Dari Abu Sawit ke Energi Masa Depan

Riset nanosilika dari limbah sawit mulai diarahkan untuk mendukung perangkat elektronik wearable generasi masa depan. Foto: Ilustrasi/ Burst / Pexels.

JAKARTA, mulamula.idLimbah sawit selama ini identik dengan persoalan lingkungan. Menumpuk. Kotor. Nilai ekonominya rendah. Namun di tangan para peneliti, abu boiler dari industri kelapa sawit justru mulai dilihat sebagai bahan baku teknologi masa depan.

Bukan untuk pupuk. Bukan juga sekadar campuran material bangunan.

Peneliti kini mengolahnya menjadi nanosilika, material super kecil berukuran sekitar 8–10 nanometer yang mulai dipakai dalam pengembangan perangkat elektronik fleksibel dan teknologi penyimpanan energi generasi baru.

Langkah ini sedang dikembangkan oleh Pusat Riset Elektronika BRIN. Fokusnya bukan sekadar mengurangi limbah industri sawit, tetapi juga mendorong lahirnya material strategis untuk teknologi wearable yang makin berkembang.

Dari Abu Jadi Material Canggih

Abu boiler sawit sebenarnya menyimpan kandungan silika cukup tinggi, mencapai 50–65 persen. Selama bertahun-tahun, potensi itu belum banyak dimanfaatkan.

Padahal silika bisa diolah menjadi nanosilika, material dengan karakter unik karena memiliki luas permukaan besar dan struktur pori yang bisa direkayasa sesuai kebutuhan teknologi.

Nanosilika banyak digunakan dalam dunia modern. Mulai dari kosmetik, biomedis, konstruksi, elektronik, hingga sektor energi.

Baca juga: Rel Licin Bisa Picu Kecelakaan, BRIN Siapkan Teknologi Baru

Peneliti BRIN, Rike Yudianti, menjelaskan bahwa timnya sedang mengembangkan sistem penyimpanan energi fleksibel untuk perangkat elektronik wearable.

Teknologi wearable sendiri merujuk pada perangkat elektronik yang bisa dipakai dan mengikuti gerakan tubuh manusia. Mulai dari jam pintar, sensor kesehatan, hingga perangkat elektronik fleksibel masa depan.

Energi yang Bisa Ditekuk

Tantangan terbesar perangkat wearable bukan hanya soal ukuran kecil. Sistem penyimpanan energinya juga harus lentur, ringan, dan tetap stabil saat ditekuk.

Di sinilah superkapasitor fleksibel mulai dikembangkan.

Superkapasitor adalah perangkat penyimpanan energi yang mampu mengisi dan melepas energi sangat cepat. Teknologi ini dianggap penting untuk mendukung perangkat elektronik masa depan.

Namun pengembangan versi fleksibelnya tidak mudah.

Baca juga: Standar Diuji Amerika, Lab BRIN Jadi Penentu Nasib Ekspor Pangan Indonesia

Selama ini banyak sistem masih memakai elektrolit cair. Masalahnya, cairan mudah bocor, menguap, dan performanya menurun saat perangkat sering dilipat atau digunakan dalam suhu tinggi.

Karena itu, BRIN mulai mengembangkan elektrolit padat berbasis nanosilika.

Material nanosilika membantu memperbaiki kontak antara elektrolit dan elektroda sekaligus memperlancar perpindahan ion di dalam sistem penyimpanan energi.

Hasilnya, stabilitas elektrokimia perangkat bisa lebih terjaga meski digunakan dalam kondisi fleksibel.

Sawit dan Teknologi Masa Depan

Riset ini memberi sudut pandang baru terhadap industri sawit Indonesia.

Selama ini sawit lebih sering dibicarakan dalam konteks deforestasi, emisi karbon, atau konflik lingkungan. Kini, limbah sawit justru mulai dilihat sebagai sumber material bernilai tinggi untuk teknologi canggih.

Pendekatan seperti ini juga membuka peluang ekonomi sirkular.

Artinya, limbah industri tidak lagi berhenti sebagai sampah, tetapi diolah kembali menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Baca juga: Pakan Ikan Bisa Lepas dari Impor? BRIN Uji Solusi dari Kecipir

BRIN menyebut pengembangan ini dilakukan bersama perguruan tinggi di Indonesia dan Jepang. Selain materialnya, tim peneliti juga sedang merancang strategi perakitan perangkat agar performanya tetap stabil dalam kondisi lentur.

Jika berhasil dikembangkan lebih jauh, teknologi ini berpotensi mendukung generasi baru perangkat elektronik yang lebih ringan, fleksibel, dan efisien energi.

Bukan tidak mungkin, limbah sawit yang dulu dianggap masalah justru ikut menjadi bagian dari teknologi masa depan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *