
JAKARTA, mulamula.id – Mobil tanpa sopir terus berkembang. Sistem kecerdasan buatannya makin pintar membaca jalan, mengenali hambatan, hingga mengambil keputusan dalam hitungan detik. Namun, ada satu persoalan yang mulai mendapat perhatian serius, bagaimana jika cara mobil itu berkendara justru diam-diam mempercepat kerusakan fisiknya sendiri?
Di tengah perlombaan global mengembangkan kendaraan otonom, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai mendorong pendekatan baru yang tidak hanya fokus pada “otak” kendaraan, tetapi juga kondisi tubuhnya.
BRIN mengembangkan kerangka digital twin atau “kembaran digital” untuk memantau hubungan antara perilaku kendaraan otonom dan kondisi struktur fisiknya secara real time.
Baca juga: Rel Kereta Disebut Tak Punya Medan Magnet yang Bisa Bikin Mobil Mogok
Digital twin adalah representasi virtual kendaraan yang dapat meniru kondisi kendaraan asli secara simultan. Teknologi ini memungkinkan sistem memantau bagaimana keputusan kendaraan otonom, seperti pengereman mendadak, akselerasi, atau manuver belok, berdampak pada rangka dan komponen kendaraan dalam jangka panjang.
Pendekatan ini menjadi penting karena sebagian besar pengujian kendaraan otonom selama ini masih berfokus pada kemampuan sistem menghindari kecelakaan dan membaca situasi jalan.
Padahal, pola berkendara otomatis juga bisa menciptakan tekanan terus-menerus pada struktur kendaraan.
Bukan Sekadar Hindari Tabrakan
Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Sains Data dan Informasi BRIN, Nimas Ayu Untariyati, mengatakan pendekatan digital twin menawarkan cara pandang baru dalam menilai keselamatan kendaraan otonom.
“Selama ini, evaluasi kendaraan otonom lebih banyak berfokus pada kecerdasan sistem dalam merespons kondisi jalan,” kata Nimas, seperti dikutip dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Menurutnya, integrasi antara perilaku sistem dan kondisi fisik kendaraan memungkinkan potensi kerusakan struktural dipantau lebih dini sebelum berubah menjadi masalah serius.
Baca juga: Rel Licin Bisa Picu Kecelakaan, BRIN Siapkan Teknologi Baru
Artinya, kendaraan tidak hanya “pintar mengemudi”, tetapi juga mampu memahami kondisi tubuhnya sendiri.
Konsep ini semakin relevan karena kendaraan otonom pada masa depan diperkirakan akan beroperasi lebih lama dan lebih intens dibanding kendaraan biasa, terutama untuk layanan logistik, transportasi publik, hingga robotaxi.
Sensor Jadi Kunci
Salah satu keunggulan sistem yang dikembangkan BRIN adalah kemampuannya memanfaatkan sensor bawaan kendaraan tanpa perlu perangkat tambahan yang rumit.
Data dari sensor tersebut dipakai untuk menghitung tekanan, distribusi beban, hingga potensi kelelahan material atau fatigue pada struktur kendaraan.
Fatigue adalah kondisi ketika material mengalami penurunan kekuatan akibat tekanan berulang dalam jangka panjang.
Dalam kendaraan otonom, pola akselerasi, pengereman, dan manuver otomatis yang terus berlangsung dapat menciptakan akumulasi tekanan yang sulit terlihat secara kasat mata.
Baca juga: Robotaxi Tak Lagi Kebal Hukum, California Siap Tilang Mobil Tanpa Sopir
Kerangka digital twin yang dikembangkan BRIN bekerja melalui tiga tahap utama.
Pertama, tahap perilaku untuk membaca keputusan sistem kendaraan. Kedua, tahap fisik gerak untuk menghitung distribusi beban akibat manuver. Ketiga, tahap kondisi struktur untuk mengevaluasi potensi kerusakan pada rangka dan suspensi.
Ketiga proses itu berjalan terus selama kendaraan beroperasi.
Masa Depan Perawatan Kendaraan
Pendekatan ini membuka peluang lahirnya sistem predictive maintenance atau perawatan prediktif pada kendaraan otonom.
Dengan sistem tersebut, kendaraan dapat mendeteksi tanda-tanda keausan lebih awal sebelum terjadi kerusakan besar.
Teknologi seperti ini dipandang penting karena industri otomotif global mulai bergerak menuju kendaraan berbasis perangkat lunak dan kecerdasan buatan.
Ke depan, keselamatan kendaraan kemungkinan tidak lagi hanya diukur dari kemampuan menghindari tabrakan, tetapi juga kemampuan menjaga kondisi strukturalnya tetap aman dalam jangka panjang.
Baca juga: AI, Drone, dan Satelit Kini Dipakai Buru Ladang Ganja di Indonesia
Riset BRIN ini juga menunjukkan bahwa pengembangan kendaraan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan AI yang pintar mengambil keputusan. Sistemnya juga harus mampu memahami dampak keputusan itu terhadap umur dan kesehatan kendaraan.
Mengutip laman resmi BRIN, hasil penelitian tersebut berpotensi mendukung pengembangan standar keselamatan baru, sistem perawatan prediktif, hingga desain kendaraan otonom yang lebih adaptif terhadap pola operasional otomatis. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.