
JAKARTA, mulamula.id – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai dipakai untuk membaca cuaca antariksa di Indonesia. Bukan sekadar eksperimen teknologi, langkah ini disiapkan untuk menghadapi risiko nyata yang bisa mengganggu satelit, GPS, sinyal komunikasi, hingga jaringan listrik.
Selama ini, layanan cuaca antariksa di Indonesia masih banyak dilakukan secara manual. Peneliti harus membaca data angka, menafsirkan grafik, hingga memeriksa citra aktivitas Matahari satu per satu. Prosesnya memakan waktu dan hasil analisanya bisa berbeda tergantung siapa yang membaca.
Situasi itu membuat Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mulai mengembangkan sistem baru bernama Space Weather Intelligent Forecasting System atau SWx AI.
Teknologi ini diperkenalkan dalam forum LINEAR, Kolokium Mingguan Pusat Riset Antariksa bertema Automating Space Weather Services with Agentic AI yang digelar secara daring, Rabu (13/5).
Matahari Bisa Ganggu Teknologi
Cuaca antariksa adalah kondisi aktivitas Matahari dan ruang angkasa yang memengaruhi Bumi. Gangguannya bisa muncul dalam bentuk badai Matahari, lonjakan partikel, hingga gangguan medan magnet.
Efeknya tidak kecil.
Baca juga: Standar Diuji Amerika, Lab BRIN Jadi Penentu Nasib Ekspor Pangan Indonesia
Gangguan cuaca antariksa dapat memengaruhi akurasi GPS, komunikasi radio, sistem navigasi penerbangan, bahkan kestabilan jaringan listrik modern yang bergantung pada satelit dan sistem digital.
Di era ekonomi digital, ketergantungan manusia terhadap teknologi berbasis satelit terus meningkat. Karena itu, sistem peringatan dini cuaca antariksa mulai dianggap penting, termasuk di Indonesia.
AI Jadi Asisten Peneliti
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan SWx AI dibangun menggunakan teknologi large language model (LLM) yang bekerja layaknya asisten pintar.
Sistem ini mampu mengambil data terbaru secara otomatis dari berbagai sumber, membaca hasil prediksi komputer, hingga menganalisis gambar pengamatan Matahari tanpa harus selalu diperiksa manual oleh manusia.

SWx AI juga dikembangkan di atas kerangka kerja Space Weather Information and Forecast Services atau SWIFtS.
Menurut Tiar, sistem tersebut dirancang agar lebih aman dari risiko “halusinasi AI”. Salah satu caranya dengan membatasi data yang dianalisis hanya pada rentang waktu tertentu, seperti 24 hingga 72 jam terakhir.
Baca juga: Rel Licin Bisa Picu Kecelakaan, BRIN Siapkan Teknologi Baru
Selain itu, sistem prediksi juga menggunakan aturan analisis yang sudah ditetapkan secara pasti.
“SWx AI dirancang agar lebih aman dari kesalahan informasi atau halusinasi AI,” ujar Tiar.
Bukan Sekadar Riset Laboratorium
Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, mengatakan pengembangan SWx AI diharapkan tidak berhenti sebagai proyek riset internal.
BRIN ingin teknologi ini menjadi sistem layanan cuaca antariksa yang lebih responsif dan aplikatif untuk publik.
Artinya, bukan hanya berguna bagi peneliti, tetapi juga dapat dimanfaatkan akademisi, operator teknologi, hingga masyarakat luas yang bergantung pada layanan digital dan komunikasi berbasis satelit.
Baca juga: Bangunan Bisa Kembali Tegak Usai Gempa, Ini Terobosan Damper Cerdas BRIN
Pengembangan sistem otomatis seperti ini juga menunjukkan arah baru riset Indonesia. AI mulai dipakai bukan hanya untuk membuat konten digital, tetapi juga untuk membaca risiko antariksa dan memperkuat sistem mitigasi teknologi nasional.
Di tengah meningkatnya ketergantungan manusia pada internet, satelit, dan navigasi digital, kemampuan membaca aktivitas Matahari secara cepat bisa menjadi bagian penting dari sistem keamanan teknologi masa depan.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.