
JAKARTA, mulamula.id – Pengobatan kanker terus bergerak ke arah yang lebih presisi. Bukan hanya menyerang sel kanker, tetapi juga berusaha menjaga jaringan sehat agar tidak ikut rusak.
Di titik inilah kedokteran nuklir mulai mendapat perhatian besar.
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN bersama tim peneliti dari Rusia berhasil menghasilkan data baru untuk pengembangan radioisotop skandium. Data ini dinilai penting untuk memperkuat riset diagnosis dan terapi kanker berbasis nuklir.
Radioisotop skandium adalah unsur radioaktif yang dapat digunakan dalam kedokteran nuklir untuk membantu dokter melihat, melacak, dan menargetkan sel kanker secara lebih akurat.
Baca juga: 59 Persen Pasien Kanker di Indonesia Berakhir Meninggal, Kenapa Bisa?
Riset ini dilakukan oleh Lutfi A. Hasnowo, dosen Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia BRIN, bersama peneliti dari Tomsk Polytechnic University, Rusia.
Mereka meneliti bagaimana radioisotop skandium dapat diproduksi melalui reaksi nuklir partikel alfa pada target kalsium alami. Penelitian dilakukan hingga energi 25 MeV.
Bagi pembaca awam, MeV atau mega electron volt adalah satuan energi yang biasa dipakai dalam fisika nuklir. Satuan ini membantu peneliti mengukur seberapa besar energi yang dibutuhkan dalam proses reaksi nuklir.
Mengapa Skandium Penting?
Dalam terapi kanker modern, akurasi menjadi kata kunci. Dokter tidak hanya membutuhkan alat untuk mengetahui lokasi sel kanker. Mereka juga membutuhkan cara untuk menghantarkan terapi langsung ke titik sasaran.
Skandium dianggap menjanjikan karena dapat digunakan dalam konsep theranostics.
Theranostics adalah pendekatan medis yang menggabungkan diagnosis dan terapi dalam satu sistem pengobatan. Artinya, teknologi yang sama dapat membantu dokter melihat keberadaan penyakit dan sekaligus mengirimkan terapi ke jaringan target.
Baca juga: AI Kini Jadi ‘Mata Kedua’ Dokter, Diagnosis Kanker Lebih Cepat
Dalam konsep ini, Skandium-43 dan Skandium-44 dapat digunakan untuk pencitraan medis. Keduanya bekerja melalui emisi positron, yang berguna dalam pemindaian tubuh.
Sementara itu, Skandium-47 memiliki fungsi berbeda. Radioisotop ini dapat digunakan untuk terapi karena memancarkan partikel beta negatif. Partikel inilah yang berpotensi membantu menghancurkan jaringan target.
Riset BRIN dan Rusia ini penting karena membantu menentukan cara produksi radioisotop skandium yang lebih efisien, lebih akurat, dan lebih aman untuk kebutuhan kedokteran nuklir.
Data Baru untuk Produksi Lebih Efisien
Lutfi menjelaskan, data yang diperoleh dalam penelitian ini digunakan untuk menghitung efisiensi produksi radioisotop. Data itu juga membantu menentukan kondisi energi yang paling optimal dalam proses pembentukannya.
Tim peneliti berhasil memperoleh data penampang lintang reaksi nuklir dan yield produksi sejumlah radioisotop skandium. Di antaranya Skandium-43, Skandium-44, Skandium-46, dan Skandium-47.
Penampang lintang reaksi nuklir dapat dipahami sebagai ukuran peluang terjadinya suatu reaksi nuklir. Sementara yield produksi menunjukkan berapa banyak radioisotop yang bisa dihasilkan dalam kondisi tertentu.
Baca juga: Bekukan Tumor Tanpa Operasi, Australia Uji Terapi Kanker Super Presisi
Dua data ini sangat penting. Tanpa data yang akurat, produksi radioisotop medis bisa menjadi kurang efisien. Risiko terbentuknya impuritas atau zat pengotor juga dapat meningkat.
