Video AI Putri Diana Viral, Nostalgia Jadi Ladang Engagement

Putri Diana dalam foto arsip yang diolah menjadi format lanskap. Maraknya video AI yang menghadirkan kembali sosok tokoh publik memicu debat etika tentang memori, izin, dan eksploitasi digital. Ilustrasi olahan/ mulamula.id, berbasis foto Wikimedia Commons.

Mulamula.id Putri Diana kembali muncul di linimasa. Bukan lewat dokumenter baru. Bukan pula dari arsip kerajaan.

Kali ini, wajahnya hadir lewat video buatan kecerdasan buatan atau AI.

Dalam sejumlah video yang beredar, Diana digambarkan memeluk Princess Kate dan Meghan Markle. Ada juga adegan Diana bertemu kembali dengan Pangeran William dan Pangeran Harry. Bahkan, beberapa konten menempatkannya dalam situasi yang tidak pernah terjadi dalam hidup nyata.

Bagi sebagian orang, video itu terasa manis. Semacam bayangan tentang “andaikan Diana masih hidup”.

Namun bagi yang lain, konten itu terasa ganjil. Bahkan tidak sopan. Sebab, Diana bukan sekadar ikon kerajaan. Ia adalah manusia yang meninggal secara tragis pada 1997, setelah hidupnya bertahun-tahun dikejar kamera.

Kini, hampir tiga dekade setelah kematiannya, wajah Diana kembali dipakai untuk mengejar perhatian publik. Bedanya, kamera paparazzi digantikan oleh algoritma.

Ketika Duka Dibuat Jadi Konten

Fenomena ini memperlihatkan perubahan besar dalam budaya digital. AI tidak hanya dipakai untuk membuat gambar lucu, poster, atau video promosi. Teknologi ini juga mulai menghidupkan ulang figur yang sudah meninggal.

Pakar AI dan deepfake Henry Ajder menyebut gejala ini sebagai synthetic resurrection. Sederhananya, orang yang sudah tiada “dibangkitkan” lagi secara digital.

Masalahnya, kebangkitan itu tidak selalu lahir dari rasa hormat. Dalam laporan USA Today, Ajder menilai banyak konten semacam ini lebih dekat dengan upaya mengejar engagement ketimbang penghormatan tulus kepada Diana.

Logikanya sederhana. Video emosional mudah viral. Viral berarti views. Views bisa berubah menjadi uang, sponsor, iklan, atau pertumbuhan akun.

Di titik ini, nostalgia berubah menjadi komoditas.

Memori Publik Bisa Kabur

Sekilas, video Diana memeluk William dan Harry terlihat tidak berbahaya. Tidak ada ujaran kebencian. Tidak ada fitnah politik. Tidak ada manipulasi seksual.

Namun, dampaknya tetap perlu dibaca serius.

Bagi audiens muda, terutama Gen Z, video arsip asli dan video AI bisa muncul dalam format yang sama. Vertikal, pendek, emosional, dan mudah dibagikan. Ketika konten asli dan palsu tampil berdampingan di feed, batas sejarah bisa ikut buram.

Satu video mungkin tidak mengubah ingatan publik. Tetapi ribuan video sintetis dapat pelan-pelan mengacaukan rekam visual sejarah.

Diana bisa terus dibentuk sebagai sosok yang selalu tersenyum, selalu memeluk, selalu menyatukan konflik keluarga kerajaan. Padahal, hidupnya jauh lebih kompleks daripada simbol “kebaikan” yang dibuat rapi oleh mesin.

AI tidak sedang menghidupkan Diana. AI sedang membuat versi Diana yang sesuai kebutuhan algoritma.

Keluarga Tidak Selalu Punya Kendali

Persoalan lain ada pada keluarga yang ditinggalkan.

William dan Harry tumbuh dengan luka publik yang sangat terbuka. Kini, wajah ibu mereka bisa dibuat melakukan apa saja oleh orang asing. Hari ini memeluk anak-anaknya. Besok bisa saja dipakai untuk iklan, kampanye politik, atau narasi yang lebih meresahkan.

Label “dibuat dengan AI” memang penting. Tetapi transparansi tidak sama dengan izin.

Seseorang boleh saja menulis bahwa kontennya fiktif. Namun itu belum menjawab pertanyaan etis yang lebih besar: apakah wajah orang yang sudah meninggal bebas dipakai hanya karena publik masih merindukannya?

Tokoh publik memang hidup dalam sorotan. Tetapi kematian seharusnya tidak otomatis mengubah identitas mereka menjadi aset terbuka.

Ujian Baru Media Sosial

Kasus Putri Diana menunjukkan tantangan baru platform digital. AI membuat batas antara tribute, fan fiction, manipulasi, dan eksploitasi menjadi semakin tipis.

Masalahnya, konten seperti ini sulit dikendalikan. Selama masih mengundang klik, komentar, dan emosi, algoritma punya insentif untuk terus mendorongnya.

Di sinilah publik perlu lebih kritis. Tidak semua video yang menyentuh hati layak dipercaya. Tidak semua yang tampak indah berarti etis.

Putri Diana pernah menjadi korban budaya kamera yang terlalu lapar. Kini, ia berisiko menjadi korban budaya algoritma yang tidak pernah kenyang. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *