
JAKARTA, mulamula.id – Cuaca antariksa mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, gangguan dari Matahari bisa berdampak langsung pada internet, satelit, navigasi pesawat, hingga jaringan listrik di Bumi.
Kini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memakai kecerdasan buatan untuk membaca ancaman tersebut lebih cepat.
Pusat Riset Antariksa BRIN memperkenalkan Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI), sebuah sistem prediksi cuaca antariksa berbasis Agentic AI atau kecerdasan buatan yang mampu bekerja secara otonom membaca data, menganalisis risiko, hingga menyusun laporan otomatis.
Cuaca antariksa adalah kondisi gangguan di luar atmosfer Bumi yang dipicu aktivitas Matahari seperti flare surya dan Coronal Mass Ejections (CMEs). Dampaknya bisa mengganggu satelit, sinyal GPS, komunikasi radio, bahkan infrastruktur kelistrikan.
Baca juga: BRIN Mulai Andalkan AI untuk Membaca Ancaman dari Matahari
Di era ketika hampir semua aktivitas bergantung pada sistem digital dan navigasi satelit, kemampuan membaca cuaca antariksa mulai dianggap sebagai kebutuhan strategis.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, mengatakan selama ini layanan cuaca antariksa masih banyak bergantung pada analisis manual yang memakan waktu.
Padahal, respons cepat menjadi kunci untuk mengurangi risiko gangguan teknologi.
“Selama ini, layanan cuaca antariksa operasional sangat bergantung pada sintesis manual data numerik dan analisis gambar yang rentan terhadap latensi manusia,” ujar Tiar dalam forum LINEAR di Kawasan Sains dan Teknologi Samaun Samadikun Bandung.
AI yang Tidak Dibiarkan “Bebas”
Salah satu masalah besar penggunaan AI dalam sains adalah potensi “halusinasi”, yaitu ketika AI menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tetapi sebenarnya keliru secara ilmiah.
Karena itu, BRIN tidak membiarkan sistem bekerja tanpa pagar pengaman.
Dalam pengembangannya, SWx AI dibuat dengan arsitektur yang lebih terkendali. Sistem memisahkan proses pengambilan data ilmiah dengan proses pembentukan narasi bahasa. AI juga dibatasi oleh parameter fisik tetap, seperti indeks badai geomagnetik dan klasifikasi flare surya.
Baca juga: AI, Drone, dan Satelit Kini Dipakai Buru Ladang Ganja di Indonesia
Artinya, AI tidak bebas “berimajinasi” di luar data ilmiah yang tersedia.
Pendekatan ini mulai menjadi tren baru dalam pengembangan AI untuk kebutuhan strategis. Bukan lagi sekadar mengejar AI yang pintar bicara, tetapi AI yang tetap tunduk pada logika sains dan batas data empiris.
Mengutip laman resmi BRIN secara moderat, pengembangan sistem ini juga diarahkan untuk mendukung layanan informasi cuaca antariksa nasional yang lebih cepat dan adaptif.

Bisa Membaca Grafik Sendiri
Hal menarik lain dari SWx AI adalah kemampuannya membaca visual ilmiah tanpa pelatihan khusus sebelumnya.
Teknologi ini memakai pendekatan zero-shot vision, yang memungkinkan AI memahami grafik dan peta data secara mandiri. Misalnya membaca peta VTEC atau kurva indeks gangguan geomagnetik.
Biasanya, model AI memerlukan pelatihan panjang sebelum memahami jenis visual tertentu. Namun sistem baru ini bisa langsung melakukan interpretasi dasar terhadap data visual ilmiah.
Baca juga: Mahasiswa ITB Ciptakan Parfum Berbasis AI, Siap Tampil di Paris 2026
SWx AI juga memiliki modul memori otomatis. Sistem dapat membandingkan kondisi hari ini dengan prediksi sebelumnya untuk mengurangi kesalahan analisis akibat “lupa konteks” yang sering terjadi pada AI konvensional.
Dengan dukungan Large Language Model (LLM) multimodal, sistem bahkan mampu membaca teks sekaligus gambar dalam satu proses kerja.
AI kemudian bisa mengakses API, membaca katalog aktivitas Matahari, memproses data lokal, lalu menghasilkan laporan otomatis hanya dalam hitungan detik.
Menuju AI Antariksa Nasional
BRIN menyebut laporan hasil sistem ini sudah dibuat dalam format dwibahasa Indonesia dan Inggris serta dapat langsung terhubung dengan platform Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS).
Ke depan, pengembangan akan diarahkan pada model lokal atau on-premise agar sistem tidak terus bergantung pada layanan cloud luar negeri.
Langkah ini penting karena data antariksa mulai dipandang sebagai bagian dari keamanan teknologi nasional.
Baca juga: Foto Pertama Artemis II Ungkap Sisi Bulan yang Tak Pernah Dilihat Manusia
Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, mengatakan teknologi prediksi cuaca antariksa akan semakin dibutuhkan di masa depan.
Bukan hanya untuk kepentingan riset, tetapi juga mendukung sistem teknologi modern yang makin bergantung pada satelit dan konektivitas global.
Indonesia mungkin belum menjadi negara peluncur roket besar. Namun, kemampuan membaca ancaman dari luar angkasa kini mulai menjadi bagian penting dari perlombaan teknologi modern. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.