Dalam produksi radioisotop untuk keperluan medis, impuritas bukan hal kecil. Zat pengotor dapat memengaruhi kualitas radiofarmaka, keamanan pasien, dan efektivitas terapi.
Karena itu, riset semacam ini tidak hanya penting untuk laboratorium. Ia juga punya hubungan langsung dengan masa depan layanan kesehatan.
Dari Laboratorium ke Kedokteran Nuklir
Eksperimen dilakukan di fasilitas siklotron Tomsk Polytechnic University. Siklotron adalah mesin akselerator partikel yang digunakan untuk mempercepat partikel bermuatan hingga mencapai energi tertentu.
Tim memakai metode stacked target activation. Mereka juga menggunakan analisis spektrometri gamma resolusi tinggi.
Metode ini memungkinkan peneliti mengukur parameter reaksi nuklir secara lebih akurat selama proses iradiasi. Dengan cara itu, peneliti bisa melihat bagaimana radioisotop terbentuk pada tingkat energi tertentu.

Hasilnya, data baru ini dapat dipakai untuk beberapa kebutuhan penting. Mulai dari optimasi produksi radioisotop medis, peningkatan analisis keselamatan radiasi, hingga penyempurnaan model perhitungan reaksi nuklir.
Model perhitungan ini dibutuhkan oleh fasilitas akselerator partikel di berbagai negara. Semakin akurat datanya, semakin baik pula dasar pengembangan radioisotop untuk kedokteran nuklir.
Mengisi Kekosongan Data Global
Menurut Lutfi, ketersediaan data eksperimental yang akurat menjadi faktor krusial dalam pengembangan radiofarmaka berbasis skandium.
Selama ini, data produksi radioisotop skandium melalui reaksi partikel alfa pada target kalsium alami masih terbatas. Karena itu, pengukuran baru diperlukan untuk meningkatkan keandalan proses produksi.
“Kami berharap data yang dihasilkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan radioisotop medis di berbagai fasilitas akselerator partikel di dunia,” kata Lutfi.
Baca juga: Alat Pacu Jantung Sekecil Beras Ini Bisa Larut dalam Tubuh
Pernyataan ini menunjukkan bahwa riset tersebut tidak hanya relevan bagi Indonesia. Data yang dihasilkan juga bisa menjadi referensi global.
Bagi Indonesia, riset ini memberi sinyal penting. Pengembangan teknologi nuklir tidak hanya terkait energi atau isu keamanan. Di bidang kesehatan, teknologi nuklir justru dapat menjadi bagian dari solusi medis masa depan.
Peluang untuk Kanker yang Lebih Tepat Sasaran
Kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia. Pengobatannya membutuhkan pendekatan yang semakin presisi, personal, dan minim efek samping.
Kedokteran nuklir menawarkan jalan ke arah itu. Dengan radioisotop yang tepat, dokter dapat mendeteksi penyakit lebih dini dan mengirimkan terapi lebih terarah.
Tentu, jalan menuju penggunaan luas masih panjang. Produksi radioisotop medis membutuhkan fasilitas, standar keselamatan, uji klinis, regulasi, dan rantai pasok yang kuat.
Baca juga: 70 Juta Orang di Indonesia Mengidap Penyakit Hati Kronis
Namun, riset dasar seperti ini menjadi fondasi penting. Tanpa data produksi yang baik, radiofarmaka sulit dikembangkan secara andal.
Hasil penelitian BRIN dan Tomsk Polytechnic University telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Radiation Physics and Chemistry Volume 227 Tahun 2025. Judul publikasinya adalah “Excitation Functions for Sc Radioisotopes Production via (α,x) Nuclear Reactions on Natural Calcium up to 25 MeV”.
Publikasi ini memperkuat posisi riset Indonesia dalam pengembangan radioisotop medis. Di tengah kebutuhan terapi kanker yang terus meningkat, data ilmiah seperti ini dapat menjadi pintu masuk menuju pengobatan yang lebih efektif, lebih presisi, dan lebih manusiawi. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.