Anak Muda Mencari Bantuan Kesehatan Mental, Akses Masih Terbatas

Ilustrasi konsultasi kesehatan mental. Keberanian mencari bantuan perlu disambut layanan yang mudah dijangkau dan menjaga privasi. Foto: Polina Zimmerman/ Pexels.

MEMBUKA ruang percakapan tentang kesehatan mental adalah satu langkah. Mendapatkan bantuan ketika membutuhkannya adalah langkah berikutnya. Jarak antara keduanya masih menjadi pekerjaan besar bagi Indonesia.

Pada Hari Kesehatan Mental Sedunia, Sabtu (10/10/2026), persoalan itu layak menjadi perhatian. Anak muda membutuhkan lebih dari ajakan untuk bercerita. Mereka perlu tahu ke mana harus datang, bagaimana mendapatkan pertolongan, dan apakah ruang tersebut aman untuk membuka persoalan pribadi.

Kabar terbaru menunjukkan adanya pergerakan. Laporan Navigating Indonesia’s Mental Health Landscape 2026 dari Halodoc, yang diperkenalkan Kamis (8/10), mencatat pertumbuhan konsultasi kesehatan mental sebesar 8,1% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sebanyak 90,7% pengguna layanan tersebut berusia 18–34 tahun.

Angka itu memperlihatkan aktivitas pencarian bantuan di satu platform. Namun, belum bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa akses kesehatan mental seluruh anak muda Indonesia sudah membaik.

Keberanian yang Perlu Disambut

Psikolog klinis Miki Amrilya Wardati menekankan bahwa keputusan berkonsultasi merupakan langkah mencari pertolongan. Dalam acara tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya mengenali perubahan emosi dan perilaku sejak dini.

“Konsultasi ke psikolog atau psikiater bukan tanda kita kalah dengan situasi,” kata Miki, sebagaimana diberitakan ANTARA, Jumat (9/10).

Baca juga: 5 Cara Kreatif untuk Menjaga Kesehatan Mental di Akhir Pekan

Pesan itu penting di tengah kebiasaan menilai persoalan mental lewat ukuran ketangguhan pribadi. Respons seperti menyuruh seseorang lebih kuat dapat membuat percakapan berhenti sebelum kebutuhannya dipahami.

Bagi sekolah, kampus, dan tempat kerja, ajakan untuk terbuka perlu diikuti jalur bantuan yang jelas. Siapa yang bisa dihubungi. Bagaimana kerahasiaannya dijaga. Apa langkah selanjutnya jika seseorang membutuhkan penanganan profesional?

Tanpa jawaban praktis, kampanye kepedulian berisiko berhenti di poster dan unggahan.

Kebutuhan Besar, Pemanfaatan Layanan Rendah

Gambaran nasional pernah ditunjukkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey atau I-NAMHS, yang dipublikasikan pada 2022. Survei pada remaja usia 10–17 tahun itu menemukan satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Satu dari dua puluh mengalami gangguan mental. Kedua kategori tersebut berbeda.

Peneliti utama I-NAMHS, Prof. dr. Siswanto Agus Wilopo dari Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa gangguan mental dapat menimbulkan kesulitan dalam menjalankan keseharian.

Survei yang sama mencatat hanya 2,6% remaja dengan masalah kesehatan mental menggunakan layanan kesehatan mental atau konseling dalam 12 bulan terakhir. Siswanto menilai pemanfaatan tersebut masih sangat kecil dibanding kebutuhan bantuan.

Baca juga: Gen Z dan Tren Digital Detox untuk Kesehatan Mental

Data 2022 ini merupakan pijakan historis, bukan potret terbaru 2026. Kelompok usia dan cakupannya juga berbeda dari data Halodoc. Karena itu, keduanya tidak bisa disambungkan menjadi satu tren nasional.

Namun, temuan tersebut meninggalkan pertanyaan penting: seberapa jauh sistem bantuan mampu menjangkau mereka yang belum datang?

Mendengar, Lalu Membenahi

Tema WHO tahun ini, Lived experiences heard: real voices, real change, menempatkan pengalaman orang yang menghadapi persoalan kesehatan mental sebagai bagian penting dalam penyusunan layanan dan kebijakan. Mereka perlu dilibatkan dalam keputusan yang memengaruhi hidupnya.

Bagi Indonesia, arah itu membuka agenda konkret. Dengarkan pengalaman mencari bantuan. Bagian mana yang membingungkan, apa yang membuat seseorang menunda, dan dukungan seperti apa yang dibutuhkan agar penanganan bisa berlanjut.

Baca juga: Jangan Dianggap Capek Biasa, Ini 5 Sinyal Mentalmu

Sekolah dan kampus dapat memulai dengan memperjelas jalur konseling. Tempat kerja perlu memastikan pengaduan tidak menjadi bahan mempermalukan pekerja. Penyedia layanan perlu menjelaskan proses, biaya, dan batas kerahasiaan secara mudah dipahami.

Ukuran keberhasilan akhirnya ada pada pengalaman orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika seorang anak muda berkata, “Saya butuh bantuan,” adakah seseorang yang mendengar, dan jalur layanan yang benar-benar bisa ia tempuh? ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *