
KAMU mungkin pernah membuka aplikasi kualitas udara, lalu menemukan angka berwarna merah atau oranye.
Angka itu memberi peringatan bahwa udara sedang tidak baik. Namun, ada pertanyaan yang belum langsung terjawab, sebenarnya apa yang sedang kita hirup?
Badan Riset dan Inovasi Nasional mencoba menjawabnya melalui penelitian partikulat halus atau PM2.5 di Kota Tangerang Selatan.
Penelitian ini tidak hanya mengukur tinggi rendahnya konsentrasi polutan. BRIN juga memeriksa kandungan kimia, kemungkinan sumber pencemar, pengaruh cuaca, dan risikonya bagi kesehatan.
Mengapa Tangerang Selatan?
Tangerang Selatan memiliki mobilitas kendaraan yang tinggi. Wilayah ini juga menjadi jalur pergerakan warga dari dan menuju Jakarta serta kota lain di sekitarnya.
Kondisi tersebut membuat Tangsel berpotensi menghasilkan sekaligus menerima polusi udara dari wilayah lain.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Novita Ambarsari, mengatakan timnya ingin mengetahui karakter polutan di Tangsel.
Baca juga: Polusi Udara Jabodetabek Ujian Nyata Komitmen Keberlanjutan
Salah satu pertanyaan yang ingin dijawab adalah apakah pencemar berasal dari aktivitas di dalam kota atau terbawa dari daerah sekitar.
Pertanyaan itu penting. Udara tidak berhenti di perbatasan kota. Angin dapat membawa polutan dari satu wilayah ke wilayah lain.
Artinya, warga Tangsel bisa menghirup emisi yang muncul di daerah sekitar. Hal yang sama berlaku sebaliknya.
Bukan Cuma Melihat Angka
BRIN mengukur PM2.5 bersama beberapa gas pencemar. Di antaranya nitrogen dioksida, sulfur dioksida, ozon, dan amonia.
Gas-gas tersebut dapat terlibat dalam pembentukan partikel baru melalui reaksi kimia di atmosfer.
Tim peneliti juga menggunakan MiniVol Air Sampler. Alat ini mengumpulkan PM2.5 pada filter untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.
Dari sampel tersebut, peneliti dapat melihat senyawa organik, ion, logam, hingga bentuk partikelnya.
Baca juga: Polusi Udara Tiap Kota Ternyata Punya “Wajah” Berbeda
Cara ini memberikan informasi yang tidak bisa langsung ditampilkan oleh sensor kualitas udara.
Sensor dapat menunjukkan konsentrasi pencemar. Pemeriksaan laboratorium membantu menjawab apa yang terkandung di dalamnya dan mempersempit dugaan mengenai sumbernya.
Dua wilayah bisa saja mencatat angka PM2.5 yang sama. Namun, kandungan dan asal partikelnya belum tentu identik.
Hujan Bukan Solusi
Kajian BRIN menunjukkan transportasi dan kondisi cuaca sama-sama memengaruhi konsentrasi polutan di perkotaan.
Kepadatan kendaraan menjadi salah satu sumber emisi penting di Tangerang Selatan. Sementara itu, hujan, arah angin, dan kecepatan angin menentukan bagaimana polutan berkumpul atau menyebar.
Hujan dapat membantu membersihkan sebagian partikel dari udara. Angin kencang bisa mengencerkan konsentrasinya atau memindahkannya ke wilayah lain.
Baca juga: Polusi Udara Jakarta: Strategi Baru, Tantangan Lama
Namun, cuaca tidak menghapus sumber pencemaran.
Langit yang terlihat lebih bersih setelah hujan belum tentu berarti jumlah emisi sudah berkurang. Udara mungkin membaik sementara, sedangkan kendaraan dan sumber pembakaran tetap melepaskan pencemar.
Mengapa PM2.5 Berbahaya?
PM2.5 memiliki diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya sangat halus sehingga dapat masuk jauh ke sistem pernapasan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengaitkan paparan polusi udara dengan berbagai gangguan kesehatan. Risikonya mencakup penyakit jantung, stroke, asma, penyakit paru obstruktif kronis, dan kanker.
WHO merekomendasikan rata-rata tahunan PM2.5 tidak lebih dari 5 mikrogram per meter kubik.
Indonesia menetapkan baku mutu rata-rata tahunan sebesar 15 mikrogram per meter kubik melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Angka itu tiga kali lebih tinggi daripada pedoman WHO.
Baca juga: Biaya Polusi Udara Jakarta: Rp52 Triliun per Tahun
Kajian Centre for Research on Energy and Clean Air berdasarkan data 2024 memperkirakan rata-rata tahunan PM2.5 di sejumlah wilayah Jabodetabek berada pada kisaran 30 hingga 55 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut sekitar enam hingga sebelas kali pedoman tahunan WHO.
Data itu bukan hasil penelitian terbaru BRIN di Tangsel. Namun, angka tersebut memberi gambaran mengenai besarnya persoalan kualitas udara di kawasan metropolitan Jakarta.
Tidak Bisa Jalan Sendiri
BRIN menjalankan penelitian ini bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan.
Ke depan, tim peneliti berencana mengembangkan kajian senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbon atau PAH pada PM2.5, air hujan, dan fase gas. Senyawa ini umumnya terbentuk dari proses pembakaran dan sebagian di antaranya berbahaya bagi kesehatan.
Baca juga: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini Setiap Tahun
Hasil penelitian diharapkan membantu pemerintah merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Namun, Tangsel tidak bisa bekerja sendirian. Polusi udara Jabodetabek membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola transportasi, industri, dan masyarakat.
Sebab, kita mungkin tinggal di kota yang berbeda. Namun, udara yang kita hirup bergerak tanpa melihat garis batas pada peta. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.