
JAKARTA, mulamula.id – Beberapa tahun terakhir, media sosial dipenuhi gaya hidup serba cepat. Nongkrong estetik, checkout tanpa pikir panjang, liburan impulsif, hingga budaya “healing” yang nyaris menjadi kebutuhan sosial baru.
Namun perlahan, arah itu mulai berubah.
Orang masih belanja. Masih nongkrong. Masih menikmati hidup. Tapi, banyak yang kini mulai lebih hati-hati mengatur uang.
Survei Konsumen Bank Indonesia April 2026 menunjukkan satu sinyal menarik. Proporsi tabungan masyarakat naik menjadi 18,2 persen, sementara rasio cicilan turun menjadi 9,7 persen.
Secara sederhana, rasio tabungan menunjukkan seberapa besar pendapatan masyarakat yang disimpan, sedangkan rasio cicilan menggambarkan porsi penghasilan yang habis untuk membayar utang atau kredit.
Baca juga: Orang Indonesia Masih Optimistis, tapi Mulai Lebih Pilih-pilih Belanja
Publik Indonesia mulai lebih mencari rasa aman finansial dibanding sekadar mengejar gaya hidup konsumtif.
Perubahan ini muncul di tengah keyakinan ekonomi yang sebenarnya masih cukup kuat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 berada di level optimistis, yakni 123,0.
Artinya, masyarakat belum merasa ekonomi sedang buruk. Tetapi, cara mereka menghadapi masa depan mulai berbeda.
Uang Tak Lagi Sekadar Gaya
Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial ikut membentuk budaya konsumsi baru.
Banyak orang merasa perlu terlihat produktif, sibuk, sukses, dan menikmati hidup secara visual. Dari kopi harian, gadget baru, outfit, konser, staycation, sampai tren self reward.
Masalahnya, tidak semua orang benar-benar siap secara finansial.
Karena itu, kenaikan tren menabung dalam survei BI bisa dibaca sebagai perubahan psikologi sosial. Publik mulai sadar bahwa stabilitas lebih penting dibanding sekadar terlihat baik-baik saja.
Fenomena ini makin terasa di kelompok urban muda yang kini mulai akrab dengan istilah:
- dana darurat,
- budgeting,
- financial reset,
- sampai conscious spending.
Belanja tidak hilang. Tetapi, keputusan membeli mulai lebih dipikirkan.
Generasi yang Terbiasa Krisis
Menariknya, kelompok usia 20–30 tahun justru menjadi kelompok paling optimistis terhadap kondisi ekonomi Indonesia dengan indeks mencapai 130,4.
Ini menunjukkan generasi muda Indonesia belum kehilangan harapan.
Namun, optimisme generasi sekarang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mereka tumbuh di tengah pandemi, ancaman PHK digital, tekanan biaya hidup, ketidakpastian global, dan perubahan teknologi yang sangat cepat. Akibatnya, banyak anak muda menjadi lebih realistis terhadap uang.
Sebagian mulai sadar. Pendapatan bisa berubah cepat, pekerjaan tidak selalu stabil, dan tren hidup mewah tidak selalu berarti aman secara finansial.
Karena itu, rasa aman kini menjadi “kemewahan baru”.
Bukan lagi sekadar barang mahal atau gaya hidup yang terlihat ramai di media sosial.
Ekonomi Masih Bergerak
Data BI juga menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat masih cukup sehat. Persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini naik menjadi 116,5. Sementara persepsi terhadap lapangan kerja ikut meningkat menjadi 108,8.
Ini penting.
Artinya, masyarakat tidak sedang berhenti bergerak. Orang masih bekerja, membeli barang, bepergian, dan menjalankan aktivitas ekonomi seperti biasa.
Tetapi, pola konsumsi mulai berubah ke arah yang lebih rasional.
Publik tampaknya mulai memilih, ana kebutuhan, mana keinginan, dan mana yang sebenarnya hanya tekanan sosial digital.
Perubahan itu mungkin tidak langsung terlihat besar.
Namun dari cara orang mulai menahan cicilan, menambah tabungan, dan lebih selektif belanja, ada satu pesan yang mulai terasa:
Indonesia mungkin sedang memasuki era baru hubungan masyarakat dengan uang.
Bukan lagi sekadar tentang terlihat mampu.
Tetapi, tentang bisa bertahan lebih lama. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.