Dana Iklim Naik, tapi Kenapa Warga Masih Rentan Banjir dan Kekeringan?

Dana iklim global meningkat setiap tahun. Tapi di banyak daerah, warga masih harus menghadapi banjir dan cuaca ekstrem dengan perlindungan yang terbatas. Foto: Dok. Polda Aceh.

DUNIA sedang ramai bicara soal dana iklim. Angkanya besar. Pemerintah, bank, dan investor swasta mengucurkan miliaran dolar untuk energi bersih, mobil listrik, dan teknologi rendah karbon.

Sekilas terlihat seperti kabar baik.

Tapi, ada satu fakta yang bikin kita perlu berhenti sejenak. Hanya sekitar 7,4 persen dari total pendanaan iklim global yang dipakai untuk membantu masyarakat beradaptasi menghadapi dampak perubahan iklim.

Artinya, sebagian besar dana justru mengalir untuk mengurangi emisi, bukan untuk melindungi warga dari banjir, kekeringan, atau gelombang panas yang sudah terjadi sekarang.

Energi Bersih Dapat Porsi Besar

Proyek energi surya, turbin angin, hingga kendaraan listrik dianggap lebih menarik bagi investor. Kenapa? Karena ada potensi keuntungan yang jelas.

Listrik bisa dijual. Teknologi bisa dipasarkan. Arus kasnya terukur.

Baca juga: Mesir Kunci Dana Iklim Rp11,7 Triliun

Sebaliknya, proyek adaptasi seperti sistem peringatan dini banjir, penguatan tanggul, atau perencanaan kekeringan jarang menghasilkan keuntungan langsung. Dampaknya besar untuk keselamatan publik, tapi tidak selalu “bankable”.

Di sinilah masalahnya.

Ketika pendanaan iklim sangat bergantung pada pinjaman dan logika pasar, proyek yang menghasilkan uang akan lebih dulu diprioritaskan.

Risiko Makin Nyata

Sementara itu, dampak iklim makin terasa. Banjir pesisir, gagal panen, hingga krisis air bersih bukan lagi ancaman masa depan. Itu sudah terjadi di banyak wilayah, termasuk Indonesia.

Jika perlindungan lemah, satu bencana bisa berubah menjadi krisis panjang. Ekonomi lokal terganggu. Utang publik naik. Warga kehilangan mata pencaharian.

Baca juga: Uang Mengalir ke Alam, Bank Dunia Siapkan Miliaran Dolar untuk Iklim

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Agricultural Ecology and Environment menunjukkan bahwa meski total dana iklim naik tajam sejak 2018, dukungan untuk adaptasi masyarakat masih jauh tertinggal.

Laporan Global Landscape of Climate Finance bahkan menyebut pendanaan tahunan global perlu naik sekitar lima kali lipat agar target Perjanjian Paris bisa tercapai.

Masalahnya bukan cuma soal jumlah. Tapi juga arah aliran dana.

Indonesia Termasuk Negara Rentan

Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kita punya garis pantai panjang, kota pesisir padat, dan sektor pertanian yang sensitif terhadap cuaca ekstrem.

Kalau dana global lebih banyak ke mitigasi, Indonesia perlu pintar merancang kebijakan agar adaptasi tidak tertinggal.

Artinya, proyek perlindungan pesisir, sistem pangan tahan iklim, dan infrastruktur tangguh bencana harus dipandang sebagai investasi, bukan sekadar biaya.

Baca juga: Kota Jadi Garda Depan Perang Iklim Dunia

Karena pada akhirnya, energi bersih memang penting. Tapi ketahanan warga tidak kalah penting.

Dana iklim boleh naik. Tapi tanpa keberpihakan pada adaptasi, masyarakat tetap berdiri di garis depan krisis. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *