
DUA BELAS RIBU orang berlari dari depan Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu pagi, 29 Agustus 2026. Mereka bergerak menyusuri Jalan MH Thamrin, melewati Bundaran HI dan Sudirman, lalu berbalik menuju tempat semula.
Jaraknya delapan kilometer. Cukup panjang untuk membuat napas tersengal, tetapi belum tentu cukup jauh untuk meninggalkan semua yang memenuhi kepala.
Ada yang mengejar waktu terbaik. Ada yang ingin menuntaskan perlombaan pertamanya. Ada pula yang barangkali hanya ingin merasakan bagaimana rasanya berada di tengah ribuan manusia yang bergerak menuju arah yang sama.
Lari memang sedang digemari. Jalan-jalan kota yang dahulu lengang pada Minggu pagi kini dipenuhi sepatu yang menghantam aspal. Run club bermunculan. Jersey komunitas dipakai dengan bangga. Hasil latihan berpindah dari jam tangan ke Strava, lalu berakhir di Instagram Story.
Dahulu, lari dikenal sebagai olahraga yang sunyi. Hanya ada jalan, langkah, napas, dan percakapan panjang dengan diri sendiri. Sekarang lari berubah menjadi peristiwa sosial.
Mungkin yang dicari bukan hanya tubuh lebih sehat. Banyak orang sebenarnya sedang mencari teman perjalanan.
Kota yang Kesepian
Kota mempertemukan kita dengan banyak orang, tetapi tidak selalu membuat kita merasa ditemani.
Kita berdesakan di kereta, bekerja dalam satu ruangan, tinggal di apartemen yang dihuni ratusan orang, dan memiliki kontak yang tak pernah habis digulirkan. Anehnya, pada malam tertentu, tetap sulit menemukan satu orang yang bisa dihubungi tanpa merasa sedang mengganggu.
Teknologi membuat manusia semakin mudah terhubung. Namun, terhubung tidak selalu berarti dekat.
Kita mengetahui teman sedang berlibur, menikah, mendapat pekerjaan baru, atau menyelesaikan lima kilometer pertamanya. Kita mengetahuinya dari layar, kadang tanpa pernah lagi benar-benar berbicara dengannya.
Di tengah keadaan itulah komunitas lari menawarkan sesuatu yang sangat sederhana, waktu dan tempat untuk bertemu.
Baca juga: Mengapa Kita Lebih Ingat Bawangnya?
Tidak perlu membuat janji makan yang rumit. Tidak harus pandai membuka percakapan. Cukup datang, mengikat tali sepatu, lalu bergerak bersama.
Berdasarkan laporan Strava, partisipasi dalam klub lari di Indonesia meningkat hingga 83 persen sepanjang 2024. Dalam laporan global 2025, Strava juga menemukan Gen Z semakin banyak membangun koneksi melalui komunitas olahraga.
Survei lain terhadap audiens Gen Z di sejumlah negara bahkan menemukan 72 persen responden mengikuti run club untuk bertemu orang baru. Mereka tidak datang terutama untuk memperbaiki kecepatan, apalagi menjadi atlet.
Mereka datang karena ingin mengenal manusia lain.
Barangkali, ledakan komunitas lari bukan hanya cerita tentang kebugaran. Tapi, juga merupakan jawaban kecil atas kesepian yang tidak selalu berani kita akui.
Berlomba dengan Diri Sendiri
Lari seharusnya menjadi olahraga paling demokratis. Hampir setiap orang bisa memulainya. Tidak dibutuhkan lapangan khusus, lawan tanding, ataupun peralatan yang terlalu rumit.
Namun, ketika lari berubah menjadi gaya hidup, itu membawa perlombaan baru.
Ada sepatu yang harus dikenakan, jam tangan yang ingin dimiliki, pakaian yang dianggap paling sesuai, serta rute yang cukup fotogenik untuk dibagikan. Bahkan istilah-istilahnya dapat membuat orang yang baru mulai merasa terlambat memasuki dunia tersebut.
