
DI BANJARMASIN keluarga penumpang KM Virgo Transport 8 masih menunggu kabar. Sebagian datang ke posko setelah kapal yang membawa orang-orang terdekat mereka terbalik di Laut Jawa. Setiap pembaruan dari tim pencari dapat membawa harapan. Bisa juga membawa duka.
Salah seorang keluarga, Putri, mengatakan kepada Reuters bahwa sambungan telepon dengan suaminya, Herman, terputus ketika ia berada di kapal. Sesudah itu, ia tidak bisa lagi menghubunginya. Cerita tersebut menunjukkan mengapa angka orang yang belum ditemukan harus dibaca sebagai manusia, satu demi satu, bukan sekadar statistik operasi.
Hingga pembaruan Jumat, 18 September, 126 dari 243 orang di kapal belum ditemukan. Sebanyak 108 orang selamat dan sembilan meninggal. Tiga korban meninggal ditemukan penyelam pada Jumat, setelah mereka berhasil masuk ke bagian kapal yang tenggelam. Angka itu dapat berubah seiring operasi pencarian.
Kapal berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Sabtu, 12 September. Dalam perjalanan yang seharusnya berlangsung sekitar 20 jam, Virgo Transport 8 terbalik pada Minggu dini hari saat menghadapi cuaca buruk. Namun, cuaca buruk belum menjawab seluruh pertanyaan tentang mengapa kapal terbalik dan bagaimana penumpangnya dievakuasi.
Mencari di tengah arus kuat
Pencarian berlangsung di atas dan di bawah permukaan laut. Penyelam harus menghadapi arus, gelombang, dan akses masuk yang sulit pada kapal pengangkut penumpang serta kendaraan itu. Pada Jumat, arus kembali memaksa tim menghentikan pencarian bawah air. Operasi direncanakan berlanjut Sabtu ketika kondisi memungkinkan.
Kepala operasi Kantor SAR Banjarmasin, Arianto Ardi, menjelaskan bahwa lambung kapal yang tinggi dan struktur kapal yang tertutup menyulitkan penyelam masuk. Tantangannya belum berakhir ketika mereka menemukan jalan masuk, lorong yang terendam dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat setiap langkah berisiko.
Baca juga: Virgo Tenggelam, Cuaca Buruk Lagi yang Disalahkan?
Ahli maritim Marcellus Jayawibawa mengingatkan adanya kemungkinan ruang kedap air yang masih menyimpan udara. Membuka pintu ruang seperti itu dapat memicu air masuk dengan tekanan kuat. Karena itu, harapan menemukan penyintas harus dijaga bersama keselamatan petugas yang mencari mereka.
Pada Jumat, tim juga memulai upaya memindahkan kapal ke perairan lebih dangkal sebelum menegakkannya. Kepala Kantor SAR Banjarmasin, I Putu Sudayana, menyebut operasi tersebut melibatkan pemilik kapal, Basarnas, TNI AL, dan polisi perairan. Delapan kapal dan dua helikopter dikerahkan untuk mencari korban di permukaan. Dua wakil keluarga ikut mendekati lokasi agar dapat melihat langsung kondisi pencarian.
Setelah Pencarian, Harus Ada Jawaban
Bagi keluarga, pertanyaan terdekat adalah di mana orang yang mereka tunggu. Bagi publik, ada pertanyaan berikutnya, apakah keputusan berlayar, kesiapan kapal, daftar orang di dalamnya, dan prosedur evakuasi telah memenuhi standar keselamatan?
Itu adalah pertanyaan investigasi, bukan kesimpulan bahwa pelanggaran telah terjadi. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penyebab kecelakaan masih diselidiki. Presiden Prabowo Subianto juga menyatakan pemerintah akan menginvestigasi kecelakaan ini. Temuannya perlu dibuka dengan jelas, termasuk langkah untuk mencegah kejadian serupa.
Indonesia bergantung pada kapal untuk menghubungkan pulau dan kota. Penumpang membeli tiket dengan harapan perjalanan berakhir di pelabuhan tujuan. Karena itu, keselamatan tidak boleh berhenti sebagai janji sesudah kecelakaan.
Pagi ini, pencarian 126 orang masih menjadi prioritas. Keluarga mereka membutuhkan kabar yang akurat dan terus diperbarui. Sesudahnya, mereka juga berhak mendapatkan jawaban tentang apa yang terjadi di laut. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.