
JAKARTA, mulamula.id – Ibadah haji bukan lagi hanya soal kesiapan spiritual. Di tengah pergerakan jutaan manusia menuju fase puncak ibadah, kemampuan menjaga tenaga kini menjadi bagian penting dari keselamatan jemaah.
Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mulai mengingatkan jemaah haji Indonesia untuk mengurangi aktivitas yang tidak mendesak dan fokus menjaga kondisi fisik menjelang fase Armuzna, rangkaian ibadah paling padat dan menguras energi dalam pelaksanaan haji.
Secara sederhana, fase puncak haji adalah periode inti ibadah ketika jemaah bergerak menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina dalam waktu yang sangat singkat dengan mobilitas tinggi dan kepadatan ekstrem.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan jemaah perlu mulai menghemat tenaga sejak sekarang. Menurut dia, kesiapan fisik menjadi faktor penting agar ibadah dapat dijalani dengan aman dan lancar.
“Jemaah perlu mengutamakan kesehatan. Hemat tenaga, cukup istirahat, makan tepat waktu, minum air putih yang cukup, dan selalu ikuti arahan petugas,” ujar Maria di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Pergerakan Makin Padat
Memasuki hari ke-21 operasional haji, arus pergerakan jemaah Indonesia terus meningkat. Sebanyak 341 kloter dengan 132.057 jemaah dan 1.361 petugas telah diberangkatkan ke Arab Saudi.
Dari jumlah tersebut, 240 kloter dengan 92.767 jemaah dan 960 petugas sudah tiba di Makkah setelah sebelumnya berada di Madinah. Sementara untuk gelombang kedua melalui Jeddah, tercatat 67 kloter dengan 25.541 jemaah dan 269 petugas telah masuk ke Arab Saudi.
Baca juga: Makkah Memanas, Suhu 42 Derajat Mulai Uji Jemaah Haji
Angka itu menunjukkan skala besar mobilitas jemaah yang harus diatur secara ketat dalam waktu relatif singkat.
Kemenhaj kini mulai menempatkan disiplin pergerakan dan pengelolaan stamina sebagai kunci utama menghadapi puncak haji 2026.
Jangan Memaksakan Diri
Kemenhaj juga memberi perhatian khusus kepada jemaah lansia, disabilitas, dan kelompok risiko tinggi. Mereka diminta segera melapor kepada petugas jika mengalami gangguan kesehatan sekecil apa pun.
Keluhan seperti pusing, sesak napas, nyeri dada, demam, batuk berat, hingga kondisi tubuh yang mulai melemah diminta tidak diabaikan.
“Jangan menunggu kondisi memburuk. Kesehatan adalah bekal utama menuju puncak haji,” tegas Maria.
Baca juga: Haji Belum Puncak, Jemaah Diminta Stop City Tour Dulu
Hingga saat ini, tercatat 67 jemaah masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Arab Saudi. Kemenhaj juga mencatat total 24 jemaah wafat di Arab Saudi selama operasional haji berlangsung.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan haji modern tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga ketahanan fisik dan kemampuan beradaptasi dalam situasi sangat padat.
Disiplin Jadi Kunci
Selain soal kesehatan, Kemenhaj mulai memperketat pengaturan pergerakan jemaah menjelang Armuzna. Jemaah diminta mengikuti arahan petugas, baik saat aktivitas menuju Masjidil Haram, perjalanan Madinah-Makkah, maupun saat persiapan fase puncak haji.
Khusus jemaah gelombang kedua yang tiba melalui Jeddah, pemerintah juga meminta jemaah mengenakan kain ihram sejak dari embarkasi karena proses miqat dilakukan dalam perjalanan menuju Arab Saudi.
Baca juga: Bus Sholawat 24 Jam Jadi Penyelamat Jemaah Haji di Tengah Panas 43 Derajat
KBIHU turut diminta memperkuat edukasi kesehatan, keselamatan, dan kedisiplinan jemaah, bukan hanya fokus pada bimbingan manasik.
Dalam praktiknya, haji modern kini semakin bergantung pada disiplin kolektif. Ketika jutaan orang bergerak hampir bersamaan, ketertiban menjadi bagian penting dari perlindungan jemaah.
Kemenhaj berharap seluruh jemaah dapat menjaga kondisi fisik, mematuhi aturan pergerakan, dan fokus mempersiapkan diri menghadapi fase inti ibadah haji dalam beberapa hari ke depan. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.