
Mulamula.id – Panas ekstrem sedang menjadi cerita besar di Eropa. Sejak akhir Juni 2026, gelombang panas melanda banyak negara, memecahkan rekor suhu, dan mengganggu aktivitas warga.
Ini bukan sekadar kabar cuaca dari benua yang jauh. Buat Indonesia, isu ini penting dibaca sebagai alarm. Sebab, panas ekstrem bisa memengaruhi kesehatan, tidur, produktivitas, transportasi, sekolah, kampus, sampai cara kota dirancang.
Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO menyebut gelombang panas luar biasa di Eropa telah memecahkan banyak rekor suhu. Dampaknya meluas ke kesehatan manusia, ekosistem, pertanian, infrastruktur, dan produktivitas tenaga kerja. Dalam rilis resminya, WMO juga mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni yang dikaitkan dengan panas ekstrem di Eropa. Lebih dari 150 juta orang disebut terdampak.
Bagi pembaca muda, pesan besarnya sederhana. Panas ekstrem bukan cuma soal “hari ini gerah banget”. Dalam skala tertentu, panas bisa menjadi risiko kesehatan dan masalah kota.
Bukan Cuma Gerah
WMO mengutip John Kennedy, Head of Climate Information WMO, yang menyebut gelombang panas seperti ini adalah gambaran yang sudah diperkirakan muncul dalam iklim yang terus berubah. Kennedy juga mengatakan Eropa telah menghangat sekitar dua derajat Celsius dalam 50 tahun sejak gelombang panas besar pada 1976.
Angka dua derajat mungkin terdengar kecil. Namun, dampaknya bisa terasa besar dalam kehidupan sehari-hari.
Hari panas bisa bertambah. Malam bisa makin sulit dingin. Aktivitas luar ruang jadi lebih berat. Tubuh lebih cepat lelah. Konsentrasi menurun. Orang yang bekerja di jalan, proyek, sawah, pelabuhan, atau ruang terbuka akan merasakan beban paling besar.
Baca juga: Ketika Dunia Memanas, Indonesia yang Paling Kepanasan
WHO menyebut panas sebagai bahaya kesehatan lingkungan dan pekerjaan yang penting. Panas dapat memperburuk penyakit seperti gangguan jantung, diabetes, asma, serta meningkatkan risiko kecelakaan dan heatstroke. WHO juga mencatat sekitar 489.000 kematian terkait panas terjadi setiap tahun pada periode 2000–2019 berdasarkan estimasi studi.
Kenapa Malam Panas Berbahaya?
Satu hal yang sering luput adalah suhu malam. Saat malam, tubuh seharusnya punya waktu untuk pulih. Suhu inti tubuh turun. Sistem kardiovaskular ikut beristirahat. Namun, ketika malam tetap panas, tubuh tidak mendapat jeda.
Dalam rilis WMO, Armel Castellan dari WHO-WMO Climate and Health Joint Office menjelaskan bahwa suhu minimum dapat lebih penting untuk menilai dampak kesehatan gelombang panas dibandingkan suhu puncak pada sore hari. Artinya, malam yang tetap panas bisa membawa risiko lebih besar daripada yang sering kita kira.
Ini dekat dengan pengalaman banyak orang di kota-kota Indonesia. Siang panas. Malam tetap gerah. Kamar sulit dingin. Tidur tidak nyenyak. Besok pagi, aktivitas tetap harus jalan.
Bagi Gen Z, ini bisa terasa dalam bentuk yang sangat sehari-hari. Susah tidur, cepat capek, malas bergerak, sulit fokus belajar, atau gampang emosi saat cuaca terlalu panas.
Kota Ikut Menentukan
Masalah panas tidak hanya datang dari langit. Kota juga punya peran.
BMKG pernah mengingatkan soal Urban Heat Island atau UHI. Ini adalah kondisi ketika suhu di kawasan perkotaan lebih tinggi ibandingkan wilayah sekitarnya. BMKG menyebut UHI harus dimitigasi bersama dan membutuhkan aksi nyata.
BMKG menjelaskan, UHI dipicu oleh struktur kota yang rumit, sedikitnya vegetasi, efek rumah kaca, serta perubahan tutupan lahan menjadi kawasan terbangun. Sejumlah kota besar seperti Jabodetabek, Medan, Surabaya, Makassar, dan Bandung disebut termasuk dalam kelompok kota dengan nilai Land Surface Temperature terbesar.
Baca juga: Studi Prediksi Arktik Alami Musim Panas Tanpa Es Laut pada 2027
Bahasa sederhananya, makin banyak beton, aspal, bangunan rapat, dan makin sedikit pohon, kota bisa terasa lebih panas.
Itulah kenapa pohon, taman, jalur pejalan kaki yang teduh, halte yang nyaman, akses air minum publik, dan bangunan dengan ventilasi baik bukan cuma urusan estetika. Semua itu bisa membantu kota lebih tahan menghadapi panas.
Indonesia Perlu Belajar
Indonesia tidak harus menunggu suhu 40 derajat Celsius untuk menganggap panas sebagai masalah serius. Di negara tropis, kelembapan tinggi bisa membuat tubuh lebih sulit melepas panas.
Kelompok paling rentan juga dekat dengan kehidupan kita: pekerja ojek online, pedagang kaki lima, buruh bangunan, petugas kebersihan, petani, nelayan, lansia, anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis.
Mereka tidak selalu bisa memilih untuk berhenti beraktivitas ketika cuaca terlalu panas. Karena itu, peringatan dini panas perlu dibuat lebih mudah dipahami publik.
Baca juga: Jejak 14 Perusahaan di Balik Gelombang Panas Mematikan
Kapan olahraga luar ruang sebaiknya ditunda. Kapan sekolah dan kampus perlu menyesuaikan aktivitas. Kapan pekerja luar ruang perlu jeda lebih sering. Kapan warga perlu lebih waspada terhadap tanda dehidrasi dan heatstroke.
Gelombang panas Eropa adalah pengingat. Krisis iklim tidak selalu datang dengan drama besar. Kadang, ia datang sebagai hari yang makin panas, malam yang sulit dingin, dan tubuh yang terus dipaksa bertahan.
Panas ekstrem bukan lagi cuaca biasa. Ini soal cara kita hidup di kota yang makin panas. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.