Niat Kurangi Gula, Klaim Stevia Malah Jadi Sorotan

Ilustrasi penggunaan pemanis tambahan pada kopi. BPOM sedang memeriksa kesesuaian kandungan, label, dan iklan produk stevia tetes. Foto:  Towfiqu barbhuiya/ Pexels. 

JAKARTA, mulamula.id – Mengurangi gula dalam kopi atau teh menjadi pilihan untuk mengubah kebiasaan sehari-hari. Pemanis stevia tetes menawarkan kepraktisan. Namun, polemik Beeru Stevia mengingatkan bahwa keputusan membeli juga bergantung pada satu hal penting, apakah informasi produk bisa dipercaya?

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sedang menguji sampel Beeru Stevia setelah muncul dugaan kandungan produk tidak sesuai informasi yang dicantumkan. Hingga keterangan pada Selasa (3/11/2026), hasil pemeriksaan tersebut belum diumumkan.

Kepala BPOM Taruna Ikrar juga menyatakan akan mengundang pemengaruh Dokter Detektif atau Doktif untuk mengklarifikasi data pengujian yang dibagikannya. Pemeriksaan ini menjadi perkembangan terbaru dari polemik produk pemanis tersebut.

Dugaan Masih Diperiksa

Menurut laporan ANTARA, Doktif memublikasikan hasil uji laboratorium mandiri yang disebut menunjukkan keberadaan sukralosa, neotam, serta kalori yang tidak tercantum dalam informasi produk. Pernyataan itu masih perlu dibedakan dari hasil pemeriksaan resmi BPOM.

Taruna mengatakan lembaganya akan meminta penjelasan mengenai asal data, laboratorium penguji, dan sampel yang digunakan. Artinya, informasi yang beredar masih melalui proses klarifikasi dan pengujian.

Baca juga: Indonesia Urutan 5 Dunia, Diabetes Makin Muda

Bagi konsumen, perbedaan status informasi ini penting. Unggahan hasil pengujian dapat memicu pemeriksaan lebih lanjut, tetapi kesimpulan mengenai kesesuaian produk tetap perlu menunggu hasil pengawasan. Dugaan ketidaksesuaian label juga belum berarti produk telah dinyatakan berbahaya oleh BPOM.

Penjualan Dihentikan Sementara

Manajemen Beeru Indonesia telah menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul. Dalam pernyataan melalui akun Instagram resminya pada Jumat (30/10/2026), perusahaan menyatakan melakukan pengujian ulang bersama pihak terkait.

Sampel yang diuji berasal dari produk yang beredar di pasaran serta stok perusahaan. Menurut manajemen, langkah tersebut ditujukan untuk memverifikasi kembali kandungan nutrisi dan kesesuaiannya dengan informasi nilai gizi pada kemasan.

“Selama verifikasi berlangsung, seluruh penjualan Beeru Stevia dihentikan sementara,” demikian pernyataan manajemen.

Perusahaan saat itu memperkirakan pengujian independen membutuhkan waktu hingga tujuh hari kerja. Perkiraan tersebut merupakan keterangan perusahaan mengenai proses pengujiannya sendiri.

Alami Tetap Beraturan

Dalam penjelasan publik yang dipublikasikan pada 3 November, BPOM menerangkan bahwa glikosida steviol merupakan pemanis alami dari tanaman Stevia rebaudiana. Tingkat kemanisannya mencapai 200-300 kali gula atau sukrosa.

Penggunaan bahan tambahan pangan tetap harus mengikuti ketentuan mengenai jenis, batas maksimum, kategori pangan, serta pelabelan. Ketentuan ini berlaku untuk pemanis alami maupun pemanis buatan.

Baca juga: Minuman Manis Belum Dicukai, Siapa Menanggung Biayanya?

Karena itu, persoalan yang perlu dijawab melalui pemeriksaan adalah kesesuaian kandungan dan informasi produk dengan persyaratan yang berlaku. Label “alami” sendiri tidak menghapus kewajiban produsen untuk memenuhi ketentuan tersebut.

BPOM menyatakan sanksi dapat diberikan apabila ditemukan pelanggaran. Bentuknya bergantung pada jenis, tingkat, dan risiko pelanggaran, termasuk kemungkinan penarikan produk hingga pencabutan izin edar.

Baca Sebelum Meneteskan

Sambil menunggu hasil pemeriksaan, konsumen dapat mencermati komposisi, informasi nilai gizi, dan petunjuk penggunaan pada kemasan. BPOM mengimbau penggunaan pemanis sesuai petunjuk, tidak berlebihan, serta mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing.

Pemeriksaan Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa atau CEK KLIK juga dianjurkan sebelum membeli maupun mengonsumsi pangan olahan.

Baca juga: Label Gizi Berubah, BPOM Perkenalkan Nutri-Level di Kemasan Depan

Polemik ini memperlihatkan betapa pentingnya informasi kemasan dalam keputusan sehari-hari. Konsumen yang ingin mengurangi gula membutuhkan keterangan yang jelas untuk menentukan pilihannya.

Bagi produsen, kepercayaan itu menuntut keterbukaan mengenai isi produk dan hasil verifikasi. Bagi pembaca, langkah paling masuk akal adalah mengikuti perkembangan pemeriksaan sambil tetap teliti membaca apa yang dibeli. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *