
MAKKAH, mulamula.id – Ibadah haji bukan lagi sekadar soal perjalanan spiritual. Di balik jutaan langkah jemaah menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina, ada sistem logistik raksasa yang kini mulai berubah wajah.
Tahun ini, layanan konsumsi haji Indonesia mulai masuk fase baru. Serba digital, terukur, dan berbasis pemantauan real-time.
Kementerian Haji dan Umrah RI melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mulai menerapkan sistem digital untuk mengelola distribusi makanan jemaah selama musim haji 1447 H/2026 M.
Transformasi ini penting karena konsumsi menjadi salah satu sektor paling menentukan daya tahan fisik jemaah, terutama menjelang fase Armuzna yang dikenal sangat menguras tenaga.
Layanan konsumsi haji adalah sistem penyediaan makanan dan minuman bagi jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci agar kondisi fisik mereka tetap stabil.
Baca juga: Kemenhaj Minta Jemaah Hemat Tenaga, Fase Terberat Haji Dimulai
Tahun ini skalanya sangat besar.
Sebanyak 51 dapur katering harus melayani distribusi ke 177 hotel yang dihuni 527 kloter jemaah Indonesia di Makkah. Dalam kondisi seperti itu, kesalahan kecil bisa berdampak besar.
Karena itu, PPIH mulai mengintegrasikan seluruh rantai distribusi makanan ke dalam sistem digital.
Mulai dari pencatatan distribusi, monitoring jumlah porsi, hingga verifikasi layanan kini dilakukan secara real-time.
“Pada tahun ini pengelolaan data konsumsi mulai terintegrasi secara digital, mulai dari pencatatan distribusi, monitoring jumlah porsi, hingga verifikasi layanan,” ujar Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi, Indri Hapsari, di Makkah.
Sistem ini membantu petugas membaca potensi kendala lebih cepat. Jika ada keterlambatan distribusi atau ketidaksesuaian jumlah porsi, koordinasi bisa langsung dilakukan tanpa menunggu laporan manual.
Hasilnya mulai terlihat.
Hingga pertengahan Mei 2026, lebih dari 1.193.534 boks makanan tercatat telah berhasil didistribusikan kepada jemaah tanpa gangguan besar.
Angka itu menunjukkan bahwa digitalisasi haji mulai bergerak dari sekadar administrasi menuju pengelolaan layanan berbasis data.
Gizi Jadi Prioritas
Perubahan tidak hanya terjadi pada sistem distribusi. Isi piring jemaah juga mulai diperhatikan lebih serius.
Menu makanan tahun ini disusun dengan pendekatan keseimbangan gizi dan penyesuaian selera khas Indonesia. Variasi lauk diperbanyak agar jemaah tidak cepat bosan dan tetap memiliki nafsu makan selama menjalani ibadah.
PPIH juga menambahkan nutrisi pelengkap di luar makanan utama.
Baca juga: Makkah Memanas, Suhu 42 Derajat Mulai Uji Jemaah Haji
Jemaah rutin mendapat susu, buah segar, dan air mineral tambahan sebagai bagian dari strategi menjaga stamina.
“Penyusunan menu dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan gizi, variasi lauk, dan penyesuaian selera jemaah haji Indonesia,” kata Indri.
Langkah ini bukan tanpa alasan.
Cuaca ekstrem di Arab Saudi dan aktivitas fisik tinggi membuat risiko kelelahan pada jemaah meningkat tajam, terutama pada kelompok lansia.
Karena itu, layanan konsumsi kini mulai dipandang sebagai bagian penting dari manajemen kesehatan haji modern.
Armuzna Jadi Ujian
Fase paling berat masih menunggu.
Saat jemaah bergerak ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina, tekanan logistik akan meningkat berkali-kali lipat.
PPIH mulai menyiapkan pola distribusi khusus agar kebutuhan energi jemaah tetap terpenuhi selama puncak ibadah.
Setibanya di Arafah, jemaah akan langsung menerima tiga botol air mineral sebagai suplai awal.
Selama wukuf pada 8–9 Dzulhijjah, jemaah dijamin mendapatkan maksimal lima kali makan penuh.
Baca juga: Bir Ali, Gerbang Spiritual Jemaah Sebelum Memasuki Tanah Suci
Sebelum bergerak ke Muzdalifah pada malam hari, petugas juga akan membagikan paket konsumsi tambahan sebagai bekal perjalanan.
Sementara di Mina, distribusi logistik kembali diperkuat.
Mulai 10 hingga 13 Dzulhijjah, jemaah akan mendapatkan suplai makanan maksimal sepuluh kali untuk menjaga kondisi fisik tetap stabil selama prosesi lempar jumrah.
Transformasi ini menunjukkan bahwa pengelolaan haji Indonesia mulai bergerak ke arah pelayanan berbasis data dan mitigasi risiko.
Di tengah jutaan pergerakan manusia dalam waktu singkat, makanan ternyata bukan hanya soal kenyang, tetapi bagian penting dari strategi menjaga keselamatan jemaah. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.