
JAKARTA, mulamula.id – Penyakit hati kronis bukan sekadar istilah medis yang jauh dari kehidupan anak muda. Penyakit ini bisa tumbuh diam-diam di tubuh. Tanpa gejala besar. Tanpa rasa sakit yang langsung bikin panik.
Masalahnya, saat penyakit ini terasa jelas, kondisi hati sering sudah masuk tahap lanjut.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut Indonesia menghadapi beban besar penyakit hati kronis. Jumlah penderitanya diperkirakan mencapai sekitar 70 juta orang. Angka itu menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia setelah China dan India.
“Data yang saya pegang ada sekitar tujuh puluh jutaan yang terkena penyakit hati kronis ini,” kata Budi dalam dialog kesehatan Bicara Tentang Hati: Solid Habit, Strong Liver di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (2/6).
Pernyataan itu menjadi alarm penting. Selama ini, publik lebih sering mendengar soal penyakit jantung, stroke, diabetes, atau kanker. Penyakit hati jarang masuk percakapan harian. Padahal, bebannya besar dan risikonya panjang.
Penyakit yang Sering Terlambat Disadari
Penyakit hati kronis adalah kondisi kerusakan hati yang berlangsung lama dan dapat berkembang menjadi sirosis, gagal hati, atau kanker hati.
Masalahnya bukan hanya jumlah kasus. Tantangan terbesarnya ada pada deteksi.
Banyak orang tidak tahu dirinya punya gangguan hati. Sebagian baru memeriksakan diri ketika tubuh mulai memberi sinyal keras. Misalnya mudah lelah, perut membesar, kulit menguning, atau hasil laboratorium menunjukkan fungsi hati bermasalah.
Dalam banyak kasus, penyakit hati bekerja pelan. Ia tidak selalu datang dengan gejala dramatis. Inilah yang membuatnya berbahaya.
Baca juga: AI Kini Jadi ‘Mata Kedua’ Dokter, Diagnosis Kanker Lebih Cepat
Budi menyebut, secara global ada lebih dari 300 juta orang mengalami penyakit hati kronis. Setiap tahun, sekitar dua juta orang meninggal akibat penyakit ini.
Jika dihitung kasar, kematian akibat penyakit hati bisa mendekati empat orang setiap menit di dunia.
Angka ini menunjukkan satu hal. Penyakit hati bukan isu kecil. Ia adalah masalah kesehatan publik yang masih sering kalah sorotan.
Hepatitis Masih Jadi Penyebab Utama
Lebih dari separuh kematian akibat penyakit hati kronis berkaitan dengan infeksi virus. Dua nama paling penting adalah hepatitis B dan hepatitis C.
Hepatitis B dan C dapat memicu peradangan hati dalam jangka panjang. Jika tidak terdeteksi dan tidak ditangani, infeksi ini bisa berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menempatkan hepatitis B dan C sebagai penyebab utama kematian terkait hepatitis secara global. Kabar baiknya, hepatitis B bisa dicegah dengan vaksin. Hepatitis C juga sudah memiliki pengobatan yang sangat efektif.
Namun, akses terhadap tes dan pengobatan masih menjadi pekerjaan besar di banyak negara, termasuk Indonesia.
Baca juga: Jepang Setujui Terapi Stem Cell untuk Parkinson dan Gagal Jantung
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah mendorong skrining, imunisasi hepatitis B, serta pengobatan hepatitis C. Program ini penting karena pencegahan jauh lebih murah dibandingkan penanganan saat pasien sudah masuk fase berat.
Penyakit hati kronis bisa dicegah lebih awal jika orang berisiko mau melakukan skrining dan menjaga faktor gaya hidup.
Gaya Hidup Mulai Berperan
Selain virus, faktor metabolik kini makin mendapat perhatian. Ini berkaitan dengan obesitas, kadar gula tinggi, diabetes, dan perlemakan hati.
Budi menyebut sekitar 15 persen kasus yang meningkat cepat berkaitan dengan gangguan metabolisme. Biasanya berhubungan dengan obesitas atau gula.
Bagian ini penting untuk generasi muda.
Baca juga: 59 Persen Pasien Kanker di Indonesia Berakhir Meninggal, Kenapa Bisa?
Dulu, penyakit hati sering dikaitkan dengan alkohol atau infeksi virus. Sekarang, pola makan tinggi gula, kurang gerak, berat badan berlebih, dan metabolisme yang buruk juga bisa menjadi pintu masuk gangguan hati.
Perlemakan hati bisa terjadi ketika lemak menumpuk berlebihan di organ hati. Pada tahap awal, orang sering tidak merasakan apa-apa. Tetapi jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu peradangan dan kerusakan hati.
Artinya, menjaga hati tidak hanya bicara soal menghindari alkohol atau infeksi. Ia juga terkait kebiasaan makan, aktivitas fisik, tidur, berat badan, dan kontrol gula darah.
Data Indonesia Masih Harus Dirapikan
Budi juga menyoroti persoalan lain: data.
Menurutnya, Indonesia masih perlu memperbaiki pencatatan penyakit hati secara nasional. Data memang tersedia, tetapi sumbernya berbeda-beda dan belum sepenuhnya rapi.
Masalah data ini tidak sederhana. Dalam kesehatan publik, data menentukan arah kebijakan. Pemerintah perlu tahu siapa yang paling berisiko, di wilayah mana kasus paling tinggi, layanan mana yang kurang, dan jenis intervensi apa yang paling mendesak.
Baca juga: Bekukan Tumor Tanpa Operasi, Australia Uji Terapi Kanker Super Presisi
Tanpa data yang kuat, penyakit hati bisa terus menjadi masalah besar yang terlihat kecil.
Di sisi lain, klaim pembiayaan penyakit hati melalui BPJS Kesehatan disebut belum setinggi penyakit jantung, stroke, dan kanker. Padahal, jumlah kasusnya besar.
Ini bisa dibaca dalam dua kemungkinan. Pertama, banyak kasus belum masuk sistem layanan kesehatan. Kedua, banyak pasien belum terdeteksi sejak awal sehingga tidak tercatat sebagai beban pembiayaan sampai kondisi memburuk.
Deteksi Dini Jadi Kunci
Pesan paling penting dari isu ini adalah deteksi dini.
Tes hepatitis, pemeriksaan fungsi hati, dan konsultasi medis untuk kelompok berisiko bisa menjadi langkah awal. Orang dengan riwayat keluarga hepatitis, pernah menerima transfusi darah lama, menggunakan alat medis tidak steril, memiliki pasangan dengan hepatitis, atau mengalami obesitas dan diabetes perlu lebih waspada.
Pencegahan juga tidak harus rumit. Vaksinasi hepatitis B, perilaku hidup bersih, tidak berbagi jarum suntik, menjaga berat badan, membatasi gula, dan rutin bergerak bisa mengurangi risiko.
Baca juga: Alat Pacu Jantung Sekecil Beras Ini Bisa Larut dalam Tubuh
Bagi anak muda, isu ini mungkin terasa jauh. Tetapi justru di usia muda kebiasaan tubuh dibentuk. Apa yang dimakan, diminum, dan dilakukan hari ini bisa menentukan kondisi hati bertahun-tahun kemudian.
Hati bekerja tanpa banyak protes. Hati menyaring racun, mengatur metabolisme, menyimpan energi, dan membantu tubuh tetap seimbang.
Karena itu, menjaga hati bukan sekadar urusan rumah sakit. Tapi juga dimulai dari kebiasaan sehari-hari. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.