Jarum Infus Sering Salah Tusuk? Kini Ada AI Pencari Pembuluh Darah

Peneliti menunjukkan prototype Vein Finder berbasis AI yang dikembangkan untuk membantu tenaga medis menemukan pembuluh darah vena lebih akurat. Foto: BRIN.

JAKARTA, mulamula.id Banyak orang takut jarum suntik bukan karena sakitnya. Tapi, karena harus ditusuk berkali-kali saat tenaga medis kesulitan menemukan pembuluh darah vena.

Masalah itu ternyata juga dialami peneliti muda dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rini Khamimatul Ula. Pengalaman pribadi itulah yang kemudian mendorong lahirnya inovasi Vein Finder, alat pencari pembuluh darah berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Vein Finder adalah perangkat yang membantu tenaga kesehatan menemukan pembuluh darah vena lebih cepat dan akurat sebelum tindakan infus atau pengambilan darah dilakukan.

Teknologi ini dikembangkan BRIN melalui Pusat Riset Elektronika bersama tim dari Institut Teknologi Sumatera dan Universitas Negeri Surabaya.

Bagi pasien dengan vena yang tipis, kecil, atau sulit terlihat, alat seperti ini bisa mengurangi risiko salah tusuk yang selama ini sering terjadi di ruang IGD maupun laboratorium medis.

Berawal dari Pengalaman Pribadi

Rini mengaku dirinya termasuk orang yang sulit ditemukan pembuluh darah venanya. Kondisi itu membuat proses pemasangan infus sering berlangsung lama dan menyakitkan.

Dari situ muncul ide sederhana. Bagaimana jika ada alat yang bisa membantu tenaga medis melihat lokasi vena secara lebih jelas?

Baca juga: Telemedicine Jadi Senjata Baru Lawan Ketimpangan Kesehatan

Teknologi yang kemudian dikembangkan tidak sekadar menampilkan gambar pembuluh darah. Sistem ini dibekali AI agar bisa memberikan keputusan cepat apakah area yang terdeteksi benar-benar vena yang aman untuk tindakan intravena atau bukan.

Artinya, alat tidak hanya “melihat”, tetapi juga “menganalisis”.

Cara Kerja Teknologi AI Ini

Vein Finder menggunakan kombinasi teknologi optik, pengolahan citra digital, dan deep learning.

Sistemnya terdiri dari LED near infrared 850 nanometer, kamera NoIR tanpa filter inframerah, Raspberry Pi, dan algoritma Convolutional Neural Network (CNN).

Saat alat diarahkan ke kulit pasien, cahaya inframerah akan diserap hemoglobin dalam darah. Pantulan cahaya kemudian ditangkap kamera dan diproses sistem AI untuk membaca pola pembuluh darah vena.

Baca juga: Titanium Baru Buatan BRIN Disebut Bisa Bikin Implan Gigi Lebih Awet dan Aman

AI adalah teknologi yang memungkinkan mesin mempelajari pola data dan mengambil keputusan secara otomatis berdasarkan analisis tertentu.

Dalam praktiknya, perangkat ini dapat memberikan jawaban sederhana berupa “yes” atau “no” kepada tenaga medis untuk memastikan titik vena yang tepat.

Kemampuan itu membuat Vein Finder berbeda dari alat pencari vena biasa yang selama ini hanya menampilkan gambar tanpa analisis tambahan.

Prototype Vein Finder berbasis AI yang dikembangkan peneliti Indonesia untuk membantu proses pemasangan infus.
Foto: BRIN
Bisa Membaca Kedalaman Vena

Keunggulan lain dari teknologi ini adalah kemampuannya membaca kedalaman dan lebar pembuluh darah.

Fitur tersebut penting karena setiap pasien memiliki struktur pembuluh darah yang berbeda. Pada anak-anak, lansia, atau pasien tertentu, vena bisa lebih sulit ditemukan.

Baca juga: AI Mulai Baca Cuaca Antariksa, BRIN Siapkan Sistem Peringatan Dini Otomatis

Tim peneliti bahkan membayangkan perangkat ini nantinya bisa diintegrasikan langsung dengan alat penusuk jarum otomatis untuk tindakan intravena.

Jika pengembangan berjalan mulus, proses pemasangan infus di masa depan bisa menjadi jauh lebih cepat dan minim kesalahan.

Disesuaikan dengan Kulit Orang Indonesia

Salah satu tantangan teknologi kesehatan impor adalah tidak selalu cocok digunakan pada karakteristik kulit masyarakat Indonesia.

Karena itu, tim BRIN mengembangkan sistem yang dapat bekerja pada berbagai pigmen kulit.

Baca juga: Dari Abu Sawit ke Energi Masa Depan

Pendekatan ini penting karena warna kulit memengaruhi kemampuan sensor dan kamera dalam membaca pantulan cahaya inframerah.

Dalam penjelasan yang dipublikasikan melalui situs resmi BRIN, tim peneliti menyebut perangkat ini juga dirancang lebih portabel dan lebih murah dibanding alat serupa dari negara maju.

Harga yang lebih terjangkau menjadi faktor penting agar teknologi kesehatan seperti ini tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi bisa dipakai di fasilitas kesehatan daerah.

Sudah Dipatenkan

Saat ini prototype Vein Finder sudah memiliki paten dan hak cipta. Pengujian juga telah dilakukan pada pasien remaja hingga usia 40 tahun.

Namun, tim masih menghadapi tantangan untuk uji coba pada pasien anak-anak dan lansia karena keterbatasan akses pengujian.

Ke depan, BRIN menargetkan desain perangkat yang lebih compact, mudah digunakan, dan mampu bekerja secara real-time.

Baca juga: Mahasiswa ITB Ciptakan Parfum Berbasis AI, Siap Tampil di Paris 2026

Jika berhasil dikembangkan lebih jauh, alat ini bukan hanya membantu tenaga medis bekerja lebih cepat, tetapi juga membuat pengalaman pasien menjadi lebih manusiawi.

Sebab bagi sebagian orang, satu tusukan jarum saja kadang sudah cukup membuat trauma. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *