Bangunan Bisa Kembali Tegak Usai Gempa, Ini Terobosan Damper Cerdas BRIN

Warga melintasi puing-puing pascatsunami di Aceh, 26 Desember 2004. Di negara rawan gempa seperti Indonesia, inovasi seperti damper gempa cerdas BRIN menjadi kunci untuk mengurangi kerusakan dan mempercepat pemulihan bangunan. Foto: Read Once/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id Gempa bumi datang tanpa peringatan. Dampaknya bisa menghancurkan dalam hitungan detik. Di negara seperti Indonesia, risiko ini bukan lagi kemungkinan, tapi realitas harian.

Di tengah situasi itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan pendekatan baru. Mereka mengembangkan damper gempa cerdas berbasis shape memory steel, material baja yang mampu “mengingat” bentuk aslinya.

Teknologi ini mengubah cara bangunan merespons gempa. Bukan sekadar menahan, tapi juga memulihkan diri.

Dari Rusak Jadi Pulih

Selama ini, damper gempa konvensional bekerja dengan menyerap energi melalui deformasi permanen. Artinya, setelah gempa, komponen mengalami kerusakan dan harus diganti. Ini membuat biaya pemulihan tinggi dan waktu perbaikan tidak singkat.

Pendekatan baru dari BRIN mencoba memutus pola tersebut.

Baca juga: Ciremai Simpan Jejak Gempa 20 Ribu Tahun, Kuningan Pernah Bergeser

Damper berbasis shape memory steel mampu menyerap energi sekaligus mengembalikan struktur ke posisi semula. Efek ini dikenal sebagai self-centering, di mana bangunan tidak hanya bertahan, tetapi juga “bangkit” setelah diguncang.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Efendi, menjelaskan bahwa kemampuan ini berasal dari struktur mikro material yang dapat berubah dan kembali secara reversibel.

“Energi gempa diserap melalui deformasi, tetapi material bisa kembali ke bentuk awalnya,” jelasnya.

Prototipe damper gempa cerdas berbasis shape memory steel yang dikembangkan BRIN. Teknologi ini mampu meredam getaran sekaligus mengembalikan struktur ke posisi semula setelah gempa. Foto: Dok. BRIN.
Tetap Berfungsi Setelah Gempa

Dampaknya tidak kecil. Bangunan yang dilengkapi teknologi ini berpotensi tetap berfungsi setelah gempa terjadi.

Rumah tidak harus ditinggalkan terlalu lama. Kantor bisa kembali digunakan lebih cepat. Infrastruktur penting tidak langsung lumpuh.

Konsep ini dikenal sebagai post-earthquake functionality. Dalam konteks kota besar, ini berarti aktivitas ekonomi tidak terhenti total dan masyarakat bisa pulih lebih cepat.

Lebih Tahan, Lebih Hemat

Keunggulan lain terletak pada daya tahannya. Damper ini dirancang mampu bekerja berulang tanpa penurunan performa yang signifikan. Berbeda dengan sistem lama yang cenderung melemah setelah satu kejadian besar.

Baca juga: Gempa Gunung Kidul Terhubung dengan Zona Megathrust

Artinya, kebutuhan perawatan bisa ditekan. Penggantian komponen tidak perlu sering dilakukan. Dalam jangka panjang, biaya menjadi lebih efisien.

Bagi proyek infrastruktur, ini bukan sekadar keunggulan teknis, tapi juga pertimbangan ekonomi.

Dari Laboratorium ke Lapangan

Saat ini, prototipe damper gempa cerdas ini sudah berhasil diuji di laboratorium. Langkah berikutnya adalah implementasi di dunia nyata.

BRIN mendorong agar teknologi ini bisa diterapkan pada berbagai infrastruktur, mulai dari bangunan gedung hingga jembatan.

Namun, tantangannya tidak ringan. Adopsi teknologi baru sering terbentur biaya awal, standar konstruksi yang belum menyesuaikan, hingga kesiapan industri.

Di titik ini, peran kebijakan menjadi kunci.

Tanpa dukungan regulasi dan insentif, inovasi berisiko berhenti di tahap riset. Padahal, di negara yang berada di cincin api seperti Indonesia, teknologi semacam ini mulai bergeser dari sekadar opsi menjadi kebutuhan.

“Dengan teknologi yang tepat, kita bisa mengurangi kerugian ekonomi dan menyelamatkan lebih banyak nyawa,” kata Efendi. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *