
Masuknya Malam Seribu Jahanam karya Intan Paramaditha ke daftar panjang National Book Award 2026 bukan hanya kabar tentang sebuah novel. Untuk pertama kalinya, bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa sumber dalam kategori Translated Literature.
ADA perjalanan panjang yang sering tidak terlihat ketika sebuah buku melintasi bahasa.
Cerita tidak cukup hanya ditulis dengan baik. Tapi, harus ditemukan penerjemah yang mampu menangkap nadanya, diperjuangkan penerbit yang percaya kepadanya, lalu diperkenalkan kepada pembaca yang barangkali belum mengenal tempat, ingatan, dan kegelisahan dari mana cerita itu berasal.
Pekan ini, perjalanan tersebut membawa Malam Seribu Jahanam karya Intan Paramaditha ke salah satu panggung sastra penting di Amerika Serikat.
Versi bahasa Inggrisnya, Night of a Thousand Hells, masuk daftar panjang National Book Award 2026 untuk kategori Translated Literature. National Book Foundation mengumumkannya pada 15 September 2026.
Baca juga: Aksara: Kalau Mau Pintar, Tutup TikTok-mu dan Buka Buku!
Novel itu menjadi satu dari 10 judul yang dipilih dari 159 buku yang diajukan penerbit. Namun, ada catatan yang membuat pencapaian ini lebih bermakna bagi pembaca Indonesia. Untuk pertama kalinya, bahasa Indonesia tercatat sebagai bahasa sumber dalam kategori tersebut.
Sebuah bahasa yang kita pakai untuk bercakap, bertengkar, mencintai, dan mengingat akhirnya berdiri di sana, bersama karya yang mula-mula lahir dari pengalaman sosial dan kebudayaan Indonesia.
Cerita yang Tidak Kehilangan Akarnya
Night of a Thousand Hells diterjemahkan oleh Stephen Epstein dan Tiffany Tsao. Keduanya tidak sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Mereka membawa suasana, lapisan makna, humor, ketegangan, dan dunia batin para tokohnya agar dapat hidup kembali dalam bahasa berbeda.
Novel ini berkisah tentang tiga saudari, Mutiara, Maya, dan Annisa. Kehidupan mereka berubah setelah Annisa melakukan aksi kekerasan dengan bom yang terpasang di tubuhnya. Dua saudari yang tersisa kemudian berhadapan dengan duka, rasa bersalah, rahasia keluarga, serta pertanyaan tentang apa yang mendorong seseorang menuju kekerasan.
Kisahnya bergerak melintasi Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia. Di dalamnya, Intan mempertemukan folklor Indonesia, mistisisme Islam, horor, persoalan kelas, migrasi, relasi antarsaudari, serta politik perawatan.
Baca: Aksara: Bangsa yang Malas Membaca, Mudah Ditipu
Justru kekhasan itulah yang membuat cerita ini dapat bepergian jauh. Novel tersebut tidak berusaha menjadi “universal” dengan menanggalkan asal-usulnya. Sebaliknya, memasuki percakapan dunia sambil tetap membawa bahasa, hantu, luka, dan pertanyaan dari rumahnya sendiri.
Di titik ini, sastra mengingatkan kita pada sesuatu yang kerap terlupakan: sebuah cerita dapat menyeberangi batas bukan karena menjadi kurang lokal, melainkan karena pengalaman yang sangat khusus sering menyimpan perasaan yang dapat dikenali manusia di mana pun.
Penerjemah Membuka Pintu
Ketika sebuah karya terjemahan memperoleh pengakuan, nama penulis biasanya berdiri paling depan. Padahal, selalu ada kerja sunyi di belakangnya.
Penerjemah harus membuat keputusan pada hampir setiap kalimat. Kata mana yang dipertahankan? Penjelasan apa yang diperlukan? Seberapa jauh sebuah istilah budaya boleh didekatkan kepada pembaca baru tanpa kehilangan wataknya?
Karena itu, National Book Award kategori Translated Literature memberikan penghargaan kepada penulis dan penerjemah. Pengakuan ini penting. Terjemahan bukan bayangan pucat dari karya asli, melainkan perjumpaan kreatif antara dua bahasa dan dua kepekaan.
Tiffany Tsao sendiri sebelumnya memperoleh PEN Translation Prize 2023 atas terjemahannya terhadap Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma. Bersama Stephen Epstein, ia kini membantu membuka jalan lain bagi sastra Indonesia untuk memasuki ruang baca internasional.
Baca juga: Aksara: Bacalah, Sebelum Otakmu Dicetak Algoritma
Namun, satu keberhasilan juga memperlihatkan pekerjaan rumah yang lebih besar. Berapa banyak karya Indonesia yang belum pernah bertemu penerjemah? Berapa banyak naskah kuat berhenti di pasar domestik karena penerjemahan membutuhkan waktu, kecakapan, jaringan, dan biaya? Berapa banyak suara dari daerah bahkan masih harus menyeberangi bahasa Indonesia terlebih dahulu sebelum dapat mencapai dunia?
Kita sering berkata Indonesia kaya cerita. Kekayaan itu tidak otomatis membuat dunia dapat membacanya.
Bahasa yang Ikut Bepergian
Daftar panjang bukanlah kemenangan akhir. Finalis National Book Award baru akan diumumkan pada 6 Oktober, sedangkan pemenangnya pada 18 November 2026. Night of a Thousand Hells juga dijadwalkan terbit di Amerika Serikat pada 6 Oktober melalui Europa Editions.
Namun, arti pentingnya sudah hadir sebelum hasil akhir diumumkan.
Masuknya bahasa Indonesia untuk pertama kali sebagai bahasa sumber menunjukkan bahwa perjalanan sastra dunia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menulis.Tetapi, juga ditentukan oleh siapa yang menerjemahkan, siapa yang menerbitkan, siapa yang memperkenalkan, dan siapa yang bersedia membaca kehidupan dari tempat yang jauh.
Baca juga: Aksara: Hidup Tanpa Membaca, tapi Penuh Berdebat
Pada ujung pekan, barangkali kabar ini dapat kita baca dengan lebih tenang. Sebuah bahasa tidak menjadi besar hanya karena jumlah penuturnya. Sebuah bahasa tumbuh ketika gagasan yang dikandungnya dapat bergerak, diperdebatkan, dan menemukan rumah baru di benak pembaca lain.
Kali ini, Malam Seribu Jahanam membuka pintu itu. Yang melangkah melewatinya bukan hanya sebuah novel, melainkan bahasa Indonesia dengan seluruh bayang-bayang dan cahayanya. ***
Salam literasi
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA