
Risiko pekerjaan hilang akibat AI di negara berkembang lebih rendah dibanding negara maju. Namun, pekerja yang mampu memanfaatkannya bisa menjadi jauh lebih produktif daripada yang tidak.
DUA fresh graduate bisa masuk ke kantor yang sama.
Pekerjaan mereka hampir sama. Keduanya menulis laporan, membaca dokumen, membuat presentasi, dan mengolah informasi.
Bedanya, satu orang menggunakan artificial intelligence atau AI untuk mempercepat pencarian data, menemukan pola, membuat beberapa alternatif, lalu memeriksa hasilnya.
Yang lain mengerjakan semuanya dengan cara lama.
AI mungkin tidak langsung mengambil pekerjaan salah satu dari mereka.
Tetapi teknologi itu bisa mengubah nilai yang mereka tawarkan di tempat kerja.
Baca juga: Baru Mau Kerja, AI Sudah Mengubah Syaratnya
Temuan terbaru Bank Dunia membuat persoalan ini semakin menarik.
Sekitar 4,5 persen pekerjaan di negara berpendapatan rendah dan menengah dinilai terpapar risiko otomatisasi oleh generative AI. Di negara berpendapatan tinggi, angkanya mencapai 14,2 persen.
Artinya, risiko otomatisasi langsung di negara berkembang sekitar tiga kali lebih rendah.
Namun, itu bukan alasan untuk santai.
Peluangnya Justru Hampir Sama
Bank Dunia menemukan sekitar 16,2 persen pekerjaan di negara berkembang berpotensi mendapatkan peningkatan produktivitas berarti dari AI.
Di negara maju, angkanya 18,7 persen.
Jaraknya tidak terlalu jauh.
Di sinilah ceritanya berubah.
Baca juga: Gen Z Mencari Cara Baru untuk Bekerja
Ancaman utama AI bagi banyak pekerja di negara berkembang mungkin bukan besok pagi kehilangan pekerjaan karena digantikan mesin.
Perubahannya bisa datang lebih pelan.
Standar kerja meningkat.
Pekerjaan yang dahulu membutuhkan beberapa jam dapat selesai lebih cepat. Analisis dapat dilakukan lebih luas. Presentasi dibuat lebih cepat. Informasi dapat diperiksa dalam jumlah lebih banyak.
Ketika sebagian pekerja mampu menggunakan AI untuk melakukan itu, perusahaan memiliki pembanding baru.
Nilai seorang pekerja akhirnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang bisa dikerjakan, tetapi juga seberapa efektif ia mengerjakannya.
Indonesia Tidak Mulai dari Nol
Indonesia sebenarnya sudah termasuk pengguna generative AI yang aktif.
Bank Dunia mencatat lebih dari 40 persen trafik global ChatGPT pada pertengahan 2025 berasal dari negara berpendapatan menengah, dengan Brasil, India, Indonesia, dan Vietnam sebagai beberapa pasar yang menonjol. Lowongan yang meminta keterampilan generative AI juga meningkat cepat di kelompok negara tersebut.
Namun, memakai chatbot belum otomatis membuat seseorang lebih bernilai di dunia kerja.
Yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan membuat prompt.
Pekerja tetap harus memahami bidangnya agar dapat membedakan jawaban yang benar, keliru, dangkal, atau tidak sesuai konteks.
AI bisa menyusun laporan.
Tetapi seseorang tetap harus mengetahui apakah laporannya masuk akal.
AI bisa membaca data.
Tetapi manusia tetap harus menentukan pertanyaan apa yang penting.
Tidak Semua Orang Punya Akses yang Sama
Ada persoalan lain.
Manfaat AI membutuhkan listrik, internet, perangkat, kemampuan komputasi, data yang relevan, dan keterampilan digital.
Bank Dunia merangkumnya dalam empat fondasi, yakni connectivity, compute, context, dan competency. Tanpa fondasi tersebut, AI justru berisiko memperlebar kesenjangan antara mereka yang mampu memanfaatkannya dan mereka yang tertinggal.
Baca juga: Anak Muda Ingin Kerja Kreatif, tapi Pintu Masuknya Belum Lebar
Jadi, pertanyaannya bukan lagi sekadar, apakah AI akan mengambil pekerjaan saya?
Pertanyaan yang mungkin lebih relevan adalah apakah pekerjaan saya akan berubah karena orang lain dapat mengerjakannya dengan lebih baik menggunakan AI?
AI belum tentu menghilangkan pekerjaan dalam waktu dekat.
Tetapi ia sudah mulai mengubah cara kemampuan manusia dibandingkan.
Dan di dunia kerja baru, menjaga pekerjaan saja mungkin tidak cukup.
Yang perlu dijaga adalah tetap bernilai di dalamnya.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.