AI Mengubah Pekerjaan, Lulusan Baru Mulai dari Mana?

Ilustrasi wawancara kerja. Perubahan tugas akibat AI menambah tantangan bagi lulusan baru untuk membangun pengalaman. Foto: Anna Shvets/ Pexels.

Pekerjaan pertama menjadi tempat belajar. Ketika sebagian tugasnya bisa dikerjakan AI, kesempatan lulusan baru membangun pengalaman perlu ikut dijaga.

UNTUK mendapat pekerjaan, pelamar diminta punya pengalaman. Untuk mendapat pengalaman, mereka perlu diberi pekerjaan. Kini, kecerdasan buatan atau AI menambah persoalan. Sebagian tugas yang biasa dipercayakan kepada pekerja pemula bisa dikerjakan mesin.

Membuat draf, merangkum dokumen, atau menyiapkan laporan sederhana mungkin terlihat sebagai pekerjaan kecil. Namun, dari tugas semacam itulah seseorang belajar memahami konteks, menerima koreksi, dan mempertanggungjawabkan hasil.

Jika tugas awal berubah, bagaimana lulusan baru mendapatkan kesempatan untuk mulai?

Pertanyaan itu mengemuka dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyoroti kerentanan anak muda yang baru memasuki pasar kerja. Ia menjelaskan bahwa pekerjaan rutin biasanya menjadi pijakan sebelum seseorang naik ke tanggung jawab lebih tinggi. Otomatisasi berpotensi mempersempit jalur tersebut.

Pengalaman Tidak Muncul Seketika

Risikonya lebih jauh daripada persaingan antara manusia dan teknologi. Perusahaan bisa tetap membutuhkan tenaga berpengalaman, sementara kesempatan untuk menjadi tenaga berpengalaman justru berkurang.

Seorang pekerja tidak langsung mampu menilai laporan hanya karena bisa menghasilkan laporan. Ia perlu memahami sumber data, menemukan kesalahan, dan mengetahui kapan sebuah kesimpulan tidak layak digunakan.

Proses belajar itu membutuhkan pekerjaan nyata, pendampingan, dan ruang untuk memperbaiki kekeliruan.

Baca juga: Baru Mau Kerja, AI Sudah Mengubah Syaratnya

Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam menekankan perlunya dukungan pemerintah dan kerja sama dengan perusahaan untuk menyerap lulusan baru. Menurutnya, dukungan tersebut perlu menjadi bagian dari kebijakan ketenagakerjaan yang berkelanjutan.

Artinya, jawaban atas perubahan ini tidak cukup berhenti pada pesan “anak muda harus meningkatkan keterampilan”. Perusahaan juga perlu menjelaskan bagaimana pekerja pemula bisa memperoleh keterampilan yang mereka minta.

Terpapar AI Belum Berarti Kehilangan Kerja

Meski demikian, peringatan tersebut tidak boleh dibaca sebagai kepastian bahwa AI akan menghapus pekerjaan lulusan baru.

Studi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama lembaga riset Polandia, NASK, yang terbit pada Mei 2025 memperkirakan satu dari empat pekerjaan di dunia berpotensi terpapar AI generatif. Pekerjaan administrasi memiliki paparan tertinggi.

Angka itu mengukur potensi perubahan tugas, bukan jumlah orang yang sudah kehilangan pekerjaan. ILO menilai perubahan pekerjaan lebih mungkin terjadi daripada penggantian seluruh pekerjaan, karena keterlibatan manusia masih dibutuhkan.

Baca juga: AI Belum Tentu Mengambil Kerjamu, tapi Bisa Mengubah Nilaimu

Kajian ILO tentang ASEAN pada 2026 juga menemukan bukti yang masih terbatas bahwa AI generatif telah menyebabkan gangguan pasar kerja secara luas. Pekerjaan dalam kelompok dengan paparan tinggi masih tumbuh, meski mulai muncul tanda melemahnya hasil ketenagakerjaan bagi pekerja muda pada sejumlah pekerjaan pemula.

Untuk Indonesia, kehati-hatian ini penting. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen pada Mei 2026. Data tersebut menggambarkan kondisi pasar kerja, tetapi tidak membuktikan bahwa pengangguran disebabkan oleh AI.

Mahir Memakai, Mampu Memeriksa

Peluang tetap terbuka. Presiden Bank Dunia Ajay Banga melihat aplikasi AI yang praktis berpotensi membantu produktivitas dan penciptaan pekerjaan di negara berpendapatan menengah.

Bagi pencari kerja, kemampuan menggunakan AI akan lebih bermakna jika disertai kemampuan memeriksa hasilnya. Portofolio bisa menunjukkan proses. Persoalan yang dihadapi, sumber yang digunakan, bagian yang dibantu AI, serta keputusan yang tetap diambil sendiri.

Baca juga: Pasar Kerja Tertekan, Mengapa Pengangguran Indonesia Tertinggi di ASEAN?

Bagi perusahaan, efisiensi perlu berjalan bersama pembelajaran. Program magang dan posisi pemula membutuhkan mentor, tugas yang berkembang, serta evaluasi yang jelas. Menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan seharusnya juga memberi ruang bagi pekerja baru untuk memahami pekerjaan lebih dalam.

Kampus pun perlu memberi mahasiswa kesempatan mengerjakan persoalan nyata dan menjelaskan alasan di balik hasilnya.

Pekerjaan pertama tidak hanya menghasilkan gaji. Tapi juga membentuk kemampuan yang kelak dibutuhkan perusahaan. Jika kesempatan belajar itu menyusut, dari mana tenaga berpengalaman berikutnya akan datang? ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *