
BARU beberapa detik membuka media sosial, sudah muncul seseorang yang mengaku menghasilkan jutaan rupiah hanya dari ponsel. Ada tangkapan layar saldo, notifikasi transaksi, dan cerita bagaimana hidupnya berubah setelah mencoba bisnis digital.
Modalnya disebut kecil. Pekerjaannya bisa dilakukan dari rumah. Tidak perlu pengalaman khusus. Bahkan, ada yang mengklaim cukup meluangkan satu atau dua jam sehari.
Lalu muncul kalimat yang membuat orang berhenti menggulir layar, kalau orang lain bisa, kenapa kamu tidak?
Tawaran seperti ini memang menggoda. Apalagi ketika penghasilan bulanan terasa semakin cepat habis, sementara kebutuhan terus bertambah. Mencari pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar keinginan. Bagi sebagian anak muda, itu sudah menjadi kebutuhan.
Masalahnya, tidak semua cerita sukses memperlihatkan keseluruhan cerita. Ada biaya yang tidak disebutkan, waktu yang tidak dihitung, dan kegagalan yang jarang mendapat tempat di layar.
Saldo Besar Belum Tentu Keuntungan
Salah satu kekuatan konten pamer penghasilan terletak pada angka. Penghasilan Rp5 juta, Rp10 juta, atau puluhan juta rupiah terlihat meyakinkan ketika disertai tangkapan layar transaksi.
Namun, ada perbedaan mendasar antara omzet, pendapatan, dan keuntungan bersih.
Seseorang mungkin mencatat penjualan Rp10 juta. Tetapi, berapa biaya iklan yang dikeluarkan. Berapa harga produk yang harus dibeli. Apakah ada biaya langganan aplikasi, komisi pihak lain, atau transaksi yang akhirnya dibatalkan?
Tanpa informasi tersebut, angka penjualan belum menjelaskan berapa uang yang benar-benar dibawa pulang.
Baca juga: Gen Z Amerika Rela Utang Demi Konten Mewah Palsu
Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat atau Federal Trade Commission (FTC) mengingatkan bahwa klaim penghasilan dalam peluang bisnis harus didukung bukti yang dapat dipercaya.
Dalam panduan mengenai pemasaran berjenjang, FTC menekankan bahwa penilaian penghasilan perlu memperhitungkan pendapatan sekaligus pengeluaran peserta. Testimoni orang yang memperoleh penghasilan besar juga tidak otomatis menggambarkan hasil yang lazim dicapai peserta lainnya.
Panduan tersebut memang berlaku dalam konteks pengawasan Amerika Serikat. Namun, prinsipnya relevan bagi siapa pun yang sedang menilai tawaran penghasilan digital: jangan hanya melihat uang yang masuk, tetapi juga uang yang keluar.
Ketika Cerita Sukses Menjadi Alat Penjualan
Konten penghasilan tidak selalu dibuat untuk berbagi pengalaman. Sebagian merupakan bagian dari strategi pemasaran.
Misalnya, seseorang memperlihatkan keberhasilannya memperoleh komisi dari produk digital. Setelah menarik perhatian, ia menawarkan kelas, panduan, atau paket berbayar agar pengikutnya dapat mencoba cara yang sama.
Praktik tersebut tidak otomatis bermasalah. Menjual pelatihan atau memperoleh komisi affiliate merupakan kegiatan bisnis yang sah sepanjang dilakukan secara jujur dan sesuai ketentuan.
Persoalan muncul ketika kepentingan komersial disamarkan sebagai pengalaman pribadi yang sepenuhnya netral.
FTC, melalui panduan keterbukaan bagi influencer, menegaskan pentingnya mengungkap hubungan finansial dengan produk yang dipromosikan. Informasi tersebut membantu konsumen menilai apakah rekomendasi yang mereka lihat memiliki kepentingan bisnis di belakangnya.
Bagi pengguna media sosial, ini berarti satu pertanyaan sederhana menjadi penting. Apakah seseorang sedang membagikan pengalaman, atau sebenarnya sedang menjual sesuatu?
Keduanya bisa terjadi bersamaan. Yang diperlukan adalah keterbukaan.
Yang Gagal Jarang Muncul di Beranda
Ada alasan lain mengapa konten pamer penghasilan terasa begitu meyakinkan.
Media sosial lebih mudah memperlihatkan cerita yang menarik perhatian. Orang yang berhasil memperoleh penghasilan besar memiliki kisah yang layak dipamerkan. Sementara mereka yang hanya mendapat sedikit komisi, tidak balik modal, atau akhirnya berhenti, belum tentu membuat konten tentang pengalamannya.
Akibatnya, penonton bisa memperoleh gambaran yang timpang.
Dalam analisis statistik, persoalan serupa dikenal sebagai survivorship bias, yakni kecenderungan menarik kesimpulan dari kelompok yang terlihat berhasil sambil mengabaikan mereka yang tidak mencapai hasil serupa.
Bayangkan sebuah pelatihan diikuti 1.000 orang. Jika hanya 20 peserta memperoleh penghasilan besar, kisah mereka tetap bisa mendominasi promosi. Padahal, pengalaman 980 peserta lainnya sama pentingnya untuk menilai peluang tersebut.
Angka itu sekadar ilustrasi, bukan data keberhasilan program tertentu.
Karena itu, testimoni yang benar sekalipun belum tentu cukup untuk menjelaskan peluang keberhasilan orang lain.
Waspada Ketika Janji Terlalu Mudah
Risiko menjadi lebih serius ketika promosi tidak lagi sebatas menampilkan keberhasilan, tetapi mulai menjanjikan hasil yang hampir pasti.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berulang kali mengingatkan masyarakat agar memperhatikan dua prinsip sebelum menerima tawaran investasi atau layanan keuangan: legal dan logis.
Legal berarti memastikan pihak yang menawarkan memiliki izin yang sesuai dengan kegiatan usahanya. Logis berarti menilai apakah keuntungan yang dijanjikan masuk akal.
Peringatan itu bukan berarti setiap pekerjaan sampingan digital merupakan investasi. Affiliate, penjualan produk, dan layanan digital memiliki model bisnis yang berbeda.
Baca juga: SEO Tak Lagi Cukup, Kini Ada GEO agar Konten Muncul di Jawaban AI
Namun, kehati-hatian tetap diperlukan, terutama ketika sebuah tawaran meminta pembayaran di muka, menjanjikan penghasilan tanpa usaha berarti, atau lebih menekankan perekrutan peserta baru daripada manfaat produk.
Konteks penipuan digital di Indonesia juga tidak bisa dianggap ringan.
Menurut OJK, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima 608.167 laporan terkait penipuan transaksi keuangan sejak beroperasi pada 22 November 2024 hingga 30 Juni 2026. Dalam periode tersebut, sebanyak 557.751 rekening telah diblokir.
Angka tersebut mencakup berbagai bentuk penipuan transaksi keuangan, bukan khusus kasus affiliate atau penjualan produk digital. Namun, besarnya laporan menunjukkan pentingnya kewaspadaan ketika masyarakat diminta mempercayakan uang melalui transaksi yang belum dipahami.
Jangan Membeli Harapan Tanpa Menghitung Risiko
Mencari tambahan penghasilan tentu bukan kesalahan. Ekonomi digital membuka kesempatan nyata bagi kreator, pekerja lepas, penjual produk, hingga orang yang ingin membangun usaha kecil.
Tetapi peluang yang nyata tidak harus disertai janji bahwa semua orang akan memperoleh hasil yang sama.
Sebelum membeli kelas atau bergabung dengan program penghasilan, cari tahu produk apa yang sebenarnya dijual, siapa pembelinya, berapa biaya yang harus dikeluarkan, dan bagaimana uang dihasilkan.
Periksa pula apakah klaim keberhasilan memiliki bukti yang masuk akal. Jika seseorang menunjukkan pendapatan fantastis, tanyakan apakah angka tersebut merupakan keuntungan bersih dan apakah hasil serupa umum dialami peserta lain.
Baca juga: Konten AI Asal Jadi Terancam Tak Cuan di YouTube
Tidak kalah penting, hindari keputusan terburu-buru hanya karena promosi menyebut kesempatan terbatas atau harga akan segera naik.
Konten pamer penghasilan boleh menjadi inspirasi. Tetapi inspirasi berbeda dengan bukti bahwa sebuah peluang cocok untuk semua orang.
Sebab, di balik layar yang memperlihatkan seseorang sedang menghasilkan uang, mungkin ada produk, kelas, atau keanggotaan yang sedang ditawarkan kepada penontonnya.
Sebelum percaya pada angka penghasilan orang lain, cari tahu dulu apa yang sebenarnya sedang dijual kepada kita. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.