Belum lagi angka-angka di layar. Pace, cadence, heart rate, personal best, dan jumlah kilometer mingguan.

Kita berangkat untuk membebaskan diri dari tekanan hidup, tetapi kadang membawa seluruh tekanan itu ke jalan. Berlari tidak lagi sekadar menggerakkan tubuh. Tapi, menjadi sesuatu yang harus diukur, dibandingkan, dipamerkan, lalu dinilai.
Hari ketika tidak berlari menimbulkan rasa bersalah. Langkah yang lebih lambat dianggap kemunduran. Hasil latihan orang lain diam-diam membuat kita merasa kurang keras berusaha.
Baca juga: Bahasa Isyarat Bukan Aksesori di Sudut Layar
Padahal, tubuh bukan mesin yang setiap hari harus memecahkan rekor.
Ada hari ketika lima kilometer terasa ringan. Ada pagi ketika satu kilometer sudah menjadi perjuangan. Keduanya tetap lari. Keduanya tetap sebuah keberanian untuk bangun, keluar rumah, dan mulai bergerak.
Tidak semua kemajuan harus menjadi konten. Tidak setiap langkah membutuhkan tepuk tangan. Sebagian kemenangan memang hanya perlu diketahui oleh orang yang menjalaninya.
Kembali ke Titik Awal
Ada sesuatu yang menarik dari lintasan Merdeka Run. Ribuan peserta berangkat dari depan Istana, memutari sebagian Jakarta, lalu kembali ke tempat mereka memulai.
Secara geografis, mereka tidak pergi ke mana-mana.
Namun, perjalanan tidak selalu dinilai dari seberapa jauh seseorang meninggalkan titik awal. Kadang, kita pulang ke tempat yang sama dengan napas, pikiran, dan perasaan yang berbeda.
Begitu pula kehidupan.
Kita dapat bekerja bertahun-tahun dan masih merasa belum sampai. Kita mengejar gelar, jabatan, penghasilan, rumah, pengakuan, dan berbagai garis finis yang ditetapkan orang lain. Setelah satu tujuan tercapai, garis berikutnya segera dipasang.
Kita terus berlari karena takut tertinggal, meskipun belum tentu mengetahui siapa yang sedang kita kejar.
Mungkin sesekali kita perlu memperlambat langkah dan bertanya: apakah tujuan ini sungguh milik kita, atau hanya rute yang dibuat orang lain?
Sebab, berlari cepat ke arah yang salah tidak membuat kita lebih dekat dengan kehidupan yang diinginkan.
Baca juga: Ketika Membeli Tiket, Apa Sebenarnya yang Kita Beli?
Akan tetapi, tidak semua orang yang berlari sedang melarikan diri. Sebagian justru sedang berusaha kembali: kepada tubuh yang lama diabaikan, kepada pikiran yang terlalu penuh, kepada pertemanan yang sempat hilang, atau kepada dirinya sendiri.
Karena itulah kita mungkin tidak perlu selalu bertanya berapa jauh seseorang telah berlari. Tanyakan pula apakah ia merasa lebih baik setelahnya.
Pada akhirnya, medali akan disimpan. Catatan waktu akan dikalahkan. Foto-foto perlombaan akan tenggelam di antara unggahan baru.
Namun, seseorang mungkin akan mengingat pagi ketika ia hampir menyerah, lalu orang yang berlari di sebelahnya berkata, “Ayo, sedikit lagi.”
Barangkali itulah yang sebenarnya kita cari di sepanjang jalan: bukan garis finis, melainkan seseorang yang membuat perjalanan terasa tidak terlalu sepi.
Kita memang berlari. Namun, tidak selalu untuk menjadi yang paling cepat.
Kadang-kadang, kita hanya ingin memastikan bahwa kali ini kita tidak harus berjalan pulang sendirian. ***
Salam literasi
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA