
Mulamula.id – Artificial Intelligence (AI) tidak lagi berkembang pelan. Tapi, berlari. Dari sekadar chatbot yang bisa diajak ngobrol, kini sistem kecerdasan buatan mampu menulis kode kompleks, membantu riset ilmiah, sampai menyelesaikan persoalan matematika tingkat tinggi.
Dan menurut Sam Altman, kita mungkin hanya selangkah dari lompatan terbesar, AGI.
CEO OpenAI itu menyebut kecerdasan buatan setara manusia terasa sudah cukup dekat. Pernyataan itu ia sampaikan dalam forum India-AI Impact 2026.
Kalimatnya sederhana. Dampaknya tidak.
Berbeda dari AI
AGI atau Artificial General Intelligence berbeda dari AI yang kita kenal hari ini. AI sekarang masih spesialis. AI pintar untuk tugas tertentu. Merangkum teks. Membuat gambar. Menyusun kode.
AGI adalah mesin serbabisa.
Baca juga: Ketika AI Salah, Siapa yang Bertanggung Jawab?
AGI bisa belajar sendiri. Merencanakan strategi. Memecahkan masalah baru lintas bidang tanpa perlu diprogram satu per satu. Daya nalarnya setara manusia secara umum.
Inilah yang sering disebut sebagai “holy grail” industri teknologi.
Lompatan yang Tak Lagi Linear
Altman mengajak publik menoleh ke enam tahun lalu. Pada 2020, gagasan soal mesin yang mampu melakukan riset sains baru secara mandiri terdengar seperti fiksi. Sistem yang bisa beroperasi layaknya dokter atau ilmuwan dianggap mustahil.
Hari ini, sebagian kemampuan itu mulai nyata.
Baca juga: Apa Istimewanya AI.com sampai Dibeli Rp 1,1 Triliun?
Model AI terbaru mampu menganalisis data medis, merancang eksperimen, hingga menghasilkan hipotesis penelitian. Perkembangannya bukan pelan dan bertahap.
AI eksponensial. Artinya, lompatan berikutnya bisa jauh lebih besar dari yang kita duga.
Setelah AGI, Superintelijen?
Yang membuat pernyataan ini makin panas, Altman juga menyinggung soal Artificial Superintelligence (ASI).
Jika AGI setara manusia, ASI melampaui manusia.
Baca juga: ASEAN vs Deepfake, Indonesia Dorong Aturan Bersama Lawan Manipulasi AI
ASI bisa lebih cepat, lebih dalam, dan mungkin lebih strategis daripada gabungan ilmuwan paling jenius sekalipun. Dan menurut Altman, jaraknya tidak sejauh yang orang kira.
Fase “takeoff” AI bisa datang lebih cepat dari prediksi awal.
Generasi yang Paling Terdampak
Bagi Gen Z, ini bukan cerita masa depan yang jauh. Mahasiswa hari ini bisa lulus ke dunia kerja yang sudah ditemani AGI. Profesi kreatif, hukum, kesehatan, teknologi, semuanya berpotensi berubah.
AI bukan cuma alat bantu. AI bisa menjadi kolaborator. Bahkan kompetitor.
Baca juga: AI, Suka tidak Suka Harus Kita Sukai
Jika mesin mampu berpikir seperti manusia, pertanyaan berikutnya bukan lagi “bisa atau tidak”. Tapi “siapa yang paling cepat beradaptasi”.
Revolusi ini tidak lagi mengetuk pintu. Tapi, sudah masuk ke ruang kerja.
Dan mungkin, ke ruang kuliah. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.