
Kekeringan merusak 2.325 hektare lahan pertanian di Nduga. Sebanyak 1.156 keluarga terancam kehilangan sumber pangan dan sebagian warga mulai mengungsi.
DI NDUGA, Papua Pegunungan, kemarau tidak lagi sekadar membuat tanah mengering. Tetapi, telah merusak kebun, mengurangi persediaan air, dan memaksa sebagian warga meninggalkan kampung untuk mencari kebutuhan dasar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sekitar 1.156 keluarga terancam mengalami kerawanan pangan akibat kekeringan. Lahan pertanian yang mengalami gagal panen mencapai 2.325 hektare.
Dua wilayah yang disebut paling terdampak adalah Kampung Bowisa di Distrik Mugi dan Kampung Mbuwa di Distrik Mbuwa. Sebagian warga telah bergerak menuju Distrik Walaik.
Mereka bukan mengungsi karena rumah roboh atau sungai meluap. Mereka pergi karena kebun yang selama ini memberi makan tak lagi menghasilkan.
Kebun Berhenti Menghasilkan
Bagi banyak keluarga di pedalaman Papua, kebun bukan pekerjaan sampingan. Kebun adalah dapur, pasar, sekaligus cadangan pangan.
Ketika tanaman rusak, dampaknya tidak bisa langsung diganti dengan membeli makanan dari tempat lain. Jarak antarkampung jauh, jalur distribusi terbatas, dan ongkos mengangkut bahan pokok sangat mahal.
Kondisi itu semakin berat ketika debit sungai ikut menyusut. Di beberapa wilayah Nduga, sungai bukan hanya sumber air, tetapi juga jalur utama untuk membawa orang dan barang.
Baca juga: Ternyata Hutan Adalah “Pabrik Hujan” Bumi
Bupati Nduga Yoas Beon mengatakan mengeringnya jalur sungai menuju Mumugu telah membuat harga bahan pokok dan material bangunan melonjak. Pemerintah daerah berupaya membuka jalan darat dari Kenyam menuju wilayah tersebut.
Kekeringan akhirnya bukan hanya persoalan cuaca. Tapi, berubah menjadi krisis pangan, air, transportasi, dan harga.
Bantuan Mulai Bergerak
Pemerintah Kabupaten Nduga telah menetapkan status tanggap darurat sejak 26 Agustus 2026. Posko induk dibuka di Kenyam untuk memantau kondisi warga dan mengatur penyaluran bantuan.
Sebanyak 50 ton beras disiapkan untuk masyarakat di 32 distrik. Pemerintah daerah juga membagi tim untuk menangani kebutuhan pangan, air bersih, kesehatan, dan akses menuju wilayah yang sulit dijangkau.
Namun, bantuan pangan hanya menyelesaikan kebutuhan paling mendesak. Beras dapat mengisi dapur untuk sementara, tetapi tidak serta-merta memulihkan kebun yang gagal panen.
BNPB meminta pemerintah daerah mempercepat kaji cepat dan melakukan pemantauan berkala. Data itu penting untuk mengetahui jumlah warga terdampak, persediaan pangan yang tersisa, kebutuhan air bersih, hingga risiko munculnya masalah kesehatan.
Peringatan Sudah Datang
Kekeringan ini sebenarnya tidak muncul dalam semalam.
BMKG telah memperkirakan musim kemarau di Papua Pegunungan berlangsung sejak akhir April hingga akhir Agustus 2026. Sumur warga di sejumlah wilayah mulai mengering dan debit Sungai Baliem dilaporkan turun drastis.
Secara nasional, BMKG juga memperingatkan puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September. Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan menerima curah hujan rendah selama Agustus.
Artinya, ancaman sudah terbaca beberapa bulan sebelum kebun rusak dan warga mengungsi.
Di sinilah pertanyaan pentingnya muncul: apakah peringatan cuaca telah diterjemahkan menjadi persediaan pangan, penampungan air, jalur distribusi alternatif, dan perlindungan kebun warga?
Perubahan iklim sering terdengar seperti perkara jauh: kenaikan suhu, El Niño, atau anomali curah hujan. Di Nduga, dampaknya hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana sekaligus menyakitkan.
Air berkurang. Kebun gagal. Makanan menipis. Lalu warga terpaksa pergi.
Bantuan 50 ton beras memang dibutuhkan hari ini. Namun, tantangan yang lebih besar adalah memastikan masyarakat Nduga tidak harus menunggu kebunnya mati sebelum perlindungan datang. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.