Layanan Tak Lagi Bergantung Jarak
Digitalisasi kesehatan kini mulai menjadi bagian penting dari arah kebijakan nasional. Pemerintah memasukkan transformasi kesehatan digital dalam RPJMN 2025–2029 sebagai salah satu prioritas menuju Indonesia Emas 2045.
Perubahan itu juga diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang menekankan integrasi layanan, digitalisasi data kesehatan, hingga pemerataan akses layanan medis.
Platform SATUSEHAT dan Rekam Medis Elektronik (RME) menjadi fondasi utama dalam membangun sistem kesehatan berbasis data di Indonesia.
Namun, BRIN menilai tantangan terbesar bukan hanya teknologi. Ketimpangan infrastruktur digital, distribusi dokter spesialis yang belum merata, hingga kondisi geografis Indonesia masih menjadi hambatan utama.
Baca juga: Jepang Setujui Terapi Stem Cell untuk Parkinson dan Gagal Jantung
Karena itu, telemedicine mulai dipandang sebagai model layanan yang paling memungkinkan untuk menjangkau masyarakat lebih luas.
Lewat sistem ini, layanan seperti telekonsultasi, tele-EKG, tele-USG, hingga tele-ICU dapat terhubung langsung dengan fasilitas kesehatan rujukan.
Di wilayah terpencil, konsep mobile clinic juga mulai diposisikan sebagai pelengkap layanan kesehatan digital agar masyarakat tetap bisa memperoleh pemeriksaan dasar secara langsung.

Bukan Sekadar Soal Teknologi
Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, Agus Eko Nugroho menegaskan transformasi kesehatan digital bukan hanya soal penggunaan aplikasi atau perangkat baru.
Menurutnya, isu utamanya adalah bagaimana layanan kesehatan bisa menjadi lebih adil dan menjangkau masyarakat yang selama ini tertinggal aksesnya.
“Transformasi digital layanan kesehatan bukan sekadar pemanfaatan teknologi, tetapi bagian dari upaya menghadirkan layanan kesehatan yang lebih merata, inklusif, dan responsif bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Eko Nugroho dalam keterangan resmi BRIN.
Baca juga: Alat Pacu Jantung Sekecil Beras Ini Bisa Larut dalam Tubuh
BRIN juga ingin mendorong lahirnya model implementasi telemedicine berbasis daerah yang nantinya dapat direplikasi secara nasional.
Pendekatan itu dianggap penting karena setiap daerah memiliki tantangan berbeda. Ada wilayah dengan akses internet kuat tetapi kekurangan tenaga medis. Ada pula daerah yang justru masih terkendala infrastruktur dasar.
Banten Jadi Contoh Awal
Dalam seminar tersebut, Provinsi Banten dijadikan salah satu contoh implementasi telemedicine dan mobile clinic.
Wilayah ini dinilai cukup mewakili tantangan Indonesia karena memiliki kombinasi kawasan perkotaan, wilayah industri, hingga daerah dengan akses kesehatan yang masih terbatas.
Baca juga: 59 Persen Pasien Kanker di Indonesia Berakhir Meninggal, Kenapa Bisa?
BRIN ingin melihat bagaimana layanan kesehatan digital dapat berjalan di wilayah dengan karakter sosial dan geografis yang beragam.
Hasil pembahasan seminar nantinya akan diarahkan menjadi rekomendasi kebijakan berbasis bukti atau evidence-based policy untuk mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional.
Masa Depan Layanan Kesehatan
Digitalisasi kesehatan kini mulai bergerak lebih jauh dari sekadar aplikasi konsultasi dokter.
Sistem kesehatan berbasis data diproyeksikan menjadi fondasi baru pelayanan publik kesehatan di Indonesia. Mulai dari sistem rujukan, rekam medis, pemantauan pasien, hingga respons darurat kesehatan akan semakin terhubung secara digital.
Baca juga: NASA Kirim Riset Tulang dan Ancaman Satelit ke Luar Angkasa
Namun, transformasi itu juga menuntut kesiapan besar. Tidak hanya teknologi, tetapi juga kesiapan regulasi, perlindungan data pasien, kualitas jaringan internet, dan kemampuan tenaga kesehatan dalam mengoperasikan sistem digital.
Karena itu, BRIN menilai sinergi pemerintah pusat, daerah, rumah sakit, peneliti, hingga industri teknologi akan menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi layanan kesehatan Indonesia ke depan. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.