Grup Chat Gelap Menyasar Anak, Densus 88 Bongkar Jejak Radikalisasi Digital

Aktivitas anak mengakses ponsel di ruang privat. Paparan konten digital tanpa pendampingan menyimpan risiko tersembunyi. Foto: Ilustrasi/ Towfiqu barbhuiya/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id Ruang digital tak selalu aman. Di balik layar ponsel, ancaman bisa menyusup pelan-pelan. Kali ini, aparat membongkar sebuah grup chat internasional yang menargetkan anak-anak dan remaja.

Satuan antiteror Polri mengungkap keberadaan True Crime Community, sebuah komunitas daring yang menyebarkan paham ekstrem dan glorifikasi kekerasan. Grup ini bukan kecil. Jaringannya bercabang ke puluhan grup lain yang masih aktif. Di Indonesia saja, ada 70 anak yang teridentifikasi terpapar.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan temuan ini dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (7/1). Ia menyebut pola paparan ini berbahaya karena terjadi di usia yang masih sangat rentan.

Tanda-tanda yang Sering Terlewat

Menurut Densus 88, ada sejumlah ciri yang kerap muncul pada anak yang mulai terpapar paham ekstrem. Ciri ini sering dianggap “fase biasa”, padahal bisa menjadi alarm dini.

Pertama, munculnya simbol-simbol ekstrem di gawai atau barang pribadi. Mulai dari logo white supremacy, neo-Nazi, hingga nama pelaku kekerasan yang dijadikan tokoh idola.

Baca juga: Australia Larang Remaja di Bawah 16 Tahun Akses Media Sosial

Kedua, anak menarik diri dari pergaulan. Mereka merasa lebih “nyaman” di komunitas daringnya. Waktu dihabiskan berjam-jam di kamar, tenggelam dalam grup chat tertutup.

Ketiga, muncul perilaku meniru idola ekstrem. Bukan sekadar gaya berpakaian, tapi juga cara bicara, unggahan media sosial, hingga “cosplay” aksi kekerasan. Densus 88 mencontohkan insiden di SMAN 72 Jakarta, di mana pelaku meniru figur ekstrem dari luar negeri, lengkap dengan replika senjata dan simbol visual.

Keempat, anak mulai kecanduan konten sadis dan kekerasan. Konten yang bagi orang lain terasa mengerikan, justru dikonsumsi berulang tanpa empati.

Baca juga: Pagi Ini Timeline Sepi, Australia Mulai Nonaktifkan Jutaan Akun Remaja

Kelima, reaksi marah berlebihan saat ponsel diperiksa. Gawai dianggap wilayah privat yang tak boleh disentuh siapa pun. Saat diinspeksi, responsnya bisa agresif.

Terakhir, muncul ketertarikan pada simbol fisik kekerasan. Mulai dari replika pistol, pisau, hingga atribut yang identik dengan aksi brutal, bahkan dibawa ke sekolah sebagai “inspirasi”.

Peran Orang Tua Jadi Kunci

Densus 88 menegaskan, grup seperti True Crime Community masih aktif. Artinya, risiko paparan belum berhenti. Karena itu, peran orang tua menjadi sangat krusial.

Baca hjuga: Indonesia, “Raja Hacker” Baru di Internet Dunia

Mayndra meminta orang tua tidak panik, tapi hadir dan membimbing. Jika menemukan grup atau konten serupa di gawai anak, segera ajak bicara. Berikan pemahaman bahwa komunitas tersebut berbahaya dan mengarah pada kekerasan.

Di era algoritma dan ruang obrolan tertutup, pengawasan bukan berarti memata-matai. Ini soal memastikan anak tumbuh aman, kritis, dan tidak terseret ke lorong gelap ekstremisme digital. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *