
Anak yang Terlalu Cepat Mengerti
IA masih anak sekolah dasar.
Usianya seharusnya diisi oleh rasa ingin tahu, coretan pensil, dan pertanyaan-pertanyaan kecil tentang dunia. Tapi pada satu titik, ia memahami sesuatu yang terlalu berat, ibunya tak mampu membeli buku dan pulpen yang ia butuhkan untuk sekolah.
Pemahaman itu tidak datang sebagai amarah. Tapi, datang sebagai diam.
Dan diam itulah yang akhirnya merenggut nyawa.
Kita membaca beritanya dengan tercekat. Lalu layar ponsel berganti. Tapi bagi seorang anak, satu kenyataan sederhana bisa terasa mutlak, aku adalah beban.
Ketika Sekolah Tak Lagi Menjadi Ruang Aman
Sekolah sering kita bayangkan sebagai ruang yang netral. Tempat semua anak datang setara, membawa mimpi yang sama. Tapi bagi sebagian anak, sekolah juga bisa menjadi ruang perbandingan yang sunyi. Siapa punya buku baru, siapa punya pulpen lengkap, siapa yang harus menunduk karena tak membawa apa-apa.
Baca juga: Aksara | Ketika Angka Tak Lagi Tenang
Tak ada niat melukai.
Tak ada suara yang sengaja meninggikan beban.
Tapi sistem kadang bekerja tanpa empati.
Ketika kebutuhan paling dasar tak terpenuhi, pendidikan berhenti menjadi hak. Berubah menjadi tekanan yang tak terucap.

Diam yang Terlalu Berat
Anak-anak jarang datang dengan keluhan yang rapi. Mereka tidak menulis surat resmi tentang kesulitan hidup. Mereka menyimpan beban dengan caranya sendiri. Dalam diam, dalam penarikan diri, dalam keyakinan keliru bahwa mereka harus menyelesaikan semuanya sendirian.
Baca juga: Aksara: Ketika Bencana Tak Lagi Mengejutkan
Di sinilah kita sering terlambat.
Bukan karena tidak peduli, tetapi karena terlalu sibuk mendengar suara yang keras, hingga tak lagi peka pada yang terdiam.
Pelajaran yang Tak Pernah Diajarkan
Tragedi ini bukan sekadar kisah duka. Itu adalah pertanyaan yang menampar pelan, sejauh mana kita benar-benar memahami pendidikan sebagai ruang yang memanusiakan?
Literasi bukan hanya soal membaca buku. Tapi, juga tentang kemampuan membaca tanda-tanda rapuh di sekitar kita. Tentang keberanian untuk bertanya lebih dulu sebelum menilai. Tentang memastikan tak ada anak yang merasa hidupnya terlalu mahal hanya karena selembar buku.
Baca juga: Aksara: Menghafal Ulang Dunia
Mungkin kita tak bisa mengubah semuanya sekaligus.
Tapi kita bisa mulai dengan satu hal sederhana, memastikan tak ada anak yang merasa sendirian menghadapi kemiskinan yang bukan pilihannya.
Karena tidak seharusnya ada anak yang berpikir bahwa ketidaksanggupan orang tuanya adalah kesalahannya. ***
Salam literasi.
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA