
Informasi di Mana-mana, Kejernihan Menghilang
Kita hidup di zaman yang tidak kekurangan informasi.
Berita datang tanpa diminta. Opini berjejal tanpa henti. Video, potongan klip, dan notifikasi saling berebut perhatian.
Ironisnya, di tengah kelimpahan itu, satu hal justru makin langka, kejernihan.
Bukan karena kita bodoh.
Bukan karena kita malas tahu.
Melainkan karena kita terlalu cepat menerima, mempercayai, dan bereaksi.
Kita membaca sambil lalu.
Menonton sambil menyimpulkan.
Menyerap informasi tanpa sempat mencerna.
Ketika Cepat Mengalahkan Benar
Di media sosial, yang paling cepat sering dianggap paling benar.
Yang viral terasa paling sahih.
Yang emosional terasa paling meyakinkan.
Padahal, kebenaran tidak selalu datang dengan kecepatan.
Kebenaran sering tiba pelan, setelah dibaca utuh, dibandingkan, dan dipikirkan.
Baca juga: Aksara: Semua Ingin Didengar, tapi Sedikit yang Mau Mendengar
Menurut Reuters Digital News Report (2025), lebih dari separuh pengguna internet mengaku merasa kewalahan oleh banjir informasi dan kesulitan membedakan mana yang faktual dan mana yang manipulatif.
Bukan karena informasinya kurang,
tetapi karena waktu untuk berpikir makin tipis.
AI, Algoritma, dan Pikiran yang Tergeser
Kecerdasan buatan mempercepat segalanya.
Ringkasan instan. Rekomendasi otomatis. Jawaban cepat.
Namun kecepatan itu membawa risiko:
pikiran manusia terbiasa menerima tanpa mempertanyakan.
Baca juga: Aksara: Kita Sibuk Melakukan Segalanya, Kecuali Berpikir
Algoritma menyajikan apa yang kita sukai, bukan apa yang kita perlukan.
Ia memperkuat keyakinan, bukan menguji pemahaman.
Akibatnya, kejernihan kalah oleh kenyamanan.
Dan kebingungan dibungkus rapi sebagai kepastian palsu.

Membaca Pelan sebagai Tindakan Melawan Arus
Kejernihan tidak lahir dari menambah informasi.
Kejernihan lahir dari mengurangi kebisingan.
Membaca pelan, membaca utuh, memberi jarak antara kita dan impuls.
Membaca mengajarkan menunda reaksi, menimbang sudut pandang, dan menerima kompleksitas.
Baca juga: Aksara: Dunia yang Mencari Kebenaran di Kolom Komentar
Di dunia yang memuja kecepatan,
membaca pelan terasa seperti kemunduran.
Padahal justru di sanalah kejernihan diselamatkan.
Kembali Merawat Pikiran
Mungkin persoalan zaman ini bukan kurang tahu,
melainkan kurang jernih.
Kita tahu banyak hal,
namun jarang memberi ruang bagi pikiran untuk merapikan makna.
Kejernihan menuntut keberanian untuk berhenti.
Untuk membaca lebih dari judul.
Untuk mendengar lebih dari gema yang menyenangkan.
Baca juga: Aksara: Dunia Semakin Cerdas, Manusia Semakin Mudah Ditipu
Dan untuk mengakui satu hal sederhana,
bahwa tidak semua hal harus segera disimpulkan.
Kejernihan adalah Keterampilan
Di era banjir informasi,
kejernihan adalah keterampilan bertahan hidup.
Kejernihan tidak datang dari layar yang lebih terang,
tetapi dari pikiran yang diberi waktu.
Membaca, dengan sabar dan jujur,
adalah cara paling sunyi untuk menjaga kejernihan itu tetap hidup.
Salam literasi.
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu: membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA