Aksara | Ketika Angka Tak Lagi Tenang

Membaca kabar di layar kecil, sementara dunia di luar tetap berjalan. Foto: Ilustrasi/ Yesid Valencia/ Pexels.
Grafik yang Mendadak Merah

TIDAK semua orang mengerti istilahnya. Trading halt. Rebalancing indeks. Pandangan diturunkan. Tapi banyak yang langsung mengerti rasanya, tegang.

Angka-angka di layar bergerak cepat. Grafik berubah merah. Berita ekonomi yang biasanya terasa jauh, mendadak terasa dekat. Seolah ada sesuatu yang besar sedang bergeser, dan kita hanya bisa menonton dari balik layar ponsel.

Kita mungkin tidak punya saham. Tidak rutin memantau indeks. Tapi, kita hidup di dunia yang saling terhubung. Ketika pasar bergetar, rasa aman ikut bergetar.

Cemas yang Tak Punya Bentuk

Kecemasan ekonomi jarang datang dengan suara keras. Tidak seperti hujan badai atau gempa yang mengguncang tanah. Biasanya datang pelan, lewat notifikasi, potongan berita, dan percakapan yang mendadak dipenuhi istilah keuangan.

Baca juga: Aksara: Ketika Bencana Tak Lagi Mengejutkan

Kita mendengar tentang indeks yang jatuh, lembaga global yang menurunkan pandangan, pejabat yang mundur. Kita tidak selalu paham detailnya, tapi tubuh kita merespons. Ada rasa tidak pasti. Ada pertanyaan yang tak terucap, apakah semuanya akan baik-baik saja?

Di sinilah literasi diuji. Bukan sekadar kemampuan membaca angka, tetapi kemampuan menahan diri dari panik yang menular.

Ketika Kepastian Terasa Rapuh

Pasar yang turun bukan hanya soal angka yang berkurang. Ini menggoyahkan sesuatu yang lebih halus, rasa stabil. Kita terbiasa hidup dengan keyakinan bahwa sistem berjalan, bahwa ada yang mengatur, bahwa esok kurang lebih akan mirip hari ini.

Baca juga: Aksara: Menghafal Ulang Dunia

Ketika grafik berayun tajam dan kabar pengunduran diri datang beruntun, yang terasa bukan hanya perubahan struktural, tetapi retakan kecil pada rasa percaya. Dunia terasa sedikit lebih goyah, meski langit di atas kita tetap biru.

Belajar Tenang di Tengah Angka

Aksara tidak mengajak kita menutup mata. Justru sebaliknya, melihat dengan lebih utuh. Tidak menelan kabar mentah-mentah, tidak pula tenggelam dalam ketakutan yang dibesar-besarkan.

Ada ruang di antara tahu dan panik. Di situlah literasi bekerja. Membaca lebih dalam, mencari konteks, memahami bahwa pasar bergerak dalam siklus, dan bahwa kecemasan kolektif sering kali lebih cepat menyebar daripada penjelasan yang jernih.

Baca juga: Aksara: Kita Banyak Bicara tentang Kebenaran, Sedikit yang Mencarinya

Mungkin kita tak bisa mengendalikan grafik di bursa. Tapi, kita masih bisa merawat cara kita meresponsnya. Tidak ikut menyebarkan kepanikan, tidak memperkeruh ketidakpastian, dan memberi diri sendiri waktu untuk memahami sebelum bereaksi.

Karena di dunia yang serba cepat, ketenangan justru menjadi bentuk kecerdasan yang paling sunyi. ***

Salam literasi.

Catatan Redaksi
  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *