Aksara: Kita Banyak Bicara tentang Kebenaran, Sedikit yang Mencarinya

Di tengah kebisingan opini, kebenaran sering ditemukan dalam sunyi. oleh mereka yang mau berhenti, membaca, dan berpikir. Foto: Ilustrasi/ Efrem Efre/ Pexels.
Kebenaran yang Terlalu Mudah Diucapkan

HARI ini, kata kebenaran diucapkan begitu sering.
Di linimasa. Di kolom komentar. Di ruang diskusi.

Semua merasa memilikinya.
Semua yakin sedang membelanya.

Namun semakin sering kebenaran disebut, semakin jarang kebenaran benar-benar dicari.

Antara Klaim dan Pencarian

Berbicara tentang kebenaran itu mudah.
Mencarinya tidak.

Mencari kebenaran butuh waktu.
Butuh membaca lebih dari satu sumber.
Butuh kesabaran untuk menunda kesimpulan.
Dan, yang paling berat, butuh keberanian untuk mengakui kemungkinan salah.

Baca juga: Aksara: Hari Pertama Tahun

Di era serba cepat, proses seperti itu terasa melelahkan.
Maka kebenaran pun diperlakukan seperti posisi
dipilih, dibela, lalu dipertahankan, apa pun risikonya.

Kebenaran yang Menjadi Milik

Media sosial mempercepat perubahan itu.
Algoritma menyukai kepastian, bukan keraguan.
Menguatkan keyakinan, bukan pertanyaan.

Akibatnya, kebenaran tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang dicari bersama,
melainkan sebagai sesuatu yang dimiliki dan dijaga mati-matian.

Yang berbeda dianggap ancaman.
Yang bertanya dianggap ragu.
Yang membaca terlalu dalam sering dianggap bertele-tele.

Ketika Membaca Menjadi Langka

Dalam situasi seperti ini, membaca menjadi aktivitas yang kian jarang,
bukan karena tak penting,
melainkan karena tak memberi kepuasan instan.

Membaca mengajarkan satu hal yang tidak disukai dunia cepat,
menunda.

Baca juga: Aksara: Kita Ganti Tahun, tapi Pikiran Tetap Sama

Menunda reaksi.
Menunda penghakiman.
Menunda rasa paling benar.

Padahal justru di sanalah pencarian kebenaran dimulai.

Kebenaran Tidak Pernah Berisik

Kebenaran jarang datang dengan suara paling keras.
Kebenaran tidak selalu viral.
Kebenaran tidak selalu nyaman.

Sering kali, kebenaran hadir pelan,
di halaman yang dibaca tuntas,
di argumen yang dipikirkan ulang,
di kesediaan untuk mendengar sudut pandang lain.

Mencari kebenaran bukan soal memenangkan perdebatan,
melainkan memperluas pemahaman.

Bukan Kekurangan Kebenaran

Mungkin masalah zaman ini bukan kekurangan kebenaran,
melainkan keengganan untuk mencarinya.

Baca juga: Aksara: Dunia yang Mencari Kebenaran di Kolom Komentar

Kita terlalu sibuk membelanya,
terlalu cepat mengklaimnya,
dan terlalu jarang memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja.

Di dunia yang gemar berteriak tentang kebenaran,
membaca adalah bentuk pencarian yang paling sunyi,
dan paling jujur.

Salam literasi.

Catatan Redaksi
  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *